Kaitenzushi Yang Bikin Saya Happy!

Jadi… Apakah itu yang namanya sushi? Sebelum saya cerita lebih lanjut tentang Kaitenzushi yang bikin saya happy~

Sushi (鮨, 鮓, atau biasanya すし, 寿司?) adalah makanan Jepang yang terdiri dari nasi yang dibentuk bersama lauk (neta) berupa makanan laut, daging, sayuran mentah atau sudah dimasak.Nasi sushi mempunyai rasa masam yang lembut karena dibumbui campuran cuka beras, garam, dan gula. -, Wikipedia

Itu menurut wikipedia… Kalau buat saya, definisi sushi itu ikan mentah (bisa macam – macam ikan) yang ditaruh diatas sejumput nasi, yang kalau dimakan dengan saus soya dan wasabi rasanya enak. Sudah, gitu saja…

Ini dia yang namanya sushi, dengan sejumput nasi dibawah seiris daging ikan segar(mentah). Paling enak sih kalau dimakan sama saus kecap asin yang sudah dicampur wasabi :9
Ini dia yang namanya sushi, dengan sejumput nasi dibawah seiris daging ikan segar(mentah). Paling enak sih kalau dimakan sama saus kecap asin yang sudah dicampur wasabi :9

Itulah kenapa sushi adalah salah satu makanan yang wajib sekali dicoba ketika ketika mengunjungi Jepang, negara asal sushi dilahirkan. Memang di Indonesia sendiri sebenarnya ada banyak warung dan resto yang menjual sushi. Tapi entah kenapa menurut saya, rasa sushi di negara asalnya itu jauh lebih enak. Dan.. Harganya juga lebih manusiawi.

Untuk sushi yang standard tentunya… :P

Ketika traveling ke Jepang kemarin, tidak ada restoran sushi yang ingin saya tuju secara khusus seperti ketika saya mati – matian mencari ramen halal yang ada di Shinjuku. Secara acak saja saya memasuki restoran sushi yang kebetulan saya temui di Asakusa, tanpa takut kalau menu yang ada didalam ternyata bakal berbahasa Jepang semua.

No problem, masih ada bahasa tubuh dan bahasa tarsan yang lebih universal dari bahasa inggris sekalipun… Heheee….

“Watashitachiha, Nihon no hitobitode wa arimasen”  Secepat kilat tanpa menunggu aba – aba teman saya berbicara dalam bahasa jepang seadanya. Kata yang berarti kurang lebih “kami ini orang asing, bukan orang jepang” itu selalu menjadi andalan, agar tidak disodori menu dengan huruf kanji.

Sebut saja "Watashitachiha, Nihon no hitobitode wa arimasen" niscaya kamu akan dapat menu bahasa inggris. *kalau ada menunya yang berbahasa inggris ya tapi :p*
Sebut saja “Watashitachiha, Nihon no hitobitode wa arimasen” niscaya kamu akan dapat menu bahasa inggris. *kalau ada menunya yang berbahasa inggris ya tapi :p*

Lucky~ Kami langsung disodori dengan menu yang berbahasa Inggris. Mungkin karena Asakusa memang daerah wisata yang terkenal buat orang asing. Jadi restoran ini juga sudah sering didatangi oleh turis yang sedang kebingungan untuk mengisi perut setelah capek berkeliling. Pun buat saya sebenarnya menu tadi hanya akan berguna sebagai rem, sebagai panduan agar saya tidak terlalu bersemangat mengambil ini itu, hingga tanpa sadar menghabiskan ribuan yen karena kalap gara – gara sushi.

Bisa gawat kalau uang saya habis cuma karena sushi…. Iya kan?

Ruangan warung sushi ini tidak terlalu lebar, ada satu meja panjang berbentuk “O” juga tumpukan piring untuk tempat meletakkan sushi yang akan disajikan kepada pelanggan disalah satu sisinya. Dibagian tengah, ada seorang chef yang selalu sigap meletakkan piring yang telah terisi dengan sushi ke conveyor belt. Unik! Buat saya tempat ini berbeda dengan kebanyakan restoran sushi yang ada di Indonesia. Dan… Belakangan saya ketahui kalau jenis restoran sushi seperti ini disebut Kaitenzushi.

Kaitenzushi (回転寿司) adalah model penjualan sushi siap saji yang meletakkan sushi dalam piring-piring kecil yang beredar dengan bantuan ban berjalan sehingga pengunjung restoran dapat mengambil sendiri piring sushi yang diinginkan. ,- Wikipedia

Horeee! Tanpa direncanakan, saya datang secara random di restoran sushi yang sebelumnya cuma bisa saya lihat di film dorama. Sekarang, saya mencobanya secara langsung ^^

Kaitenzushi, dengan meja yang ada conveyor belt sebagai ciri khasnya.
Kaitenzushi, dengan meja yang ada conveyor belt sebagai ciri khasnya.

 

Chef yang selalu sigap menyiapkan sushi.
Chef yang selalu sigap menyiapkan sushi.

Dengan ciri khas berupa conveyor belt yang penuh dengan sushi penggoda didepan mata pelanggan, Kaitenzushi sedikit berbeda dengan restoran sushi biasa. Di restoran model seperti ini saya tidak perlu bingung mengeja sushi apa yang saya inginkan ke pelayan, dengan bahasa jepang saya yang kacau – balau. Saya tinggal duduk dengan tenang sambil mengincar semua yang terlihat enak diatas conveyor belet yang sedang berputar didepan mata saya.

Sebalnya, saya jadi tidak tahu nama sushi yang saya makan karena asal ambil saja. Yang saya tahu kalau tidak udang, cumi, ya ikan yang semuanya terasa enak dimulut….

Ehh… Sebenarnya saya cuma bisa membedakan sushi yang enak dan tidak enak~ Tidak peduli apa jenis ikannya. Apalagi saya memang penyuka seafood, jadi akan lebih susah lagi kalau disuruh membedakan mana sushi yang enak dan tidak enak. Semua hampir sama. Yang membuat rasanya tidak enak itu kalau harganya mahal. Hehee! Karena itu sebisa mungkin ambil piring yang warnanya dimenu diberi label harga paling murah saja deh~

Percaya atau tidak, semua sushi ini enak!
Percaya atau tidak, semua sushi ini enak!

O iya, di Kaitensuzhi harganya dibedakan berdasarkan warna piring ya. Jadi selalu ingat warna piring mana yang paling murah, dan paling mahal. Jangan asal ambil tanpa memperdulikan harga, kecuali memang sudah niat untuk menghamburkan YEN demi sushi. Saya sendiri cuma menghabiskan sekitar 1000 Yen untuk sushi dengan rasa yang memuaskah lidah, dan mengenyangkan perut.

Untuk lebih menghemat lagi, tidak perlu memesan minuman disini. Ada teh hijau yang tinggal diseduh untuk minumannya. Tidak perlu bayar lagi untuk minuman tadi, bahkan bisa diisi berulang – ulang. Tinggal mengisinya lagi dengan air panas yang keluar dengan memencet keran yang ada dimeja. Lagi pula buat apa memesan minum lagi, karena cara mengakhiri makan sushi yang enak itu dengan seteguk teh hijau tanpa gula :)

So yummy! Traktir saya sushi dong!

Paling enak akhiri makan sushi dengan segelas teh hijau hangat :))
Paling enak akhiri makan sushi dengan segelas teh hijau hangat :))
Tentunya bisa refill berkali kali teh hijau disini :))
Tentunya bisa refill berkali kali teh hijau disini :))
Bisa hitung saya menghabiskan berapa Yen?
Bisa hitung saya menghabiskan berapa Yen?

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di catperku@gmail.com. Cepetan Ga pake lama ya!
18 Responses
    1. Rijal Fahmi Mohamadi

      Waah! 120 yen :O murah ituu~ Ini random banget sih masuk ke warung sushinya. Gara – gara laper abis keliling asakusa hehee :D

  1. Arif San

    Wah, ini restorannya kayak yg di salah satu episode nya detective conan. Ada conveyor beltnya juga :D

    Ikan di sushinya gede2 ya. Beda sama sushi yg kebanyakan dijual di Indonesia.

    1. Rijal Fahmi Mohamadi

      hahaa, iya lebih gede daripada yang disini~ harganya juga lebih murah dikit. mungkin karena ikan segar disana carinya gampang yak :D

    1. Rijal Fahmi Mohamadi

      Nyahaha~ saya buka deh nanti resto yang setipe Kaitenzushi di indonesia. doain ada modal ya :p Kalau disini, cuma ke sushi tei doang -,- yang lain agak kurang cocok rasanya~~

  2. Halim

    Entah kenapa pandangan langsung tertuju ke satu kotak bubuk teh hijau yang tergeletak begitu saja di depan pelanggan.
    Kalo restoran sushi di Indonesia servis begituan wuihhh bisa bisa bangkrut gara-gara setiap satu pelanggan bikin teh super kental atau mungkin dipindah ke tupperware itu satu kotak bubuk ocha nya hahaha

    1. Rijal Fahmi Mohamadi

      huahahaa, pada ndak mau rugi ya ceritanya :P ada benarnya juga sih hehee. tapi enak gitu, jadi kadang kan ada pelanggan yang cuma mau makan, minum pake yang murah aja :D

  3. Choyrul W.W

    Waaaaah jadi keinget acara di salah satu stasiun televisi TV Champion yg episode pembuat sushi kalo liat ban berjalanya hahaha

  4. Sofhy Haisyah

    Satu kesimpulan yang aku ambil di postingan ini, “Kalo mampir di Kaitensuzhi selalu ingat warna piringnya” :D

    *Lagi ikut giveaway #CatperkuBagiParcel

    @Sofhy_Haisyah

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: