Pentingnya Bahasa Lokal saat Traveling

Waktu saya kecil, orang tua saya memasukkan saya ke kursus bahasa inggris sejak saya masih di bangku SD, sebelum ada pelajaran bahasa Inggris di sekolah, dengan alasan bahasa Inggris bakal jadi bahasa internasional nomor satu. Jadilah saya belajar bahasa Inggris selama hampir 12 tahun hingga akhirnya malah mengajar bahasa Inggris.

Kalau sudah menguasai bahasa Inggris sudah tidak perlu belajar bahasa lainnya dong? Dulu sih asumsinya begitu, tapi sekarang perkembangan sudah semakin pesat. China yang semakin merambah pasar perdagangan dunia mulai dilirik untuk perlu dipelajari bahasanya. Saya pernah belajar bahasa Mandarin selama 8 tahun dalam periode yang berbeda-beda, namun sekarang skill bahasa Mandarin saya kembali ke Basic karena jarang dipergunakan.

(Baca Juga : Flashpacker, Traveling Seperti Apa itu?)

Traveling Tanpa Masalah Jika Tahu Bahasa Lokal

Kalau untuk kepentingan traveling, bahasa apa saja yang perlu dipelajari? Memang tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa Inggris masih menjadi bahasa no satu dalam menjembatani komunikasi ketika traveling, namun tentu tidak di semua negara. Di Eropa, banyak juga warga yang tidak fasih berbahasa Inggris karena mereka punya bahasanya sendiri. Di Amerika Selatan, kebanyakan berbahasa Spanyol dan tidak mengerti bahasa Inggris. Bahkan di Asia, China, Jepang & Korea pun kesulitan melafalkan kata-kata dalam bahasa Inggris.

Semakin banyak bahasa yang bisa, semakin mudah membaur dengan orang lokal ketika traveling
Semakin banyak bahasa yang bisa, semakin mudah membaur dengan orang lokal ketika traveling

Berbagi pengalaman traveling berkaitan dengan masalah bahasa, di tahun 2010 saya sempat tinggal di Thailand dan mengajar bahasa Inggris di sana. Selama 4 bulan traveling dari Thailand ke Laos kemudian Kamboja, saya tidak pernah berbicara dalam bahasa Indonesia karena memang tidak ada yang bisa diajak ngobrol dalam bahasa Indonesia. Saat itu saya coba belajar sedikit bahasa Thailand, sekedar untuk mempermudah tawar menawar dan minta informasi.

Saat ini saya & Adam sedang berkeliling Laos dalam rangka pekerjaan Adam mengupdate sebuah guidebook online untuk negara Laos. Kami punya waktu 4 bulan traveling disini, dan tentu akan sangat membantu jika kami belajar bahasa lokal.

Bahasa Laos sebenarnya hampir sama dengan bahasa Thailand. Kebanyakan orang Laos mengerti bahasa Thailand karena acara televisi, lagu-lagu yang mereka dengar kebanyakan dari saluran berbahasa Thailand. Namun tidak dengan semudah itu kami bisa berbahasa Thailand di Laos.

(Baca Juga : 4 Alasan Saya Lebih Suka Traveling Ala Backpacker Dari Pada Paket Tour)

Sedikit demi sedikit kami coba belajar istilah-istilah dalam bahasa Laos. Yang paling sering digunakan adalah, “Kho beung hong dai bo?” yang artinya “Bisa lihat kamarnya?” Selain itu tentu kami juga belajar menu-menu sederhana seperti “Ka fe hon sai nom wan” = kopi susu panas; “Khao phat gai” = nasi goreng ayam; “sa hon”= teh panas, dan yang paling penting buat saya adalah istilah “bo phet” = tidak pedas! :)

Kami pernah ada pengalaman lucu di Sam Neua, daerah di Laos yang dekat dengan perbatasan Vietnam. Di suatu restoran, mereka memiliki menu dalam bahasa inggris, namun kemampuan bahasa inggris mereka sangat terbatas. Karena saya tidak begitu suka corriander (sejenis daun seledri namun beda aromanya), saya coba bilang ,”bo ao ….(sambil menunjuk tulisan corriander yang tertera di menu.” Makanan yang kami pesan adalah tumis daging dengan sayuran. Bo ao artinya tidak mau. Si ibu pemilik restoran bingung melihat saya menunjuk corriander, kemudian dia bilang, “bo ao phak?” Saya pernah denger ‘phak’ dan langsung berasumsi bahwa ‘phak’ artinya corriander. Saya langsung semangat mengiyakan.

Setelah 1 menit berlalu saya baru teringat sesuatu, ‘phak’ artinya sayuran! Adam langsung menyuruh saya ke dapur untuk mengoreksi pesanan. Saya ke dapur, si ibu mau mulai masak, tapi sayangnya saya tidak melihat daun coriander di dapur sehingga bingung mau menunjukkannya bagaimana. Dia menunjuk bawang bombay, saya bilang ‘OK’, dia tunjuk wortel, saya bilang ‘OK’. Saya coba me-reset pesanannya, saya bilang menu ini (tumis daging dengan sayuran) tanpa bilang apa-apa mengenai corriander. Si ibu restoran mengangguk-angguk sambil kelihatan masih bingung.

(Baca Juga : Traveling Is Possible!)

Kembali ke meja, kami tertawa-tawa mencoba membayangkan hasil masakan. Tumis daging dengan sayuran, tapi saya malah bilang ‘bo ao phak’ yang jelas-jelas artinya tidak mau sayuran. Kami membayangkan si ibu restoran bingung memikirkan tumis daging dengan sayuran, tapi tidak pakai sayuran. Walaupun sudah mencoba me-reset pesanan, kami pasrah. Ternyata masakan yang keluar adalah……tumis daging dengan sedikit sekali bawang bombay, jahe serta daun hijau sebagai garnish.

Kendala bahasa bisa berakibat salah keluar makanan yang dipesan saat traveling
Kendala bahasa bisa berakibat salah keluar makanan yang dipesan saat traveling

Menariknya, ternyata di Laos juga ada banyak dialek, dimana di satu daerah dengan daerah lain ada perbedaan. Di daerah perbatasan Laos Thailand dengan mudah mereka mengadopsi bahasa Thailand sehingga buat saya lebih mudah berkomunikasi jika saya tahu bahasa Thailand-nya.

Di perbatasan Laos Vietnam, banyak orang-orang Vietnam yang repotnya tidak bisa berbahasa Laos. Lucunya, di Laos utara dekat perbatasan dengan China, saya terpaksa menggunakan kemampuan dasar berbahasa Mandarin untuk berkomunikasi dengan mereka. Awalnya agak canggung, tapi setelah mereka tahu saya bisa sedikit bahasa Mandarin, mereka jadi lebih santai dan ramah.

(Baca Juga : Cicipi Kuliner Wajib Malaysia Ini Ketika Traveling Kesana!)

Jadi sewaktu di Laos utara itu di otak saya berseliweran 5 bahasa yang kadang bikin saya bingung. Berpikir dalam bahasa indonesia, berbicara bahasa Inggris sama Adam, mentransfer bahasa thailand ke dalam bahasa Laos, dan mencoba menyampaikan informasi dalam bahasa mandarin. Kadang yang keluar malah berbahasa indonesia ke pelayan restoran. Kan beribet banget tuh! ;)

Tapi kadang agak riskan juga menunjukkan bahwa kami bisa sedikiiiit saja bahasa lokal, karena begitu kami berbicara bahasa lokal, mereka pikir kami fasih berbahasa lokal sehingga ujung-ujungnya mereka nyerocos dengan semangat dan kami malah bengong.

Hehee…begitulah pengalaman traveling berkaitan dengan masalah bahasa di Asia Tenggara. Mungkin di Eropa berbeda masalah bahasanya. Ada yang pernah punya pengalaman lucu berkaitan dengan bahasa selama traveling? Kira-kira ada yang punya usul, bahasa apa saja yang penting untuk dipelajari dalam dunia traveling?

Ini adalah guest post dari Adam & Susan of PergiDulu (http://www.pergidulu.com). Yang satu bule, satu lagi orang Bandung. Mereka baru saja menikah di Bali dan saat ini sedang traveling di Laos. Kisah perjalanan Adam & Susan juga bisa diikuti melalui twitter @PergiDulu.

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di catperku@gmail.com. Cepetan Ga pake lama ya!
4 Responses

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: