Cerita Papandayan : Lets Go Papandayan!

Sekitar jam 2 dini hari saya baru sampai ke pertigaan jalan yang menuju Gunung Papandayan. Dan, inilah resiko yang didapat ketika berangkat sore hari dari Jakarta. Cuma enaknya sampai dini hari, kita bisa mulai naik sekitar jam 5:30, dimana matahari masih di peraduan dan cuaca bisa dibilang masih adem. Jarak dari pertigaan hingga menuju post awal pendakian masih lumayan jauh. Di peta saya menunjukkan jarak masih sekitar 9 km lagi, dengan jalan menanjak dan sedikit berkelok – kelok.

Jarak yang masih lumayan jauh dari pertigaan jalan cisurupan menuju pos awal pendakian Gunung Papandayan.
Jarak yang masih lumayan jauh dari pertigaan jalan cisurupan menuju pos awal pendakian Gunung Papandayan.

Awalnya saya memutuskan untuk berjalan kaki saja, anggapan saya dengan jarak tempuh yang hanya 9 km, paling tidak bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 1,5 – 2 jam perjalanan. Namun hal itu urung saya lakukan, karena pertimbangan ada teman – teman baru yang terbantu jika menyewa mobil bak terbuka sampai pos awal pendakian. Memang ada dua pilihan untuk menuju pos pendakian, salah satunya adalah jalan kaki, dan yang lainnya adalah menyewa mobil bak terbuka yang langsung mengantarkan hingga pos.

Sebenarnya jalur menuju pos hanyalah jalan beraspal yang rusak, yang menurut saya malah bikin pantat aduhai sakitnya jika menuju pos dengan duduk santai di mobil bak terbuka. Enaknya, dengan tiba lebih pagi di pos pendakian, nantinya bisa beristirahat terlebih dahulu sambil ngopi – ngopi ria. Waktu tempuh hingga pos pendakian kira – kira 30 menit, enggak lebih. Kecuali mobil yang kalian tumpangi ban-nya  bocor di tengah jalan :p

Untuk sebuah pos awal pendakian, fasilitas yang ada di pos pendakian awal Gunung Papandayan ini termasuk mewah dan lengkap. Ada beberapa warung yang siap memanjakan perut, ada juga listrik dari genset yang siap memberi makan gadget peliharaan, sehingga tetap bisa bernarsis ria nantinya ketika mendaki (dengan catatan, harus beli makanan di warung, dan numpang charging gadget).

Di pos pendakian ada juga satu kamar mandi yang bisa digunakan untuk keperluan bersih – bersih diri. Entah untuk cuci muka atau mandi, terserah! Saya sih enggak mau, mengingat suhu udara saja sudah bisa bikin menggigil, apalagi mandi dengan air sedingin es! Kalian mau? Saya sih cuci muka aja sudah cukup :D

Jam 5:30, Mari Mendaki

Untuk yang sudah sering mendaki, rute menuju pos tempat kemping yaitu Pondok Salada masuk ke dalam kategori ringan, sehingga enggak terlalu berat untuk pemula seperti saya. Pastikan saja membawa alat penerangan yang memadai jika memulai pendakian di pagi buta.

Berdasarkan pengalaman saya kemarin, ber-navigasi malam hari memang lumayan sulit. Beberapa kali saya harus melihat peta di gadget yang ternyata juga tidak banyak membantu. Tipsnya, lihatlah dengan seksama sisa – sisa jejak ditanah, hal itu akan lebih membantu.

Trek awal Gunung Papandayan adalah kawah belerang yang masih aktif, jadi akan tercium bau belerang yang lumayan tajam sepanjang jalur awal. Selanjutnya trek akan melewati sungai kecil, yang penuh dengan batu. Batu tadi bisa digunakan sebagai pijakan jika tidak ingin kaki basah dah kedinginan.

Trek terakhir yang ujungnya adalah Pondok Salada, lumayan menanjak dengan pijakan batu kerikil dan pasir yang licin. Berhati hatilah disini, karena salah pijakan bisa saja jatuh dan tergelincir. Tanpa tersesat, saya sampai pondok salada pada pukul 07:00 atau dengan 2,5 jam jalan kaki.

Pondok Salada, Mari Mendirikan Tenda

Saya sampai di Pondok Salada terlalu pagi, mau langsung naik ke puncak pun masih terlalu kepayahan. Jadinya mendirikan tenda adalah pilihan bagus, dan ketika saya datang sudah ada beberapa tenda yang berdiri di tempat ini. Entah dari kapan mereka mendirikan tendanya. Dari pengalaman teman saya yang sudah beberapa kali mendaki gunung, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika mendirikan tenda, beberapa adalah :

  1. Usahakan cari tempat yang datar, agar mudah untuk mendirikan tenda.
  2. Cari tempat yang terlindung, karena jika ada badai atau angin kencang tenda akan tetap kokoh berdiri. hembusan angin kencang akan tertahan pelindung seperti bebatuan atau pepohonan.
  3. Lebih baik tenda didirikan dibawah pohon, jadi enggak terpapar langsung panas matahari :D *adem*

Tenda yang saya bawa adalah tenda dome yang bisa dipasang dalam beberapa puluh menit saja. Jadinya saya bisa segera sarapan dan kemudian tidur~~ Jujur saja, saya kurang tidur sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju Garut. Lebih baik tidur dulu, dan siangnya baru naik sampai ke Tegal Alun dan berburu foto di “Dead Forest”. Eh? Apa itu hutan mati? Tunggu tulisan selanjutnya ya~ Saya mau tidur dulu :P

Bersambung ke Cerita Papandayan  : Hike The Summit! Find The Dead Forest

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di [email protected] Cepetan Ga pake lama ya!
5 Responses
  1. Cerita Papandayan : Hike The Summit! - @catperku

    […] sampai di Pondok Salada pada pagi hari, setelah memulai pendakian dari pos awal pada jam 05.30 pagi. Pondok salada bisa dibilang sebuah […]

  2. Malam Terakhir Yang Kacau, Berburu Sunrise Di Hutan Mati @catperku

    […] membeku. Sleeping bag pun ternyata tidak terlalu ampuh untuk menghalau hawa dingin pagi hari Gunung Papandayan. Padahal sarung yang tadinya saya pakai di leher sudah saya gunakan untuk membalut kaki, dengan […]

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: