Cerita Papandayan : Malam Terakhir Yang Kacau, Berburu Sunrise Di Hutan Mati

Dari Pondok Salada saya naik melalui Tanjakan Batu sampai ke Tegal Alun, yang kemudian saya bertemu dengan ranger Gunung Papandayan. Dari pertemuan itu saya mendapat banyak informasi tentang sekitar papandayan, juga mendapatkan pengetahuan baru tentang cantigi yang ternyata bisa dimakan terutama untuk kondisi survival. Hingga akhirnya, saya kembali ke basecamp pondok salada untuk menikmati malam dingin Papandayan.

Tenda yang saya pakai di Papandayan lumayan ngejreng ya ^^
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Tenda yang saya pakai di Papandayan lumayan ngejreng ya ^^

Saya turun dari Tegal Alun melewati tanjakan mamang yang ujungnya adalah hutan mati ketika hari hampir gelap. Ya ini adalah malam pertama saya berkencan dengan dinginnya Gunung Papandayan. Saya memang sudah beberapa kali naik gunung yang suhu malam harinya bisa turun hingga beberapa derajat, saya juga pernah naik gunung es ketika traveling ke jepang. Jadi seharusnya suhu di papandayan tidak akan terlalu menyiksa. Dua jaket tebal yang saya pakai bersamaan dan sarung yang selalu melingkar di leher adalah senjata saya selama disini.

Perut kelaparan, mie tumpah ke tanah pun jadi ;p
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Perut kelaparan, mie tumpah ke tanah pun jadi ;p

Sarung yang melingkar di leher saya ikat semakit erat, air di sumber mata air pun semakin dingin seperti es, tetapi saya enggak menghiraukan karena harus mengambil air untuk masak. Secepatnya saya harus membuat diam perut yang terus menerus berteriak minta diisi makananan ini.

Perbekalan hanya tinggal beberapa bungkus mie instant yang hanya cukup hingga sarapan esok pagi, jadi mau tidak mau harus berbagi rata dengan kedua teman saya. Seperti pagi hari, memasak dilakukan di depan tenda dengan kompor yang telah dibawa, dan disinilah tragedi yang tidak diharapkan terjadi. Karena memasak didalam kegelapan, saya tidak sengaja menumpahkan mie instant yang sudah setengah matang dimasak. “Baguss!! mie-nya tumpah~~!” Ucap saya dengan sedikit berteriak.

Pandangan saya tertunduk ke bawah, melihat ceceran mie instant yang telah tumpah tadi, sampil memikirkan perut yang terus berteriak. “Ah.. sudahlah, diambil lagi yang belum kotor, dan lanjut dimasak aja, kan belum lima menit” Kemudian saya memunguti mie yang telah tumpah tadi di bagian atasnya. Enggak mau rugi sih, soalnya sisa makanan hanya untuk sarapan esok pagi saja. Pilihannya hanya memasak lagi mie yang telah tumpah, atau menahan lapar sampai esok pagi. Saya sih lebih milih pilihan yang pertama, anggap saja survival lah!

Setelah urusan perut selesai dan banyak – banyak berdoa agar tidak sakit perut, saya segera menyiapkan kamera mirrorless kesanyangan saya untuk sesi pemotretan malam. Target saya adalah mencoba mengambil foto galaksi bimasakti yang seharusnya lebih mudah di ambil ditengah gunung yang gelap.

Sayang perkiraan saya salah, saking ramainya Pondok Salada, polusi cahaya dari api unggun dan senter cukup mengganggu. Hanya beberapa jepret foto saja saya ambil, dan hasilnya kurang begitu memuaskan. Apalagi kabur sudah mulai turun, dan langit secara perlahan ditutup. Karena enggak ingin pulang dengan tangan kosong, jadinya saya malah mengambil foto suasana Pondok Salada ketika malam hari.

Ini niatnya kepengen foto bimasakti, cuma kurang puas dengan hasilnya. Terlalu banyak polusi cahaya di Pondok Salada :(
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Ini niatnya kepengen foto bimasakti, cuma kurang puas dengan hasilnya. Terlalu banyak polusi cahaya di Pondok Salada :(

 

Kira - kira kayak gini nih polusi cahayanya. Mungkin kalau di tegal alun bisa lebih sedikit polusi cahayanya, pasti gelap banget
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Kira – kira kayak gini nih polusi cahayanya. Mungkin kalau di tegal alun bisa lebih sedikit polusi cahayanya, pasti gelap banget

Menggigil Demi Sunrise Di Hutan Mati Papandayan….

Entah jam berapa itu, yang jelas saya terbangun karena kaki rasanya semaking membeku. Sleeping bag pun ternyata tidak terlalu ampuh untuk menghalau hawa dingin pagi hari Gunung Papandayan. Padahal sarung yang tadinya saya pakai di leher sudah saya gunakan untuk membalut kaki, dengan harapan kaki tidak kedinginan. Soalnya bagian telapak kaki saya paling enggak kuat menahan hawa dingin, meskipun ternyata tidak banyak berguna. Menggigil kedinginan ternyata ada manfaatnya juga sih, saya jadi ingat tentang rencana berburu matahari terbit dari Hutan Mati.

Meskipun malas masih melekat, saya pun bergegas mencuci muka dengan air yang dinginnya hampir sama dengan suhu es yang membeku. Mencuci muka dengan air dingin memang selalu berhasil untuk mengusir rasa kantuk yang melekat. Jarak dari Pondok Salada ke Hutan Mati masih lumayan jauh, dengan jalan santai paling enggak memerlukan waktu sekitar 30 menit, kalau lari dengan penuh semangat seperti saya, ya 15 menitan lah.

Karena saya agak terlambat bangun, jadi lari mengejar matahari terbit adalah satu – satunya pilihan. Capek banget rasanya, tapi semua terbayarkan begitu menyaksikan pemandangan yang tidak ada duanya. Pemandangan pagi hari Kota Garut di kejauhan, ditambah hangatnya matahari terbit. Nah, siapa yang mau ke Papandayan? Saya masih mau lagi lho :D

Saya rela menggigil demi pemandangan kece seperti ini ^^
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Saya rela menggigil demi pemandangan kece seperti ini ^^

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
IkutiĀ travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakanĀ kerjasama.

Yang Banyak Dicari

Komentar Pembaca Adalah Bahan Bakar Semangat Saya Untuk Terus Menulis!

comments

Fahmi (catperku.com)

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di [email protected] Cepetan Ga pake lama ya!

You may also like...

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

Pin It on Pinterest

%d bloggers like this: