Terios 7 Wonders : Diary Day 3, Gagal Menginap Di Torosiaje

Dari Tompaso, saya dan tim #Terios7Wonders melanjutkan perjalanan menuju utara, dengan tujuan selanjutnya Torosiaje. Jalur yang akan dilewati sendiri adalah membelah lansekap berbukit sulawesi juga menyusuri sebagian besar pesisir Sulawesi Utara.

Prediksinya perjalanan menuju Torosiaje bisa ditempuh dalam waktu 18 Jam saja. Pun nyatanya perjalanan tim #Terios7Wonders menuju Torosiaje memerlukan waktu jauh lebih lama dari perkiraan.

Bukannya sampai tepat waktu seperti perkiraan yaitu jam 12 malam, malah sampai di Torosiaje pada keesokan harinya. Dari yang seharusnya bisa menginap di desa bajo, malah menginap di jalanan.

Semua bukan karena tim jalannya lelet bin ngaret. Memang jalanan Sulawesi bagian utara itu menantang, seluruh jalanan adalah jalur sempit yang hanya cukup untuk satu mobil. Belum lagi ada halangan seperti jalan sedang diperbaiki.

Serta beberapa bagian besar adalah jalanan rusak penuh batu kerikil dan berdebu. Jalanan lurus, hampir tidak bisa ditemukan. Kalaupun ada jalananya pasti tidak terlalu panjang.

Perjalanan Menuju Desa Torosiaje

Jalanan rusak dan tidak beraspal seperti ini menjadi salah satu penghambat perjalanan tim Terios 7 Wonders.
Jalanan rusak dan tidak beraspal seperti ini menjadi salah satu penghambat perjalanan tim Terios 7 Wonders.

(Baca Juga : Terios 7 Wonders : Diary Day 1, Lets Start Discovering Celebes )

Perkiraan kedatangan yang meleset jauh saya maklumi, meskipun saya harus membuang jauh angan untuk merasakan menginap di perkampungan Suku Bajo karena sampai di sana ketika matahari sudah terbangun.

Yah, paling tidak saya masih bisa mengenal lebih dekat Suku Bajo deh, daripada tidak sama sekali. Tentunya dengan tetap menyeberang ke Desa Torosiaje yang ditinggali oleh Para Suku Bajo tadi.

Torosiaje ini adalah sebuah desa wisata yang merupakan lokasinya terletak beberapa ratus meter dari daratan atau sekitar 10 – 15 menit naik perahu kecil. Tidak ada jembatan yang menhubungkan antara desa ini dengan daratan.

BACA JUGA :  Desa Pembuat Tali Tambang, Kubangwungu : Mengubah Sampah Menjadi Berkah

Untuk lokasi dan alamat tepatnya sih berada di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato. Sebuah desa yang unik karena tidak semua rumah yang ada disana berada di atas air.

Kampung yang sudah berdiri sejak 1900-an ini dihuni suku Bajo yang juga dikenal sebagai pelaut tangguh. Pasti kalian sudah tau kan kalau Suku Bajo ini memang sehari harinya selalu dekat dengan laut?

O iya, kalau ada yang belum tahu dengan si Suku Bajo, mereka adalah suku pelaut yang awalnya berasal dari kepulauan Sulu, Filipina. Namun kemudian mereka mulai menyebar kemana – mana karena mereka adalah suku yang Nomaden.

Sehingga tidak heran jika Suku Bajo bisa ditemukan di beberapa tempat di Indonesia. Kebetulan saya beruntung untuk mengunjungi salah satu kediaman mereka di Torosiaje karena menjadi anggota tim #Terios7Wonders Celebes Heritage.

Seperti Apa Desa Torosiaje Tempat Tinggal Suku Bajo Di Gorontalo?

Meskipun sangat terlambat jauh dari yang dijadwalkan, akhirnya sampai juga di Torosiaje.
Meskipun sangat terlambat jauh dari yang dijadwalkan, akhirnya sampai juga di Torosiaje.

(Baca Juga : Terios 7 Wonders : Diary Day 2, Sulawesi Utara Tidak Hanya Manado, Ada Juga Tompaso! )

Kalau kamu pernah menonton film waterworld, desa ini kurang lebih seperti yang ada di film itu. Perkampungan yang beneran berada diatas laut, diatas air. Jadi semua rumahnya sendiri berada diatas air.

Di Desa Torosiaje saya banyak mengetahui dan belajar tentang Suku Bajo langsung dari mereka sendiri. Seperti ada beberapa dari mereka yang sebelumnya sempat mencoba untuk pindah dan tinggal di daratan, tetapi pada akhirnya kembali lagi tinggal diatas lautan.

Buat mereka lautan mungkin bisa dibilang sebagian jiwa. Atau mungkin bisa juga karena satu – satunya kemampuan andalan mereka adalah melaut. Tidak heran kalau sebagian besar penduduk Torosiaje mata pencahariannya adalah melaut.

Gagal Menginap Di Torosiaje

Sebenarnya saya masih ingin banyak belajar dari mereka, tetapi tim #Terios7Wonders harus segera melanjutkan perjalanan ke Mamuju untuk mengeksplor celebes heritage di Mamuju.

BACA JUGA :  Pengalaman Menginap Di Gallery Prawirotaman Hotel Yogyakarta

Yaitu akan mengenal lebih dekat tentang sarung tenun sutra mandar. Oke, sepertinya setengah hari di Torosiaje sangat kurang! Lain kali harus benar benar menginap di desa ini.

Mungkin selanjutnya saya harus benar – benar kembali ke Torosiaje dan kemudian menginap disini untuk merasakan menjadi seorang Bajo yang sebenarnya :) Teman – teman mungkin ada yang mau ikut?

Senyum anak - anak bajo yang memberi semangat :)
Senyum dan anak – anak bajo yang memberi semangat :) *hiraukan blogger yang ada disebelah kanan* :P

Ps: Tulisan ini adalah catatan perjalanan saya selama mengikuti ekspedisi terios 7 wonders, jelajah celebes heritage. Ikuti terus live tweet saya di #Terios7Wonders @catperku.

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.


Fahmi (catperku.com)

Fahmi (catperku.com)

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di [email protected] Cepetan Ga pake lama ya!
http://catperku.com


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *