Keraton Yogyakarta, The Living Museum!

Rate this post

Sejak dulu, Keraton Yogyakarta selalu menjadi destinasi favorit saya ketika berkunjung ke Kota Gudeg. Berapa kalipun berkunjung, sepertinya saya tidak akan pernah bosan.

Berkunjung Ke Keraton Yogyakarta, Kediaman Sri Sultan
Berkunjung Ke Keraton Yogyakarta, Kediaman Sri Sultan

Menembus Waktu, Menikmati The Living Museum, Keraton Yogyakarta!

Melewati gerbang utama Keraton Yogyakarta, saya seakan terbawa ke masa lampau, dimana zaman kerajaan di indonesia masih begitu berjaya. Kini ratusan tahun sesudahnya, sisa – sisa masa kejayaan tersebut masih begitu terasa. Bahkan sepertinya Keraton Yogyakarta adalah destinasi paling seksi di kota ini. Tidak hanya turis lokal dan traveler gembel seperti saya yang datang ke sini, tetapi juga bule dari mancanegara.

Dulu saya selalu berkunjung ke Keraton Yogyakarta dalam grup, entah grup ketika study tour waktu SMP atau ketika diajak ibuk saya sebagai wali kelas yang menemani grup study tour murid – muridnya. Sekarang, ketika saya datang berkunjung sendirian, saya jadi bingung. Karena tidak tahu dimana beli tiket masuknya, dan harganya berapa. *efek traveling tanpa rencana*

Tempat pembelian tiket masuk ternyata ada di dekat gerbang utama keraton, perhatikan juga kalau pembelian tiket untuk turis lokal dan mancanegara dipisah. Jangan sampai salah seperti saya, dengan pedenya bilang

Pak, tiketnya satu berapa? Kalau Bawa kamera tambah berapa pak?

Mas e dari mana?”  Si bapak malah balik bertanya.

Saya dari Bali pak” Jawab Saya.

Oh, dari Bali toh, beli tiketnya di sebelah sana mas, lebih murah mas e. Kalau disini buat turis asing” sahut si bapak penjaga loket.

Doh! ternyata saya salah tempat, saya tanya di tempat penjualan tiket masuk untuk turis asing. Langsung deh saya ngacir ke tempat pembelian tiket untuk turis lokal setelah mengucapkan terima kasih kepada bapak tadi. Ternyata harga tiket masuk Keraton Yogyakarta pun cuma Rp.5000 ditambah Rp.1000 untuk ijin kamera.

(Baca Juga : Mesin Waktu Itu Bernama Ullen Sentalu)

Masuk kedalam area Keraton Yogyakarta, kesannya terasa lebih luas jika dibandingkan kunjungan saya yang terdahulu. Memang saya sudah lama sekali tidak berkunjung ke tempat ini, meskipun sering menginjakkan kaki di Kota Gudeg. Dan Kali ini saya sengaja mengalokasikan waktu untuk menikmati Keraton Yogyakarta, sambil bernostalgia mengenang masa kecil dulu.

Salah satu bagian dalam Keraton Yogyakarta
Salah satu bagian dalam Keraton Yogyakarta

Benar saja, ketika baru masuk ke dalam area Keraton Yogyakarta, saya sudah disuguhi oleh pertunjukan wayang kulit. Sepertinya saya datang di waktu yang pas. Dari informasi yang saya dapatkan, memang setiap sabtu biasa diadakan pertunjukan wayang kulit di Bangsal Srimanganti. Saking senengnya karena sudah lama sekali tidak menyaksikan pertunjukan wayang kulit, saya pun berhenti sejenak untuk menyaksikannya.

Dulu saya sering diajak nonton wayang kulit sama ayah saya, dan seringnya nonton pada waktu malam hari dengan cerita wayang yang berbeda beda. Kebetulan pertunjukan kali ini dimainkan siang hari, dan dalang sedang memainkan lakon karakter PetrukSemar, dan Gareng.

Biasanya jika mereka muncul cerita yang dimainkan pasti cerita lawak atau dagelan. Sayang saya kurang bisa mengerti apa yang diucapkan oleh si dalang, karena dia menggunakan Bahasa Jawa halus. Memang sih, saya orang Jawa asli, tetapi sepertinya kemampuan berbahasa Jawa halus saya semakin lama semakin berkurang saja. *hiks* *malu deh*

(Baca Juga : Transformasi Sebuah Benteng Vredeburg)

Pertunjukan wayang kulit diadakan tiap hari Sabtu di Keraton Yogyakarta
Pertunjukan wayang kulit diadakan tiap hari Sabtu di Keraton Yogyakarta

Yang menarik dari Keraton Yogyakarta tidak cuma pertunjukan wayang kulit-nya saja, ada banyak hal yang bisa dinikmati di dalamnya. Bisa dibilang keraton ini adalah sebuah living museum satu – satunya di indonesia, karena didalamnya banyak terdapat beberapa ruangan yang khusus menyimpan koleksi benda antik. Uniknya sampai sekarang aktifitas keraton masih berjalan seperti dahulu.

Tiap ruangan tadi di jaga oleh seorang abdi dalem keraton dengan tampang serius. Tapi tenang saja mereka sebenarnya baik kok, kita juga bisa foto bareng dengan mereka. Selain itu beberapa abdi dalem ini ada juga yang bisa di jadikan guide yang menemani petualangan kita di dalam Keraton Yogyakarta.

Beberapa area yang saya kelilingi adalah Area Gedhong Kaca (Museum HB IX) dan Kasatriyan. Keduanya adalah tempat dimana banyak koleksi Keraton Yogyakarta tersimpan. Seperti beberapa piagam penghargaan Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang diberikan oleh pemerintahan Indonesia. Di area Gedhong Kaca juga, saya jadi tahu kalau sultan mempunyai hobi fotografi. Terlihat dari beberapa koleksi kamera antik dan buku – buku fotografi yang di pamerkan ditempat ini.

(Baca Juga : Balada Prawirotaman, Kampung Turis Di Yogyakarta)

Buku fotografi koleksi Sri Sultan
Buku fotografi koleksi Sri Sultan
Kamera antik koleksi Sri Sultan, enggak tahu masi bisa dipake apa enggak :D
Kamera antik koleksi Sri Sultan, enggak tahu masi bisa dipake apa enggak :D

Sedangkan di Kasatriyan tersimpan bermacam – macam benda antik yang sebagian besar berasal dari era kolonial. Benda seperti Jam antik, dan  Berbagai Macam jenis Baju tradisional yang biasa dipakai ketika ada kegiatan khusus di keraton pun ditampilkan dengan rapi disini.

Ada juga ruangan khusus yang seharusnya menampilkan koleksi lukisan keraton, tetapi ketika saya masuk untuk melihat – lihat, banyak tempat lukisan yang kosong. Mungkin karena bersamaan dengan acara Grebeg Sekaten, ada beberapa koleksi yang diambil untuk ditampilkan di acara itu.

Untuk ukuran living museum, Keraton Yogyakarta adalah yang terbaik dimasanya. Semoga keaslian dari tempat ini tidak akan pernah dimakan zaman, lebih bagus lagi kalau ditambahkan informasi tertulis dari tiap koleksi keraton. Tentunya penambahan tersebut akan banyak membantu pengunjung untuk lebih mengetahui tentang seluk beluk Keraton Yogyakarta lebih dalam. Nah, asik bukan!? Tertarik juga!??

(Baca Juga : Mengagumi Candi Ijo Sekaligus Lansekap Yogyakarta Dari Ketinggian)

Tahta Untuk Rakyat, begitulah seharusnya seorang pemimpin.
Tahta Untuk Rakyat, begitulah seharusnya seorang pemimpin.

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di catperku@gmail.com. Cepetan Ga pake lama ya!
16 Responses
  1. Yogyakarta Murah - Yogyakarta Sepuluh Ribu Saja!!!

    […] ingin makan Gudeg Jogja, jalan – jalan di Malioboro, dan mengunjungi beberapa Museum termasuk Keraton Yogyakarta. Penginapan pun saya mencari dengan cara go show, walaupun akhirnya harus memaksa saya menginap di […]

  2. Saya gak sempat keliling banyak di Museum Keraton setahun yang lalu karena terbatasnya waktu.
    Semoga kelak bisa berkunjung lagi kemari. Bener2 menarik.
    Walaupun besok ke Jateng, saya hanya ke Ungaran saja tuh he he.
    Trims Mas.
    Salam kenal :)

  3. Ruslan

    haha sama saya juga dulu ga tahu tiketnya berapa gra2 ikut tour, sampai sekarang pun ga tahu.. dan baru tahu, cukup murah ternyata:D

  4. hotel di bandung

    Wah kpengen dari dulu berkunjung ke sana..
    ada yang tau gak kira-kira dari Bandung ke Keraton Jogjakarta jika menggunakan kendaraan umum ongkosnya kisaran berapa ??

    1. byteeater

      mungkin sekitar 160-200 ribu kalau naik malabar atau mutiara selatan :) dengan catatan jalan kaki dari stasiun tugu sampai keraton yogyakarta :)

  5. Yogyakarta kota penuh dinamika, Yogyakarta kota Budaya

    […] pertama Keraton Yogyakarta, terpaksa saya coret karena sudah tutup ketika saya sampai di terminal Giwangan. Kedua Candi […]

  6. Enam Jam Tak Terlupakan Di Yogyakarta

    […] pertama Keraton Yogyakarta, terpaksa saya coret karena sudah tutup ketika saya sampai di terminal Giwangan. Kedua Candi […]

  7. Transformasi Sebuah Benteng Vredeburg - Catperku.info

    […] awal Belanda (VOC) mendirikan Benteng Vredeburg adalah untuk pengamanan Keraton Yogyakarta dan sekitarnya. Meskipun sebenarnya tujuan pembuatan ini yang sebenarnya adalah untuk mengawasi […]

  8. Tempat Nongkrong Asik Di Kuta, Bali : Burger King Kuta Square

    […] tidak seperti beberapa kota favorit saya seperti Malang, atau Yogyakarta yang mempunyai banyak tempat nongkrong asik, yang juga gampang sekali ditemukan. Di sini, mencari […]

  9. saya juga orang jawa, dan pernah sekali nonton pagelaran wayang pas di keraton itu. kayaknya bahasanya bukan bahasa alus lagi, tapi bahasa wayangan. dan itu kadang cuma orang-orang tua aja yang ngerti :D
    oh iya, selain wayang. ada juga lho pagelaran yang lain. tiap hari ada. seingatku kalo sabtu ada tari.

  10. Mas Fahmi tidak menggunakan Guide ya?

    Jika menggunakan guide, pengalamannya pasti lebih seru. Semua diceritakan mulai dari arti filosofis dan penggunaan seragam prajurit dan busana keraton, sampai nama raja-raja.

    Dari situ saya tahu, Hamengkubuwono VII adalah sutan paling kaya, karena berhasil mendirikan 17 Pabrik Gula, hingga dijuluki “Sutan Sugih” / “ingkang dipersugih”. Dalam bahasa indonesia, artinya sutan kaya.

    Dan memiliki istri paling banyak istri. Jumlahnya 18 istri

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: