Menjaga Surga Indonesia

Goa Pindul kelebihan muatan (kiri), Pulau Sempu dan sampah (tengah), Tanjakan "putus" Cinta, TNBTS (kanan).
Goa Pindul kelebihan muatan (kiri), Pulau Sempu dan sampah (tengah, sumber), Tanjakan “putus” Cinta, TNBTS (kanan).

“Di Indonesia sekarang ini sedang booming dengan yang namanya jalan – jalan, semua orang berlomba – lomba untuk mencari surga di Indonesia. Sayangnya, yang berusaha menjaganya belum sebanyak jumlah para pencari surga itu”

Siapa yang enggak kenal sama Indonesia? Tau Gunung Semeru yang ada di taman nasional Bromo Tengger Semeru kan? Tau Pulau Sempu yang seharusnya cagar alam tetapi sekarang ini mahal menjadi salah satu destinasi yang populer? Ada lagi Goa Pindul di Yogyakarta yang sempat menjadi topik pembicaraan di social media karena over kapasitas beberapa waktu lalu.

Oke,! Saya hanya mengambil sampel dari sekian banyak surga di Indonesia untuk saya bahas di tulisan “Menjaga Surga Indonesia” ini. Dari semua destinasi yang saya ambil secara acak tadi, ketiganya memiliki kesamaan. Pertama, ketiganya mempunyai magnet yang bisa memukau setiap orang yang datang ke tempat itu. Kedua, ketiganya mempunyai masalah gara – gara terlalu banyak orang yang mengunjunginya. Kata orang sih, itu bahaya laten turisme masal!

Tanjakan Cinta Jadi tanjakan Putus Cinta #hiks #saveSemeru dengan eco traveling
Tanjakan Cinta sekarang kok Jadi tanjakan Putus Cinta #hiks #SaveSemeru dengan eco traveling

(sumber http://pics.lockerz.com/s/262819596)

Goa Pindul kelebihan muatan ( Foto oleh : Arif Sulistyo / @kenalidirimu )
Goa Pindul kelebihan muatan ( Foto oleh : Arif Sulistyo / @kenalidirimu )

Turisme masal memang kadang menjadi momok tiap destinasi wisata, apalagi jika penanganannya kurang benar. Seperti saya pernah mendengar kabar Gunung Semeru yang ekosistemnya mulai terganggu karena pendakian masal yang kurang bertanggung jawab, juga berita Goa Pindul yang over kapasitas karena ada ratusan orang memenuhinya. Wah, bahaya banget ya efek turisme masal?

Enggak selalu begitu sih, sebenarnya menurut saya traveling rame – rame  itu enggak salah juga, asal bertanggung jawab (red : turisme masal). Turisme masal yang cenderung merusak, yaitu turisme masal tanpa di imbangi dengan manajemen yang baik tiap destinasi. Hal itu tentunya secara perlahan tapi pasti akan merusak sebuah destinasi, jika dibiarkan terus menerus.

Selain turisme masal, berdasarkan pengalaman saya traveling di dalam negeri dan membandingkannya dengan ketika saya traveling di luar negeri, masalah utama tiap destinasi yang pernah saya kunjungi adalah “sampah”. Ya, hampir tiap destinasi yang saya kunjungi di Indonesia pasti ada saja sampah yang dibuang secara ngawur! Padahal di banyak tempat sudah disediakan tempat untuk membuang sampah. Yah, meski kadang mencari tempat sampah di Indonesia itu memang lebih susah dari pada nyari tempat parkir sih.

Yang terakhir, berdasarkan pengalaman saya traveling saya selama ini vandalisme juga bisa merusak. Meskipun secara tidak langsung, namun saya sendiri sebagai pejalan selalu sebal ketika melihat alam yang alami dan cantik dihiasi oleh vandalisme yang merupakan coretan – coretan alay dan tidak perlu.

Cinta alam kok corat - coret?
Cinta alam kok corat – coret?

Lantas? Bagaimanakah seharusnya menyelesaikan masalah – masalah itu? Apakah harus menyalahkan setiap jurnalis, travel writer, travel blogger atau apapun dan siapapun yang telah menyebarluaskan surga di indonesia itu? Menurut saya sih, mencari kambing hitam atau menyalahkan seseorang tidak akan pernah menyelesaikan masalah – masalah ini.

Terlalu bergantung kepada pemerintah agar membuat peraturan untuk mengontrol dan menetapkan peraturan untuk menjaga kelestarian tiap surga yang ada di Indonesia juga merupakan tindakan yang terlalu egois. Karena pemerintah hanya membuat peraturan saja, sedangkan rakyatnya yang menjalankan. Termasuk para pejalan dan para pencari surga.

Solusinya sebenarnya sederhana. Memulai dari diri sendiri dan memberikan contoh pada yang lain dengan perbuatan adalah yang paling logis untuk dilakukan. Tidak muluk – mulu dan tidak perlu mengluarkan biaya yang besar juga kan? Contoh mudahnya, masalah “buang sampah sembarangan” yang sudah menjadi masalah umum di tiap destinasi wisata sebenarnya bisa dengan mudah diatasi jika tiap pejalan dengan rela membawa tas khusus untuk menyimpan sampahnya, dan kemudian dibuang pada tempat yang benar.

Bawa tas sampah sendiri, solusi sederhana tapi bermanfaat
Bawa tas sampah sendiri, solusi sederhana tapi bermanfaat

Atau bisa memakai cara apapun, asal jangan ngawur saja membuangnya. Andaikan tiap pejalan bisa seperti itu, pastinya tidak akan ada Pulau Sempu yang penuh dengan sampah, atau Ranu Kumbolo yang kotor setelah pendakian masal. Anak cucu kita pun masih bisa tersenyum lebar menikmati surga indonesia yang masih terjaga :)

Selanjutnya, tentang turisme masal yang merusak seperti kasus Goa Pindul yang ada di Yogyakarta. Seharusnya bisa diatasi dengan manajemen yang baik, peraturan menjaga lingkungan yang ketat, dan kesadaran diri tiap pejalan. Kalau sudah begitu, turisme masal bisa menjadi alternatif yang murah dan tidak merusak.

Tentang turisme masal ini, saya ada pengalaman menarik yang bisa untuk pelajaran. Yaitu ketika saya traveling ke Jepang beberapa waktu lalu. Waktu itu saya mengunjungi sebuah gunung bersalju namanya Gunung Tateyama. Ketika saya disana, ada lebih dari seribu orang mengunjungi tempat itu dalam satu waktu, tetapi saya tidak melihat sedikitpun gunung itu menjadi rusak atau sampah yang bertebaran dimana – mana. Kenapa bisa begitu? Karena waktu kunjungan diatur dengan baik, dan ada kuota pemberangkatan tiap jam, sehingga tidak ada yang namanya over kapasitas. Tentunya semua operator tur diwajibkan untuk mematuhinya.

Ramai, tetapi teratur dan enggak kotor sama sekali :)
Ramai, tetapi teratur dan enggak kotor sama sekali :)

Untuk kasus Goa Pindul seharusnya bisa dong di atur seperti itu? Para traveler senang bisa menikmati Goa Pindul sampai kapanpun karena terjaga kelestariannya, dan ekonomi para penduduk lokal setempat juga terbantu karena akan selalu ada pengunjung. Bagaimana misalnya jika karena turisme massal yang tidak diatur dengan baik, kemudian ekosistem suatu destinasi wisata menjadi rusak, dan tidak ada lagi yang mau datang. Yang rugi siapa? (baca lebih lanjut tentang solusi pada Goa Pindul : http://efenerr.com/2013/11/04/bagaimana-menyikapi-carut-marut-goa-pindul/)

Vandalisme juga masalah penting yang ikut berperan merubah surga di Indonesia bisa menjadi neraka. Terkesan sederhana sih sebenarnya, cuma corat – coret alay saja untuk meninggalkan jejak dan mengukuhkan kalau saya sudah pernah disana, “I was there!“. Hei? Kalau cuma mau pamer saya sudah pernah disana, kenapa enggak foto narsis aja?

Toh sekarang teknologi sudah maju, tiap telpon seluler kebanyakan sudah punya kamera sendiri. Selain itu kamera digital nan canggih juga sudah kian menjamur. Tetapi kenapa harus corat – coret dan melakukan vandalisme di alam? Kalau narsis sampai najis dengan kamera digital bisa mudah dilakukan? Ayolah, gunakan logika, jadilah pejalan yang smart, tanpa melakukan vandalisme!

Terakhir, yang juga tidak kalah penting, harusnya tiap pejalan selalu ingat dan menjalankan tiga hal yang ini :

  1. Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak, dan kenangan manis :)
  2. Jangan ambil apapun kecuali foto narsis sampe najis!
  3. Jangan membunuh apapun kecuali waktu dan perasaan galau!

Hal yang beratkah melakukan 3 hal sederhana itu? Ya! ketiga hal tersebut memang hal yang kecil dan tidak seberapa, tetapi akan berpengaruh besar terhadap turisme yang berkelanjutan. Yang tentunya akan bisa menjaga surga, tetap menjadi surga di Indonesia. Ngaku cinta Indonesia? Kalian pasti bisa melakukannya :)

Emangnya mau yang seperti ini hilang dari Indonesia? :)
Emangnya mau yang seperti ini hilang dari Indonesia? :)

PS : Tulisan ini juga diikutkan dalam Kompetisi “Lestari Wisata Indonesia” Bersama Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Kompasiana (http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/11/24/menjaga-surga-indonesia-612629.html). Semoga bisa bermanfaat untuk yang peduli dengan pariwisata berkelanjutan di Indonesia.

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di catperku@gmail.com. Cepetan Ga pake lama ya!
11 Responses
  1. pang

    Memang sangat menyedihkan melihat kenyataan mayoritas turis lokal yang tdk pny kesadaran dalam menjaga kebersihan tempat wisata. Ditambah pengelola nya juga terkesan seolah tdk peduli. Sewaktu saya berkunjung ke air terjun madakaripura, saya bersama teman2 saya malah mengumpulkan sampah2 plastik yang ditemukan di sepanjang perjalanan pulangnya. Saya rasa sikap begini perlu dicontoh.

    1. Rijal Fahmi Mohamadi

      iyaa, masalah utamanya memang mayoritas orang indonesia belum sepenuhnya sadar buang sampah sembarangan itu bakal berefek buruk untuk lingkungan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. sudah banyak destinasi yang jadi rusak gara – gara itu. Sebagai travel blogger saya hanya bisa membantu mengingatkan dan memberi contoh dengan perbuatan saja. Semoga semakin banyak yang peduli tentang ini, sebelum surga di indonesia hilang satu per satu :)

  2. kadang sih ya, saya berpikir mendingan gak usah review tempat yang pernah kita kunjungi. *kadang* yaa sebenernya indonesia itu lagi demam liburan sih. libur 2 hari dipake liburan. engga libur pun sengaja di-libur-liburan-kan. sebenernya faktor utama sih mungkin karena begitu banyak promo maskapai lah, transport lah, terus fakor “panas hati”. secara kan indonesia orang-orangnya mayoritas “latah”. liat ini pengen, liat itu pengen. masalah sekarang, begitu banyak orang-orang latah ini masuk kedalam sistem yang manajemennya kurang mengorganisir orang-orang latah ini. makanya terjadilah fenomena “menumpuk” seperti yang dijelaskan diatas. nice topic! saya salut topik-topik seperti ini diangkat namun tetep tidak menggurui dan tidak terkesan “secara gue” :D

    1. Rijal Fahmi Mohamadi

      hahaa, saya sih review – review aja :) yang penting selalu sisipi pengetahuan, bagaimana menjadi pejalan yang baik :) kalau masalah latah, emang iya sih :P budaya baru itu :D

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: