Pengalaman Pertama Puasa Di Negeri Tetangga

Eh, Australia masuk ke dalam kategori negeri tetangga kan? Meski terpisah jauh oleh Samudera Hindia? Mau pastiin aja sih, biar nggak salah deh~ Sebelum saya lanjut berbagi panjang lebar tentang pengalaman pertama saya puasa di Australia nih. Siapa tahu, ada yang penasaran, bagaimana rasanya puasa di Negeri Kanguru ini.

Sebenarnya, saya pengen nulis tentang puasa di Australia ini ketika kemarin di Indonesia sedang ramai mengenai razia warung di Serang itu. Cuma, dari pada nanti dikira ikut-ikutan memperkeruh suasana, ya mending nulisnya pas udah calm down dikit deh. *padahal sih, aslinya males nulisnya~ mwahahahah*

Oke, kembali ke topik ya!

Sebelumnya, dalam master plan hidup saya, nggak pernah kepikiran buat tinggal lama di luar negeri. Soalnya, bisa traveling ke Jepang 13 hari aja sudah seneng, pake banget. Nyatanya, ketika saya menulis tulisan ini, saya sudah berada di Sydney, Australia hampir 6 bulan lamanya dalam rangka career break. Wew, udah mau 6 bulan aja~ sekarang waktu kok rasanya berputar begitu cepat ya?

Pengalaman Pertama Puasa Di Australia
Pengalaman Pertama Puasa Di Australia

Selama tinggal di Sydney pula, saya banyak mendapat pengalaman pertama. Mulai dari pengalaman pertama kerja jadi tukang cuci mobil, jadi kitchen hand yang ngerjain kerjaan dua orang tapi cuma dibayar 11 AUD/jam, hingga betah menjadi baker alias tiap hari bikinin kue buat orang. Iya, gak peduli puasa atau enggak, didepan saya tiap hari adalah cupcake dan kue lain yang enak.

Tentu yang namanya pengalaman pertama itu selalu bikin penasaran, excited dan deg-deg-an, kayak malam pertama gitu #ehgimana!?. Nah, dari semua pengalaman pertama saya di Sydney itu, saya pengen berbagi tentang pengalaman pertama saya puasa di Australia, di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim. Boro-boro kedengeran adzan disini, yang jualan takjil di pinggir jalan aja kagak ada cuy! Duh, kangen deh beli kolak sama gorengan di pinggir jalan buat batalin puasa ketika Maghrib tiba :(

Nah, buat yang penasaran simak ini deh, pengalaman pertama saya berpuasa di Australia. Dibaca ya!

1. Teman Kerja Saya Pada Penasaran Tentang Puasa

Sudah pernah saya tulis kan, kalau selama di Sydney, saya kerja di tempat kerja multinasyenel, Mondo Kitchen Bakery. Maksudnya, Bakery yang mempekerjakan karyawan dari berbagai negara. Pemiliknya sendiri orang Thailand dan Australia. Terus karyawannya ada yang berasal dari Nepal, Bangladesh, Thailand, Vietnam, Perancis dan saya sendiri dari Indonesia.

Nah, disini beberapa teman kerja saya di Mondo Kitchen pada penasaran nih mengenai puasa. Sepertinya mereka cukup shock juga, kalau ketika puasa saya nggak boleh makan, minum dan harus menahan hawa nafsu mulai dari Imsak hingga Maghrib tiba. Apalagi, saya kan kerjanya tiap hari bikin kue yang enak-enak. Kok bisa? Emang kuat ya? Hingga beberapa pertanyaan lain mereka yang penasaran seperti:

“You can’t eat rice when you are fasting?” nope mate, gue nggak makan, juga nggak minum, meski di depan ada kue enak yang tiap hari gw bikin.

“Whoa, you dont eat for 24 hours?” atau ekstrimnya lagi, muncul pertanyaan gini “So, during fasting month,  you don’t eat the whole month?” Bukan duduls, gue cuma nggak makan dan minum dari Imsak, hingga Maghrib. Yah, jam 5.30 – 17.00 waktu Sydney lah.

Wajar, kalau muncul pertanyaan seperti itu. Dari semua orang yang kerja di Mondo Kitchen, yang muslim cuma 3 orang, dua dari Bangladesh, satu dari Indonesia. Tapi, saya akan tetap dengan senang hati menjawab pertanyaan mereka sesuai kapasitas saya.

2. Nggak Ada Razia Warung Di Bulan Puasa

Boro-boro razia warung, ketika weekend tiba, diskotik dan pub di Sydney CBD tetap berdentum gaungnya. Para penyuka party goers yang kadang cuma pake rok mini juga tetap berseliweran disana-sini. Duuh, godaannya itu loh! *Istighfar~ Istighfar~* Nggak ada bedanya deh, kayak bulan-bulan yang lain.

Lain halnya di Indonesia. Seingat saya, ketika bulan puasa tiba, banyak artis yang awalnya berpakaian terbuka, sontak berhijab semua. Jalanan yang biasanya sepi, tetiba macet luar biasa karena banyak pemburu takjil. Iklan di televisi pun juga, semua berubah bertema bulan puasa. Banyak yang berubah drastis, dari bulan biasa.

Teman-teman kerja saya pun juga tetap seperti hari biasa. Mereka makan dan minum ketika lunch break tiba. Saya? Ya tetap puasa, sambil terus berkutat dengan adonan kue yang satu dan lainnya. Mungkin, bedanya saya akan meminta bantuan teman saya yang nggak puasa untuk mencicipi adonan kue yang saya buat. Takut salah aja, kan saya nggak bisa merasakannya.

Bikin kue jalan, puasa juga jalan :)
Bikin kue jalan, puasa juga jalan :)

3. Pengalaman Pertama Dapat Diskon Lama Waktu Puasa

Kalau di Indonesia mungkin janga waktu puasa itu hampir 14 jam ya? Nah kalau di Sydney Australia itu cuma sekitar 11 jam 30++ menit ya. Atau mulai dari jam 5.30-17.00 saja. Dapat diskon sekitar 2 jam lah. Terus, karena sekarang ini sedang musim dingin, jadi nggak begitu terasa rasa haus dan dahaga.

“Kok enak, puasanya sebentar banget?” Weits! Sebenarnya lama waktu puasa di Sydney ini nggak selalu pendek. Seperti kata chef, manager saya di Mondo Kitchen orang Bangladesh yang sudah menjadi warga negara Australia. “You are lucky, ramadhan came at winter. When I first came to Australia, ramadhan came on summer. Fasting time is longger, about 18 hours.” Buset, serius chef!?

Saya percaya sih, karena saya juga mengalami musim panas di Australia. Ketika musim panas, Matahari terbit lebih awal, dan baru tenggelam jam setengah sembilan malam. Saya merasa bersyukur, bulan puasa nggak jatuh pada musim panas Australia. Jadi, saya nggak perlu mengalami puasa selama itu deh.

4. Merasakan Suasana Toleransi Yang Sebenarnya, Dimana Muslim Dan Semua Manusia Di Muka Bumi Itu Sebenarnya Bersaudara

Terus terang, saya masih heran ketika menemukan berita yang berisi manusia yang menyakiti sesamanya. Atau, sesama muslim yang saling menyakiti karena berbeda pendapat. Kok bisa ya? Disini, meski berbeda ras, agama dan budaya saya merasakan toleransi yang begitu besar. Saya pun juga tetap bisa menjalankan Ibadah seperti halnya ketika saya di Indonesia.

Nggak ada yang melarang, bahkan dengan terang-terangan pemilik tempat kerja saya bilang “If you want to go for pray, just go. I don’t mind that, I don’t forbid you”. Saya sendiri yang malah merasa tertampar, karena kadang malah menunda-nunda waktu ibadah.

Bertemu sesama muslim dari belahan bumi dan negara yang lain itu juga menyenangkan, sepeti ketemu saudara jauh. Salah seorang teman kerja saya dan chef adalah orang Bangladesh, keduanya muslim. Seringnya, mereka akan mengingatkan kalau waktu berbuka sudah tiba.

“It’s break-fasting time brother, lets eat”

Iya, di Sydney memang nggak terlalu banyak masjid, jadi adzan nggak akan terdengar, kecuali suara adzan dari aplikasi smartphone, yang biasa saya gunakan untuk melihat waktu ibadah setiap harinya. Menyenangkannya, ketika waktu berbuka tiba, tetapi jam kerja belum selesai,  chef juga masak masakan sederhana untuk berbuka puasa. Seringya sih, dia masak Indomie, di masak ala masakan Bangladesh! Indomie brothaa! Produk dari Indonesia!

Tentu, nggak cuma yang puasa aja dikasih makanan sama si chef. Yang nggak puasa pun juga diajak makan berasama. Damai banget kan rasanya? Pernah juga, pemilik Mondo Kitchen juga membelikan makanan halal favorit saya Drunken Noodle atau Pad Ki Mao untuk saya berbuka. Mayan, dapet traktiran gitu! Duh, senangnya ya, kalau seluruh manusia bisa selalu berdamai seperti ini? No war, no hate, just peace for the world please!

5. Pengalaman Pertama Bekerja Keras Sambil Tetap Berpuasa

Tiap hari bikin yang kayak gini, meski lagi puasa sekalipun
Tiap hari bikin yang kayak gini, meski lagi puasa sekalipun

Saya ingat, menjelang bulan ramadhan tiba, chef sempat menanyai saya seperti ini. “Ramadhan will come in a few days, are you okay working like this while fasting?”. Mungkin dia khawatir, karena dia tahu saya belum pernah bekerja pakai otot seperti ini ketika puasa. Si chef manager saya ini tahu, background pekerjaan saya sebelumnya adalah kerja kantoran, yang meski puasa ngak akan banyak bermasalah karena nggak pakai banyak tenaga.

Memang, meski kerjaan saya di Mondo Kitchen hanya bikin kue, tetapi tetap saja, ada urusan angkat-angkatnya. Yah, minimal saya angkat beban 10 KG sampai 25 KG, ketika membuat adonan kue. Belum lagi, saya tiap hari kerjanya kan bikin kue. Pun saya belum pernah, saya sudah mempersiapkan diri. Minimal, saya sudah terbiasa bekerja keras. Jadi, bulan puasa atau tidak, rasanya tidak akan jauh berbeda. “I will be fine chef, I already get used to it. Moreover, fasting time in Australia is shorter than in Indonesia. I’m okay “ Jawab saya.

6. Trekking Pertama Selama 4 Jam Di Bulan Puasa

Seperti tahun sebelumnya, meski puasa saya traveling tetap jalan. Kalau pada puasa tahun sebelumnya saya pergi ke Belitung, tahun ini saya berada di Sydney, Australia. Kebetulan, saya dan teman jalan-jalan di Sydney sudah punya rencana untuk trekking ke Wentworth Pass.

Sekedar Informasi saja, Wentworth Pass itu salah satu jalur trekking sejauh sekitar 4-5 jam jalan di punggung bukit. Konturnya sudah pasti naik turun dong? Karena sudah lama direncanakan, ini nggak bisa ditunda lagi. Meski puasa, saya pun tetap menyelesaikan jalur Wentworth Pass, jalan kaki sekitar 4 jam lebih, dengan tetap tidak batal puasa. Meski di tanjakan terakhir penuh dengan perjuangan. Jadi, traveling jalan, puasa juga tetap deh~ No problem~

Me, setelah trekking 4 jam sambil tetap puasa
Me, setelah trekking 4 jam sambil tetap puasa *don’t laugh please!*

Nah, kira-kira ada yang punya pengalaman menarik puasa di negeri seberang juga nggak?

About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di [email protected] Cepetan Ga pake lama ya!
27 Responses
  1. Untung baca ini pas sahur. Dan untung nggak ada foto mbak mbak rok mini yang dipajang :p
    Iya, mas Fahmi beruntung puasa di Aussie yang kebetulan jatuh pas winter. Temenku tahun ini puasa di Swedia yang kayaknya hampir 20 jam di sana. :|

    1. Iya, matahari soalnya kan lagi ada di belahan bumi utara~ wajar kalau eropa dan sekitarnya dapet jatah puasa sampe 20 jam. Lah, australia di selatan, yang lagi winter pula, malah dapet diskon sampe 2 jam :D Enak, tapi nggak ada yang jualan takjil disini :(

  2. Mas, puasa masih treking? Jempol banget dah…

    Berarti teman dari berbagai bangsa di tempat kerja yang muslim Mas Fahmi saja ya… Jempol lagi :)

  3. Rizki Khoerunisa

    Juni tahun lalu saya diaustralia yaa kurang lebih sama seperti itu pengalamannya karena pas kesana dalam rangka liburan tinggal dirumah tante saya yg sudah menetap 8 tahun disana setiap main ke tetangganya ditawarin minum Dan saat saya tolak saya bilang saya puasa mereka kaget kok bisa tahan gamakan sama ga minum seharian. Dan serunya akhir bulan puasa atau lebaran tahun lalu di tempat tante ya di Tenterfield NSW turu ln salju I got my first snow. Mungkin itu hadiah yg Allah kasih setelah sabar menahan segala godaan dibulan ramadhan.

  4. Semangat kak Fahmi, hidup di minoritas muslim ternyata juga menyenangkan apalagi pemilik tokonya juga toleran. Happy fasting ya, hampir lebaran koq kak. Pulkam tidak?

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: