Kamu pernah ke Candi Ijo di Yogyakarta? Melihat lansekap suatu kota dari ketinggian selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan ketika traveling.
Seperti ketika saya sedang liburan ke Kota Malang, pasti saya akan menyempatkan diri untuk berkunjung ke Payung untuk melihat suasana malam hari Kota Malang dari ketinggian.
Atau ketika sedang berada di Bandung, sebisa mungkin saya akan menyempatkan diri ke Bukit Moko.
Karena itu saya senang sekali begitu tahu kalau di Yogyakarta juga punya tempat untuk menikmati sebagian besar lansekapnya dari ketinggian apalagi disini saya bisa sekaligus menikmati sisa – sisa peradaban Jawa zaman dahulu.
Iya, Yogyakarta punya Candi Ijo yang merupakan salah satu candi tertinggi disana.
Daftar Isi
Sejara Singkat dan Penemuan Candi Ijo

Candi Ijo, juga dikenal dengan sebutan Candhi Ijo, merupakan sebuah kompleks percandian yang memancarkan keindahan dan keagungan Hindu.
Terletak sekitar 4 kilometer arah tenggara dari Candi Ratu Boko, atau sekitar 18 kilometer di timur kota Yogyakarta, Candi Ijo menyimpan sejarah yang tak ternilai pada zaman Kerajaan Medang periode Mataram pada abad ke-10 hingga ke-11 Masehi.
Tersembunyi di Dusun Nglengkong, Kelurahan Sambisari, Kecamatan Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Candi Ijo menawarkan pesona alam yang memikat.
Dengan elevasi 140 meter di atas permukaan laut, Candi Ijo menjulang di perbukitan Baturagung yang berpadu harmonis dengan Candi Barong dan Ratu Boko.
Bangunan utama Candi Ijo menghadap ke arah barat, menciptakan suasana yang magis saat matahari terbenam.
Kompleks Candi Ijo pertama kali ditemukan oleh H.E. Dorrepaal pada tahun 1886. Dengan 11 teras bertingkat, candi induk berada di teras ke-11.
Berdasarkan penanggalan relatif, Candi Ijo diperkirakan didirikan pada abad ke-9 dan ke-10 Masehi, mengingat kemiripan bentuk bangunannya dengan candi-candi di sekitarnya, temuan prasasti batu pada teras ke-9, dan hubungannya dengan prasasti Poh yang berasal dari tahun 906 Masehi.
Kompleks Candi Ijo menghadirkan nuansa keagamaan Hindu yang tercermin dari arca dan lingga-yoni yang berada di dalamnya.
Dengan keindahan alam dan nilai sejarahnya, Candi Ijo adalah destinasi yang memikat para pengunjung.
Menyusuri setiap terasnya, Kamu akan disuguhkan panorama memukau dan pesona mistis yang masih terasa hingga kini.
Saksikanlah keajaiban Candi Ijo yang menggambarkan kebesaran peradaban masa lampau.
Baca Juga : Sejarah Hingga Seputar Info Wisata Candi Cetho Di Karanganyar
Keunikan Arsitektur Candi Ijo yang Memukau

Mengutip situs kemendikbud, Candi Ijo, juga dikenal dengan nama Candhi Ijo, menampilkan keunikan dalam bentuk bangunannya yang mempesona.
Bangunan utama Candi Ijo terdiri dari tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap.
Di bagian badan candi, terdapat relung yang dahulu berisi arca Durga, Ganesha, dan Agastya, namun saat ini telah dipindahkan dan disimpan di Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY.
Bangunan induk Candi Ijo memiliki ruangan dengan Lingga-Yoni berukuran besar serta relief sosok perempuan dan laki-laki yang memperindah interiornya.
Selain bangunan induk, kompleks Candi Ijo juga dilengkapi dengan candi perwara sebagai pendamping.
Candi Perwara I terletak di sisi utara dan memiliki ukuran yang lebih kecil daripada bangunan induk.
Di tengah candi perwara ini terdapat sumuran yang menjadi ciri khasnya.
Candi Perwara II terletak di tengah kompleks dengan ukuran yang lebih kecil dari bangunan induk.
Di candi perwara ini terdapat yoni dan arca Nandi.
Sedangkan Candi Perwara III berada di sisi selatan dengan ukuran yang lebih kecil daripada bangunan induk, dan hanya memiliki yoni.
Kompleks candi Ijo dibangun di punggungan bukit yang dikenal sebagai Gumuk/Bukit Ijo.
Nama ini tercatat dalam prasasti Poh yang berasal dari tahun 906 Masehi dalam bahasa Jawa Kuno, dengan frasa “… anak wanua i wuang hijo …” (anak desa, orang Ijo).
Secara keseluruhan, kompleks candi terdiri dari teras-teras bertingkat, dimana teras terendah berada di sisi barat dan teras tertinggi berada di sisi timur mengikuti kontur bukit.
Kompleks percandian utama terletak di ujung timur.
Di bagian barat terdapat reruntuhan bangunan candi yang masih dalam proses ekskavasi dan belum dipugar.
Setelah melewati kebun kecil, terdapat teras yang lebih tinggi dengan banyak reruntuhan yang diduga berasal dari sekumpulan candi perwara kecil.
Salah satu candi perwara ini telah dipugar pada tahun 2013.
Kompleks percandian utama terletak di bagian timur dengan teras tertinggi.
Di area ini terdapat candi induk (satu di antaranya telah dipugar), candi pengapit, dan candi perwara.
Candi induk yang telah dipugar menghadap ke barat, dengan tiga candi lebih kecil yang diduga dibangun untuk memuja Trimurti, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa.
Ketiga candi perwara ini menghadap ke candi utama, mengarah ke timur.
Ketiga candi kecil tersebut memiliki ruangan di dalamnya dengan jendela kerawangan berbentuk belah ketupat di dindingnya.
Atap candi perwara terdiri dari tiga tingkatan yang dihiasi dengan barisan ratna.
Candi perwara yang berada di tengah melindungi arca lembu Nandini, kendaraan Dewa Siwa.
Bangunan induk candi berdiri di atas kaki candi yang memiliki denah dasar persegi empat.
Pintu masuk menuju ruangan dalam candi terletak di pertengahan dinding sisi barat, diapit oleh dua jendela palsu dengan relung gawang yang tidak berlubang.
Di dinding sisi utara, timur, dan selatan terdapat tiga relung yang dihiasi ukiran kala makara.
Relung tengah memiliki ketinggian lebih tinggi daripada dua relung yang berada di sampingnya.
Saat ini, relung-relung tersebut kosong, namun diperkirakan dahulu terdapat arca di dalamnya.
Untuk mencapai pintu yang terletak sekitar 120 cm dari permukaan tanah, dibuatlah tangga yang dilengkapi dengan pipi tangga berbentuk sepasang makara, makhluk mitologis dengan tubuh seperti ikan dan belalai seperti gajah.
Kepala makara menjulur ke bawah dengan mulut terbuka lebar. Di atas ambang pintu terdapat hiasan kepala Kala bersusun.
Pada bagian pintu masuk, terdapat ukiran kala makara yang berupa mulut raksasa kala yang terhubung dengan makara.
Pola kala-makara ini umum ditemukan dalam ragam hias candi di Jawa Tengah.
Seperti halnya wisata candi-candi lain di Jawa Tengah dan Yogyakarta, kedua kepala Kala tersebut tidak memiliki rahang bawah.
Di atas ambang kedua jendela palsu juga dihiasi dengan pahatan kepala Kala bersusun.
Di dalam ruangan candi induk terdapat satu relung di tengah dinding bagian dalam sisi utara, timur, dan selatan.
Setiap relung diapit oleh pahatan pada dinding yang menggambarkan sepasang apsara terbang menuju relung tersebut.
Di tengah ruangan terdapat lingga dan yoni yang disangga oleh figur ular sendok, makhluk mitologis yang melambangkan penopang bumi.
Penggabungan lingga dan yoni melambangkan kesatuan antara Siwa dan Parwati shaktinya.
Atap candi terdiri dari tiga tingkatan dengan susunan segi empat yang semakin ke atas semakin mengecil.
Di setiap sisi atap, terdapat deretan tiga ratna di setiap tingkatnya. Di puncak atap terdapat sebuah ratna yang lebih besar.
Pada batas antara atap dan dinding tubuh candi terdapat pahatan dengan pola sulur-suluran dan gana (makhluk kerdil) yang berselang-seling.
Tepi atap dihiasi dengan deretan antefiks yang memiliki bingkai sulur-suluran.
Di dalam setiap bingkai terdapat relief setengah badan yang menggambarkan dewa dalam berbagai posisi tangan.
Baca Juga : Taman Sari, Wisata Yogyakarta Hits Karena Instagram!
Menikmati Lansekap Yogyakarta Dari Candi Ijo

Di tempat ini saya bisa menikmati lansekap kota Yogyakarta ketika hari sedang cerah, sekaligus bisa menikmati destinasi wisata bersejarah.
Pun tidak seperti Payung atau Bukit Moko yang biasanya lazim didatangi ketika malam hari, berkunjung ke tempat wisata candi di Jogja ini sebaiknya dilakukan ketika siang hari.
Hari itu saya datang ke Candi Ijo ketika Yogyakarta sedang dilanda hujan lebat.
Saya sempat pesimis akan mendapatkan pemandangan cantik seperti yang saya harapkan.
Namun karena sudah berada di Yogyakarta, saya tetap nekat untuk mengunjungi Candi Ijo.
Dan benar, ketika sampai hujan masih turun begitu deras hingga saya harus menunggu beberapa saat sebelum masuk ke area candi.

Berdasarkan sejarahnya, Candi Ijo ini dibangun pada waktu abad ke-9 di bukit yang dikenal sebagai Gumuk Ijo.
Gumuk sendiri adalah kata dalam Bahasa Jawa yang dalam Bahasa Indonesia berarti Bukit.
Iya, candi di Jogja ini dibangun pada ketinggian sekitar 410 Mdpl.
Dengan posisi berdiri candi yang cukup tinggi, sehingga dengan posisinya yang sekarang sebagian besar lansekap Yogyakarta bisa terlihat.
Setelah sedikit bersabar, hujan pun sedikit reda.
Saya dan istri saya segera menuju area Candi Ijo dengan terlebih dahulu melapor ke pos satpam yang ada di pintu masuk candi.
“Dari mana mas? Isi buku tamu dulu ya”
Tanya seorang satpam yang sedang berjaga kepada saya, sekaligus memberitahukan kalau harus mengisi buku tamu terlebih dahulu.
“Dari Blitar pak, lagi liburan ini ceritanya”
Sahut saya sambil memberi kode kepada istri saya untuk mengisi buku tamu.
Masuk Ke Candi Ijo Dulunya Gratis
Sebenarnya masuk ke Candi Ijo ini gratis (sekarang berbayar), namun pak satpam tadi bilang kalau berkenan bisa menyumbang seikhlasnya.
Sebagai traveler yang baik, saya pun menyumbang dengan harapan itu digunakan untuk perawatan candi.
Setelah acara ramah tamah denga satpam selesai, kami pun begegas menuju area candi setelah mengisi buku tamu, dan memberi sumbangan.
Dari informasi yang pernah saya baca, kompleks Candi Ijo ini terdiri dari 17 struktur bangunan yang dibagi dalam 11 teras berundak.
Dijelaskan kalau teras pertama adalah merupakan pintu masuk sekaligus halaman candi.
Teras pertama ini berundak yang membujur dari barat ke timur.
Sementara pada teras ke-11 berupa pagar, delapan buah lingga patok, empat bangunan candi yang terdiri tiga candi perwara dan satu candi utama.
Seharusnya saya mengajak ahli sejarah deh, saya nggak begitu ngerti ini :|
Dasar- Memang saya ini cuma traveler yang enggak terlalu paham detail sejarah, saya bingung ketika sampai di Candi Ijo.
Dimana teras berundaknya, atau saya sedang berada di teras berapa.
Saya baru sadar berada di teras ke-11 setelah melihat 3 candi kecil dan 1 candi besar yang sepertinya itu adalah candi utama.
Pada bagian bawah candi ini memang banyak batu – batuan berserakan.
Sepertinya itu adalah sisa – sisa candi yang sudah tidak utuh lagi. Bahkan ketika saya mengamati lebih detail lagi, ada beberapa bagian yang masih terkubur di tanah.
Kompleks Candi Hindu Di Jogja
Candi Ijo adalah kompleks candi bercorak hindu, seperti beberapa candi yang ada di dekatnya.
Lokasinya juga tidak jauh dari Candi Ratu Boko yang sudah terkenal.
Berjarak sekitar 18 kilometer dari kota Yogyakarta, untuk menuju ke candi ini bisa ditempuh dengan mobil atau sepeda motor.
Dari pusat kota Yogyakarta bisa langsung menuju kesini, atau mampir ke Candi Ratu Boko terlebih dahulu.
Sebagian besar wisatawan yang mengunjungi Candi Ijo ini adalah pengejar pemandangan matahari terbenam.
Namun karena saya datang kesini ketika hujan deras, bukannya pemandangan matahari terbenam yang saya dapat.

Datanglah Ketika Cerah, Nikmati Pemandangan Jogja Dari Ketinggian
Malah Candi Ijo yang sedang berkabut tebal menghibur saya.
Pun suasana sekitar candi menjadi sedikit mistis dengan datangnya kabut tadi.
Apalagi kabut datang disertai angin yang lumayan kencang.
Pemandangan lansekap Yogyakarta baru terlihat Jelas ketika hujan reda.
Menghadap ke barat, sedikit samar tetapi masih terlihat runway Bandara Internasional Yogyakarta Adi Sucipto.
Sementara disebelah kiri akan terlihat lansekap Yogyakarta yang berbukit dengan banyak persawahan yang menghijau.
Inilah daya tarik dari si Candi Ijo, meskipun pengunjungnya kurang suka dengan sejarah.
Mereka masih dimanjakan dengan pemandangan cantik Kota Yogyakarta.

Satu yang membuat saya menyesal berkunjung, karena saya tidak membawa lensa telephoto.
Dengan posisi Candi Ijo yang segaris dengan bandara, seharusnya saya bisa banyak mengabadikan banyak foto pesawat yang sedang take off dan landing.
Buat penyuka pesawat, tempat wisata candi ini posisinya sangat strategis untuk berburu foto pesawat.
Dengan catatan, kalian harus punya kamera yang mumpuni ya.
Meskipun begitu, saya sudah cukup puas bisa menikmati karya seni dan bangunan bersejarah seperti Candi Ijo.
Saya membayangkan kalau peradaban Jawa jaman dahulu sudah begitu hebat.
Tentu akan lebih menyenangkan lagi kalau generasi muda ikut menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah yang begitu berharga ini.
Jelajahi Keindahan Candi Ijo dengan Tiket Masuk Terjangkau
Saat Kamu ingin menikmati pesona Candi Ijo, Kamu hanya perlu membayar tiket masuk seharga Rp 5.000.
Dengan harga yang terjangkau ini, Kamu dapat menjelajahi keindahan dan sejarah yang tersembunyi di dalam kompleks candi ini.
Tempat wisata sejarah di Jogja ini juga memberikan kemudahan akses dengan waktu operasional yang luas.
Setiap harinya, Candi Ijo buka mulai dari pukul 06.00 hingga 17.00 WIB, baik pada hari Senin hingga Minggu.
Kamu memiliki waktu yang cukup panjang untuk menikmati pemandangan yang memukau, menjelajahi bangunan candi yang menakjubkan, serta merasakan aura spiritual yang ada di sekitar candi ini.
Jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi Candi Ijo dengan tiket masuk terjangkau dan jadwal operasional yang fleksibel.
Mari temukan keindahan dan pesona budaya yang tersembunyi di balik tembok candi ini.
Alamat dan Peta Lokasi Candi Ijo
Candi Ijo yang menakjubkan terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Candi ini berada di lereng barat sebuah bukit yang masih merupakan bagian dari perbukitan Batur Agung, sekitar 4 kilometer di sebelah tenggara Candi Ratu Boko.
Di bawah lereng ini, Kamu akan menemukan wisata tebing Breksi Jogja yang dulunya merupakan pertambangan batu alam.
Candi ini memiliki posisi yang mengagumkan dengan ketinggian rata-rata 425 meter di atas permukaan laut.
Nama “Ijo” diberikan kepada candi ini karena terletak di atas bukit yang dikenal sebagai Gumuk Ijo.
Ketika Kamu berada di kompleks candi ini dan membuka pandangan ke arah barat, Kamu akan disuguhkan panorama yang indah, seperti persawahan, serta pemandangan Bandara Adisucipto dan Pantai Parangtritis.
Kompleks utama candi memiliki luas sekitar 0,8 hektar, namun diperkirakan kompleks percandian Ijo jauh lebih luas dan membentang ke arah barat dan utara.
Hal ini didasarkan pada temuan artefak yang terkait dengan candi saat penduduk melakukan penambangan di lereng bukit Candi Ijo di sebelah timur dan utara.
Candi Ijo terletak sekitar 28 kilometer di sebelah timur Yogyakarta.
Kamu dapat mengikuti rute menuju Candi Prambanan dan kemudian memilih arah selatan yang menghubungkan Yogyakarta dan Piyungan.
Setelah perjalanan sekitar 15 menit, Kamu akan menemui papan nama yang menandakan keberadaan Candi Ijo.
***
Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

Kalau Sore dan sedang tidak mendung pemandangan suset bagus banget, jadi kangen Jogja
Reza Fahlevi | Travel Blogger
Iya, harusnya sih seperti itu :( tapi cuaca kurang begitu mendukung kemaren.
candi ijo saat berkabut sekilas kayak candi gedong songo, bangunannya mirip, cuman masih banyak candi yg belum dipugar yaa :(
Eh candi gedong songo dimana? Ini kali pertama main ke candi ijo sih, sebelumnya cuma tahu candi prambanan sana :P ternyata ada candi ijo yang lebih keren.
Keren juga ya candi2 yang lain yang belum setenar candi prambanan dan borobudur ataupun boko , Padahal lokasinya deket2an ya ama Boko, mungkin perlu di ekspose lagi hehehe
Sepertinya karena didekat candi ratu boko, makanya namanya agak tenggelam :D tapi aseli cake pemandangannya dari sini :D
Sayang banget ujan yaaa kak, eh aku mau nginep di hotel nya :-)
iya nih, mau balik lagi kesana kalau nggak ujan, kayak gimana viewnya :D Eh, mau nginep dimanaa? :D
Aku ke situ juga, en kaget karena masuknya gratis. Hahah.. :D Cumak pas dateng kemaren lagi rame banget sama anak alay :(
Wah masak? aku kesana pas sepii banget, kita cuma berdua waktu di candi ijo :| kesannya malah jadi serem n mistis euy~
Liburan di musim hujan memang melatih kesabaran yaaa.. apalagi banyak moment yg gak bisa ketangkep karena kabut mendung atau hujan..
Yah itulah dukanya traveling ketika hujan, tetapi harus bisa menyiasati sih :p apalagi kalau sambil kerja :D Kayak momen berkabut di candi seperti ini malah jarang orang yang punya, karena candi ijo kan lebih terkenal sunsetnya. Tapi jadi makin serem euy, candi ijo waktu berkabut gini :|
Wah, sayang ke sana saat berkabut dan hujan. Kalau mau lihat foto sunset kece dari Candi Ijo, coba mampir ke blog-ku, mas :D *ternyata promosi*
Tapi foto Candi Ijo saat berkabut seperti di atas punya pesonanya sendiri.
Dari info yang kutahu, Candi Ijo memang candi yang tertinggi di Yogyakarta.
Di Jogja banyak spot untuk menikmati kota dari ketinggian. Di utara ada Kaliurang, di Barat ada Puncak Suroloyo, di Timur ada Bukit Bintang. Jogja memang dikelilingi pegunungan, mas. Jadi wajar jika berbukit-bukit :)
huahaha, iyakah? mampir ke blog nugie deh :D Niatnya kemaren emang liat sunset, tapi sampe sana pas ujan gede sih :| mungkin nanti mau balik lagi ke yogya~ masih kurang lama disana :D
Saya baru kali ini dengar nama candi ijo. Dan kalau lihat gambarnya, suatu saat wajib mampir tuh.,
harus mampir ya :)
Aku kalo ngliat candi jg suka bingung mas :D.. Ga ngerti…pdhl aku suka sejarah loh, tp sejarah2 yg kelam hihihi…cthnya kyk sejarah tuol sleng ato ladang pembantaian di kamboja, ato tempat2 pembantaian PKI jman dulu… Kalo candi, kok ya ga masuk gitu ke kepala kalo baca bukunya :D Makanya aku kurang suka wisata candi… Tapi candi ijo ini krn pemandangannya bgs, kliatannya sejuk, kyknya boleh lah didatangin nanti :D… Kalo kyk borobudur yg panasnya ngejambreng bgt udh kapok soalnya ;p
Kalau aku setengah – setengah, kadang bingung kadang nggak ngerti~ hehee :D tapi liatin ukiran – ukiran relief di candi itu bikin seneng, bikin bangga karena kebudayaan jawa bisa semaju itu di jaman dahulu. Apalagi candi ijo ini, dapet bonus pemandangan cakep :D
Ini, mas. Kalau mau lihat sunset cerah di Candi Ijo :D
Makan apa ya itu orang2 yg dulu buat candi. Udah batu2nya berat, bikinnya di atas bukit pula :D
Tetep makan nasi lah :P kalau enggak nasi jagung~ udah dari dulu makanan pokok indonesia kan itu ehehehe
Sama kaya candi Gedong Songo yg di daerah Bandungan-Semarang. Dari sana bisa liat lansekap Semarang. Harus kesana :)
Cateeet! candi gedong songo ya :D kalau ke semarang pasti mampir!
dulu pas ke candi ratu boko niatnya mau sekalian mampir kesini tapi kelamaan main di candi ratu boko. akhirnya gak jadi liat sunset dari candi tertinggi di jogja :(
Next time ke yogyakarta mampir ke candi ijo ya :D sunsetnya dari sini cakep!
hmmm… Aku belom pernah ke sini. Pengen mampir juga
Mampir kak! sunset di candi ijo ketika sore cakep!
Baru tahu ada Candi Ijo, moga bisa mampir ke sini juga
Aku juga baru pertama kali ini dateng~ Tapi ternyata emang cakep sih pemandangan dari sini :D
Udah ada rencana ke sini kalau mampir Jogja, tp belum kesampaian.
Sekarang udah dibuka tebing breksi deketnya Candi Ijo. Jadi kalau mau ke Candi Ijo sekalian mampir deh :D
eh? tebing breksi? Baru denger dih –” kayaknya harus balik lagi eksplore yogyakarta
rekomen hotel dan tranport dong kak pengen ke jogja tapi awam banget
keren.. bermanfaat