Kalian Akan Terkesima, Karena Tanpa Wisata Alamnya Pun, Yogyakarta Tetap Menggoda!

Kalau ngomongin Yogyakarta, pertamakali yang terdengar sekarang ini pasti enggak jauh – jauh dari keramaian Jalan Malioboro, cave tubing di Goa Pindul, bertualang di Gua Jomblang atau jelajah pantai selatan Yogyakarta yang elok nan jelita itu. Padahal, sebenarnya Kota Yogyakarta lebih dari sekedar tempat shopping atau wisata alam yang menawan saja loh.

Salah satu candi di Candi Ijo.
Salah satu candi di Candi Ijo.

Percaya atau enggak, Yogyakarta punya lebih banyak dari itu. Memang, dari sisi utara, hingga selatan Yogyakarta juga tidak pernah ada matinya untuk para pecinta sejarah dan budaya. Misalnya saja di Kaliurang yang berada tidak jauh dari lereng Gunung Merapi, terdapat sebuah museum bernama Ullen Sentalu, salah satu museum terbaik di Yogyakarta.

Dikatakan, untuk para penyuka atau yang ingin belajar kebudayaan Jawa lebih dekat, haruslah bertandang ke Museum Ullen Sentalu. Untuk tiketnya sendiri hanya seharga IDR 30.000, dan dengan uang segitu kalian sudah bisa mendapatkan pengetahuan mendetail dan rinci seputar kebudayaan Jawa, koleksi keraton yang eksklusif hingga cerita seputar keluarga Keraton Yogyakarta yang unik nan menarik.

Salah satu area di museum Ullen Sentalu
Salah satu area di museum Ullen Sentalu

Seperti cerita tentang Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang ternyata memiliki nama Belanda Henkie, atau seorang Raden Ayu Kuspariyah yang merupakan ibunda Sunan PB XII ternyata merupakan wanita yang modern dan pandai memainkan piano tidak akan pernah kalian ketahui kecuali mampir ke Museum Ullen Sentalu. Sebagai orang Jawa, kekaguman saya makin bertambah kalau kemudian mengetahui arti dibalik aksara jawa yang ternyata begitu bermakna. Semua itu akan bisa diketahui di museum ini. (Baca Juga : Mesin Waktu Itu Bernama Ullen Sentalu)

Aksara jawa ini ternyata bisa dilafalkan menjadi sebuah kalimat “Hanacaraka, data-sawala, pada jayanya, magha-batanga”. Yang secara terpisah aksara tadi bisa diartikan mulai dari “Ha-Na-Ca-Ra-Ka” yang mengisahkan tentang dua orang sakti, “Da-Ta-Sa-Wa-La” menceritakan kalau keduanya terlibat perselisihan hingga mereka berkelahi. “Pa-Da-Ja-Ya-Nya” menyebutkan kalau keduanya sama – sama sakti, pada kumpulan aksara yang tersisa “Ma-Ga-Ba-Tha-Nga” menceritakan kalau akhirnya dua orang sakti tadi tewas bersama. Jadi, aksara jawa yang terlihat rumit tadi, ternyata memiliki makna yang begitu dalam.

Relief di Museum Ullen sentalu yang mengingatkan kepedulian generasi muda terhadap kebudayaan jawa yang semakin memudar.
Relief di Museum Ullen sentalu yang mengingatkan kepedulian generasi muda terhadap kebudayaan jawa yang semakin memudar.

Terakhir, Jangan sampai lupa untuk mencoba minuman spesial yang disajikan di Museum Ullen Sentalu. Resepnya memang berasal langsung dari Gusti Kanjeng Ratu Mas, permaisuri Sunan PB X. Bisa dibilang ini adalah minuman kerajaan, jadi tidak boleh dilewatkan. Saya tidak tahu isinya dan campurannya apa saja, tetapi rasanya manis dengan rasa Jahe yang kuat. Minuman yang bernama Wedang Ratu Mas, ini dipercaya berkhasiat untuk menjaga kesehatan dan awet muda.

Itu, baru Museum Ullen Sentalu, beranjak sedikit ke tengah kota, kalian bisa menemukan Benteng Vredeburg dengan sejarahnya yang panjang. Selama kurang lebih 2,5 Abad, benteng ini berdiri kokoh di tengah Kota Yogyakarta dan telah menjadi saksi bisu berbagai macam peristiwa bersejarah. Awalnya tugas utama Benteng Vredeburg adalah untuk mengawasi gerak – gerik Keraton Yogyakarta di masa sebelum kemerdekaan. (Baca Juga : Transformasi Sebuah Benteng Vredeburg)

Bagian tengah Benteng Vredeburg yang penuh sejarah.
Bagian tengah Benteng Vredeburg yang penuh sejarah.

Namun pada perjalanannya, Benteng Vredeburg juga pernah menjadi tempat berkuasa sementara Thomas Stamford Raffles pada masa Inggris berkuasa, hingga dimanfaatkan oleh Bangsa Indonesia pada masa Agresi Militer Belanda II (19 Desember 1948). Sekarang, Benteng Vredeburg menjadi museum yang apik dengan berbagai macam diorama menarik yang menceritakan berbagai peristiwa sejarah penting yang terjadi di Yogyakarta.

Beranjak sedikit menjauh dari keramaian Jalan Malioboro, terdapat suasana yang sedikit berbeda. Cukup terkenal dikalangan backpacker, dan mendapat julukan Kampung Turis, ada banyak pengalaman menyenangkan disini. Misalnya seperti kafe hoping, mencicipi kafe dengan menu yang enak dan suasana santai di sepanjang Jalan Prawirotaman I dan II.

Barang antik yang bisa di temui di Prawirotaman.
Barang antik yang bisa di temui di Prawirotaman.

Atau bisa juga blusukan di Pasar Prawirotaman I, kemudian berburu jajanan pasar yang kini kian menghilang dan susah dicari. Penyuka barang antik pasti menganggap Prawirotaman ini sebuah surga. Pasalnya, disini dapat dengan mudah ditemukan toko barang antik, yang merupakan tempat favorit para kolektor.

Namun jangan risih kalau sering ditawari oleh tukang becak yang biasa mengantarkan turis ke Malioboro di sepanjang Prawirotaman ya. Tolak saja secara halus, bilang kalau kalian sedang ingin berjalan keliling Prawirotaman. (Baca Juga : Balada Prawirotaman, Kampung Turis Di Yogyakarta)

Becak terparkir di salah satu sudut jalan Prawirotaman II.
Becak terparkir di salah satu sudut jalan Prawirotaman II.

Terakhir, adalah Candi Ijo, yang namanya tertutup oleh nama besar beberapa destinasi di dekatnya seperti Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko. Sebagai candi yang letaknya paling tinggi di Yogyakarta, candi ini tidak hanya memiliki sisi budaya dan sejarah yang tinggi, tetapi juga memiliki pemandangan yang apik.

Candi Ijo yang tertutup kabut tipis.
Candi Ijo yang tertutup kabut tipis.

Dari Candi Ijo, kalian bisa menikmati lansekap kota Yogyakarta yang membantang luas ke arah barat, dan melebar dari utara ke selatan.  runway Bandara Internasional Yogyakarta Adi Sucipto juga terlihat dari sini, membuat pemandangan semakin apik dan menyenangkan.

Alternatifnya, kalian bisa menikmati detil Candi Ijo yang terdiri dari 17 struktur bangunan dan terbagi  dalam 11 teras berundak ini. Bangunan utama Candi masih terlihat utuh, namun beberapa candi yang terletak dibawah terlihat berantakan, dan bahkan beberapa masih terlihat seperti sedang digali. Pun, berkunjung kesini adalah salah satu kepuasan tersendiri untuk siapapun yang ingin melihat yogyakarta dari sudut pandang yang benar – benar berbeda.

Tips Jelajah Wisata Heritage Dan Wisata Budaya Di Yogyakarta :

  1. Museum Ullen Sentalu bisa dicapai dengan berkendara selama kurang lebih 1-2 jam perjalanan dari yogyakarta. Karena tidak diperbolehkan memotret ketika didalam Museum, pastikan untuk mendengarkan baik baik semua penjelasan pemandu museum. Biasanya datang sekali pasti kurang, karena banyaknya cerita yang bisa didapatkan di museum ini. Jangan lupa juga untuk mampir ke Restoran Beukenhof di penghujung tur museum. Ada banyak penganan enak yang bisa dicoba loh.

    Beukenhof, Restoran Bergaya Eropa Di Yogyakarta
    Beukenhof, Restoran Bergaya Eropa Di Yogyakarta
  2. Tiket masuk Benteng Vredeburg tergolong sangat murah, untuk sebuah museum yang keren. Hanya dengan IDR 2000, kalian bisa banyak belajar mengenai sejarah penting yang terjadi di Kota Yogyakarta. Jangan lupa mampir ke Indische Koffie, cafe dengan desain jadul nan unik yang masih berada di kawasan benteng. Lokasi benteng Vredeburg ini berada di tengah kota, tidak jauh dari Nol Kilometer Yogyakarta.

    Indische Koffie, kafe yang direkomendasikan ketika mampir ke Museum Benteng Vredeburg.
    Indische Koffie, kafe yang direkomendasikan ketika mampir ke Museum Benteng Vredeburg.
  3. Prawirotaman sejatinya dikenal sebagai alternatif tempat menginap yang murah, tetapi dengan suasana yang lebih nyaman. Selain itu lokasi Prawirotaman ini juga cukup strategis untuk menjangkau berbagai destinasi menarik di Yogyakarta. Pagi hari, dan Sore hingga malam hari sangatlah menyenangkan untuk sekedar berjalan kaki disekitar prawirotaman untuk berburu kuliner atau hinggap di salah satu café yang ada dan menghabiskan waktu dengan bersantai.

    Kalian bisa berburu jajanan pasar di pasar tradisional di Prawirotaman.
    Kalian bisa berburu jajanan pasar di pasar tradisional di Prawirotaman.
  4. Untuk masuk ke Candi Ijo sebenarnya tidak ada pungutan tiket, alias gratis. Hanya perlu mengisi buku tamu, dan memberikan sumbangan seikhlasnya kalau mau, untuk konservasi dan perawatan Candi Ijo. Datanglah ketika sunset dan hari yang cerah ke Candi Ijo, untuk mendapatkan pemandangan sunset yang menawan dari Kota Yogyakarta. (Baca Juga : Mengagumi Candi Ijo Sekaligus Lansekap Yogyakarta Dari Ketinggian)

    Pemandangan cantik Yogyakarta yang bisa terlihat dari Candi Ijo.
    Pemandangan cantik Yogyakarta yang bisa terlihat dari Candi Ijo.

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

Yang Banyak Dicari

  • yogyakarta
  • blog ke jogja
  • blog trip jogja
  • jalan jalan ke yogyakarta blog
  • jogja travel blog
About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di [email protected] Cepetan Ga pake lama ya!
38 Responses
  1. Ulen Sentalu kayaknya menarik banget. Udah banyak yang review dan semuanya positif untuk direkomendasikan. Belum ke sini sih. Candi Ijo, baru denger ini. Mindsetnya masih Prambanan sama Borobudur, karena kalau lewat Jogja – Solo cuma untuk transit doang ke Nganjuk :))

  2. wehh ternyata banyak yang tidak saya ketahui tentang jogja,
    Yang pernah saya uplek2 ya cuma candi borobudur,prambanan,parangtritis,pokoknya yang udah akrab dengan telinga banyak orang.
    perlu dicoba ini
    makasih mas fahmi

    kalau solo gimana mas fahmi,saya beberapa kali kesana ada nggak postingannya?

  3. Yusuf Ahmad

    Kalo saya sih waktu SD apa SMP ada pelajaran bahasa Jawa dan nulis Jawa jadi kalau arti cerita itu sudah tahu hehe.

    Anw kok ga ada Raminten ya disitu? *kabur

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: