Cerita Papandayan : Akhir Minggu Kabur Ke Gunung Papandayan

Weekend atau akhir minggu adalah hari yang selalu ditunggu para weekend getaway lover seperti saya. Weekend bisa dibilang adalah hari yang sakral untuk para tawanan kapitalis kantoran, terutama yang tinggal di ibu kota. Apalagi Jakarta adalah kota yang kering dengan destinasi alam yang bisa bikin pikiran seger.

Untungnya disekitar jakarta ada banyak sekali destinasi alam yang bisa dikunjungi tanpa memerlukan cuti yang menurut saya harganya lebih mahal dari emas itu. Dan, Gunung Papandayan yang berada di daerah Garut adalah destinasi weekend getaway yang saya pilih kali ini. *sebenernya udah ngebet banget pengen dikunjungi dari lama sih*

Bersama teman baru di Gunung Papandayan
Bersama teman baru di Gunung Papandayan

Gunung Papandayan yang jaraknya kurang lebih sekitar 240 km dari jakarta ini, bisa ditempuh dalam waktu 5-6 jam. Rute untuk mencapainya pun juga ada banyak pilihan, mulai dari bus sampai kereta juga ada. Namun berdasarkan perhitungan saya, Jika dari jakarta, naik bus adalah cara yang paling efisien untuk menuju Gunung Papandayan.

Ada dua terminal utama di ibu kota yang bisa bisa digunakan sebagai titik awal keberangkatan menuju Gunung Papandayan, Garut. yang pertama adalah Terminal Kampung Rambutan dan yang kedua adalah Terminal Lebak Bulus. Naik dari manapun jalan yang akan dilewati akan sama yaitu menuju Bandung terlebih dahulu baru ke Garut, lewat jalan tol Cipularang. yang membedakan adalah akses menuju kedua terminal tersebut.

Peta jalur Jakarta - Garut melewati jalan tol Cipularang
Peta jalur Jakarta – Garut melewati jalan tol Cipularang

Karena saya kemarin berangkat dari terminal Kampung Rambutan, saya akan sedikit membahas lebih detail rute keberangkatan melalui jalur ini. Dari Jakarta Pusat, Terminal Kampung Rambutan bisa dicapai dengan bus ac yang lewat jalan Jendral Sudirman (bus ac jurusan Tanah Abang – Kampung Rambutan).

Alternatifnya terminal kampung rambutan juga bisa dicapai dengan Trans-Jakarta meskipun harus beberapa kali transit. Sampai di Terminal Kampung Rambutan, kemungkinan besar bus akan menurunkan di luar terminal, jadi bisa menunggu diluar terminal atau masuk ke dalam terminal untuk mencari bus dengan tujuan Garut.

Mencarinya pun enggak terlalu ribet, tinggal jalan saja pasti banyak yang nanya “mau kemana mas?” , “ke puncak mas?”, “bandung – banduuung…”, “lamar saya cepet – cepet dong mas” eh, kalau yang terakhir tadi pasti yang bilang pacar saya :p

Kalau yang belum pernah main – main ke terminal, jangan kaget ya,- terminal di Indonesia emang gitu. Ada banyak banget yang suka kepoin kita kemanapun melangkah. Entah itu calo tiket, preman, kenek bus sampai mbak – mbak yang mau ngajak kenalan. Yang penting tetap pede aja, fokus sama tujuan awal.

Kata temen yang sudah expert traveling ke Kota Garut, sebenarnya paling enak naik bus dari terminal Lebak Bulus, karena ada bus ekonomi ac Primajasa yang tarifnya pasti. *enggak kena inflasi seenaknya sama kernet*. Sedangkan dari terminal Kampung Rambutan sebaiknya tanya – tanya dulu harganya berapa sampai terminal Guntur Garut, baru cincau naik busnya. Jangan asal naik, yang ternyata disuruh bayar bermilyar – milyar. *miris*

Setelah dapat bus dan duduk manis didalamnya, coba cek apakah persediaan cemilan selama perjalanan masih ada, kalau belum bolehlah berbagi rejeki dengan membeli jajanan yang dijual pedagang kaki lima yang hobi bersliweran keluar masuk bus. Saran saya buruan beli, karena setelah bus masuk jalan tol, enggak akan ada lagi pedagang yang sliweran keluar masuk. Tapi kalau cuma berhenti di tol sih sering. Unik memang, meskipun sudah ada larangan “Dilarang menaikkan dan menurunkan penumpang di jalan tol“, supir bus bakal cuek aja, gak peduli. Mungkin sudah prinsip mereka kalau peraturan ada untuk dilanggar. Jangan ditiru ya teman – teman :)

Pedangang asongan menawarkannya sebagai gehu. Mirip seperti tahu isi, cuma yang ini alotnya minta ampun :|
Pedangang asongan menawarkannya sebagai gehu. Mirip seperti tahu isi, cuma yang ini alotnya minta ampun :|

Sebisa mungkin berangkat dari Jakarta sebelum dini hari lebih enak lagi kalau sore hari. Paling enggak sekitar jam 19.00 udah duduk manis kayak artis didalam bus. Jadi nanti bisa bobok manis di sepanjang perjalan menuju Garut. Kalau saya kemarin cuma bisa bobok manis sampai keluar pintu tol Padalarang saja.

Kenapa? Sudah pasti karena keluar jalan tol jadi banyak pedagang sliweran naik turun bus sambil meneriakkan dagangannya. Kebetulan juga saya tertarik dengan teriakan pedagang yang meneriakkan “gehu gehu gehu” yang setelah dibeli teman saya ternyata mirip Tahu Sumedang plus tepung yang alotnya minta ampun! rada nyeselt sih ==” *tapi paling enggak penasarannya ilang deh* Selanjutnya, jika perjalanan lancar paling enggak akan sampai ke Terminal Guntur sekitar Jam 1 dini hari.

Setelah sampai terminal Garut bisa coba makan dulu, atau jika ingin ke toilet ada satu toilet umum di depan pintu masuk Terminal Guntur, Garut. Pintu masuk menuju Gunung Papandayan masih lumayan jauh dari Terminal Guntur, perlu naik angkot lagi sekitar 45-1 jam perjalanan tergantung keberuntungan mendapatkan supir angkot yang selow, atau supir angkot ex-driver formula one.

Biasanya harus nunggu sampai 15 orang, atau men-charter angkot jika sudah enggak ada pilihan lagi. Beruntung saya kemarin ada barengan, selain saya dan kedua orang teman saya, ada 5 orang lagi yang juga datang dari Jakarta. Dan kami sepakat untuk mencharter si angkot hingga pertigaan ke arah Gunung Papandayan.[]

Angkot yang mengantarkan dari Terminal Guntur sampai pertigaan menuju Gunung Papandayan
Angkot yang mengantarkan dari Terminal Guntur sampai pertigaan menuju Gunung Papandayan

Bersambung ke Cerita Papandayan  : Lets Go Papandayan!

Tahukah Kamu?

  • Terminal lebak bulus memang lebih dekat, tetapi transportasi yang nyaman dan reliable, cuma untuk saya yang kerja di daerah semanggi, kampung rambutan adalah pilihan, karena ada bus ac yang menuju kampung rambutan. Lagipula tarif bus menuju garut dari jakarta sama saja, yaitu Rp. 42.000 ( Data bulan september tahun 2013 )
  • Asiknya naik bus umum adalah bisa mencoba makanan yang aneh – aneh. Persiapkan saja perut untuk menerimanya, seperti kemarin saya sempat mencoba makanan yang namanya “gehu” *semoga tidak salah denger*
  • Pastikan membawa perbekalan yang cukup, entah makanan dan minuman untuk di bus atau untuk di Gunung Papandayan nantinya. Jangan seperti saya kemarin yang beli minuman di terminal Kampung Rambutan, harga minuman pun jadi dua kali lipat dari harga normal. Kalaupun lupa, mending beli ke pedagang asongan yang harganya masih lebih wajar. Di dekat terminal Guntur, Garut juga ada satu mini market, sayangnya tidak buka 24 jam.
  • Dalam kondisi normal, jarak tempuh Jakarta Garut dengan bus adalah 5-6 Jam.
  • Tarif normal angkot dari Terminal Guntur, Garut sampai pertigaan menuju Gunung Papandayan adalah Rp. 7000 – 8000 rupiah pada siang hari, dan Rp.15000 pada malam hari (dengan catatan ada 15 orang penumpang baru berangkat). Meskipun begitu coba nego saja ketika jumlah orang kurang dari 15 atau tidak mau menungu terlalu lama. Kemarin untuk 8 orang, saya berhasil mendapatkan harga Rp. 20.000 per/orang. (Data bulan september tahun 2013).

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di catperku@gmail.com. Cepetan Ga pake lama ya!
%d bloggers like this: