Trekking Ke Gunung Bromo Via Cuban Pelangi, Desa Ngadas

Saya sudah hampir lupa bagaimana memulai cerita trip trekking ke Bromo yang agak gila ini. Hehehe… Karena kejadiannya sudah lebih dari 2 tahun lalu. Tetapi akan saya coba menyajikannya semenarik mungkin, melanjutkan dari cerita sebelumnya. Selain itu juga sayang kalau hilang tertelan ingatan manusia yang terbatas. Jadi lebih baik di dokumentasikan bukan?

(Baca Juga : Going Where The Wind Blow’s : Trekking ke bromo, The beginning)

Satu hal yang menancap jelas diingatan saya waktu itu, kondisi cuaca sedang buruk, hujan rintik – rintik menemani hampir sepanjang perjalanan kami menuju cek point pertama untuk bermalam, yaitu desa Ngadas. Bisa dibilang kondisi kami yang sudah cukup kecapekan karena salah memperkirakan kondisi jalur ke air terjun Cuban pelangi starting point awal. Jalur yang menguras tenaga, meskipun sebenarnya air terjun ini cukup saya rekomendasikan untuk dikunjungi.

Sedikit cerita tentang Cuban Pelangi yang kami jadikan sebagai starting point trekking ke Bromo. Cuban pelangi adalah air terjun yang terletak di jalur menuju ke Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Karena itu sayang jika dilewatkan begitu saja. Konsepnya sih maen – maen air dulu, sebelum bermain di lautan pasir Bromo.

Gampang sekali menemukan lokasi menuju air terjun ini jika naik Hard Top dari Tumpang. Bisa bilang ke sopirnya untuk turun di depan pintu masuk air terjun Cuban Pelangi. Hanya saja jangan kaget bila ternyata letak air terjun masih cukup jauh dari pintu masuk. Namun, jalan menuju ke air terjun cukup mudah, karena kita tinggal menuruni jalan setapak yang jauhnya sekitar 1 km.

Yang menantang adalah jalur kembalinya. saya harus naik, dan itu cukup menguras tenaga, apalagi waktu itu hujan turun dengan deras ketika kami kembali dari air terjun, Jadi harus extra hati – hati karena jalur akan menjadi licin.

Air terjun cuban pelangi, Dikit narsis, gak ada foto lagi :D

Air terjun cuban pelangi, Dikit narsis, gak ada foto lagi :D

Sesuai dengan namanya, di air terjun Cuban Pelangi sebenarnya bisa terlihat pelangi di dekat air terjun. Namun itu hanya bisa terjadi jika cuaca sedang cerah dan dengan sedikit keberuntungan. Jika sedang tidak beruntung seperti kami waktu itu, anda hanya akan mendapatkan hujan deras saja.

Ya sudahlah, tujuan akhirnya kan Gunung Bromo dan menikmati trekkingnya. Waktu semakin sore dan hujan rintik – rintik terus jatuh seakan tidak ada tanda akan berhenti. Karena kami harus sampai di Desa Ngadas sebelum malam hari, akhirnya kami melanjutkan trekking menyusuri jalan menuju desa Ngadas sebagai cek point pertama.

(Baca Juga : Mengunjungi Pasir Berbisik Gunung Bromo)

Hujan rintik – rintik menemani sepanjang perjalanan kami menyusuri jalan menuju ke Gunung Bromo, tidak menunjukkan berhenti sama sekali tapi malah semakin menjadi. Bahkan hujan turun dengan semakin derasnya. Meskipun kami sudah mempersiapkan diri dengan membawa jas hujan dan telah kami pakai, tetap saja sebagian badan masih basah.

Bahkan waktu itu hujan semakin deras dan membuat sebagian jalan yang kami lalui berubah menjadi aliran air. Pun begitu, jalan menuju Gunung Bromo via Desa Ngadas ini sudah ber aspal dan cukup bagus. Bahkan mobil bisa lewat, karena selain jalur menuju ke Gunung  Bromo, jalur ini juga merupakan jalur utama untuk menuju starting point pendakian ke Gunung Semeru yaitu Ranu Pane. Karena itu meskipun hujan deras, jalannya masih cukup aman untuk trekking.

Hujan di sepanjang jalan menuju desa Ngadas

Hujan di sepanjang jalan menuju desa Ngadas

Bukannya semakin reda, hujan malah turun dengan derasnya, jarak menuju Desa Ngadas yang tidak jelas berapa jaraknya sedikit membuat semangat kami “kendor”. Sempat terpikirkan untuk mengakhiri trekking ke bromo ini dengan mencari tumpangan, meskipun kami telah berjalan beberapa kilometer. Dalam perjalanan kami berharap ada truk atau mobil lewat yang bisa ditumpangi.

Benar saja akhirnya ada truk lewat yang menuju ke desa Ngadas, dan saya mencoba menghentikan nya.

Pak, boleh numpang sampai desa Ngadas” Tanya saya kepada supir truk.

Boleh tapi bayar 30 ribu per orang ya?” Jawab seorang bapak yang berada di dalam truk.

Sial kami yang sudah kere dan nekat trekking ke Bromo ini mana punya cukup uang untuk bayar, bagaimana besok pulangnya melalu Probolinggo?” Gumam saya.

Karena memang dana perjalanan yang memang kurang dari cukup, akhirnya kami membiarkan truk tersebut lewat begitu saja, berharap ada orang berbaik hati memberi tumpangan.

Nampaknya sang pencipta mengabulkan permintaan hambanya yang sedang kecapekan berjalan di bawah hujan deras. Tidak berapa lama setelah truk pertama lewat, ada mobil pickup bak terbuka yang mau memberi tumpangan kepada kami, meskipun mereka tidak bisa memberi tumpangan sampai ke desa Ngadas. Mereka menuju jalur yang berbeda dengan kami. Ya sudahlah tidak apa, yang penting bisa cukup istirahat, tenaga kami memang sudah cukup terkuras akibat jalur keluar Cuban Pelangi.

(Baca Juga : 4 Alasan, Jangan Ke Bromo Ketika Peak Season!)

Trek cuban Pelangi memang diluar perkiraan, mana saya tahu kalo jalan naiknya bikin ngos – ngosan gitu. Totalnya mungkin lebih dari 5 Km mobil pickup tadi memberi tumpangan kepada kami, sampai akhirnya kami berpisah karena memang berbeda tujuan. Tak lupa kami berterima kasih kepada sopir pickup dan juga bertanya berapa jauh lagi untuk sampai ke desa Ngadas.

Gak jauh lagi mas, masih sekitar 3-4 km lah” Kata bapak yang mau memberi tumpangan kami.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan.

Jarak dibawah 4 km seharusnya jarak yang tidak terlalu jauh,  tapi jalan yang terus menanjak dan udara yang dingin nampaknya membuat jarak terasa tiada akhir, meskipun begitu keindahan alam sepanjang perjalanan sedikit mengobati kelelahan kami. Di perjalanan menuju Desa Ngadas kami sempat bertemu teman yang naik mobil, namun tujuannya berbeda, dia mau menghabiskan malam akhir taun di Ranu Pane. Pun begitu karena kelelahan, akhirnya salah satu dari kami ikut numpang, karena memang sudah kepayahan, dan sisanya termasuk saya, masih melanjutkan dengan berjalan kaki hingga Desa Ngadas.

Karena memang selain tidak cukup tempat untuk mengangkut semuanya, saya ingin acara ini lebih banyak trekkingnya. Kami pun sepakat bertemu kembali di perbatasan Desa Ngadas. Yah, point utama ide trekking sih ^^. Waktu sudah semakin sore, sebentar lagi malam, hingga akhirnya setelah melewati puluhan kilometer kami sampai di desa Ngadas, cek point pertama kami trekking ke Bromo.

Afrika? Bukan! Padang savana yang harus dilewati untuk menuju Gunung Bromo

Afrika? Bukan! Padang savana yang harus dilewati untuk menuju Gunung Bromo

Kami akan beristirahat di cekpoint pertama, di perbatasan Desa Ngadas. Sebelumnya kami minta ijin penduduk sekitar untuk mendirikan tenda dan bermalam di perbatasan desa, sebelum melanjutkan trekking ke Bromo esok hari melalui padang savana.

Sudahlah istirahat dulu, hari yang melelahkan” Pikir saya waktu itu.

(Baca Juga : Kenapa Harus Bertualang Di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru?)

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

Yang Banyak Dicari

9 Responses

  1. Ikromzzzt says:

    Wah salut mas,jalan kaki lewat ngadas..saya saja yg balik dr arah pasuruan lewat ngadas pake motor kyk kepayahan bgt..tp sumpah,keindahan alam benar2 menakjubkan.

  1. March 20, 2012

    […] tidak sekedar jalan – jalan, karena selalu ada pembelajaran didalam perjalanan. Sebut saja trekking ke bromo, get lost ke makassar, overland ke lombok dan masih belum berhenti sampai sekarang, karena masih […]

  2. February 13, 2013

    […] Ciwidey yang menjadi terkenal karena film Heart. Tapi saya tahu keberadaan padang pasir ini ketika trekking dari Cuban Pelangi sampai Gunung Bromo pada tahun 2009 lalu. Hingga akhirnya mempunyai ide untuk naik sepeda motor melewati padang […]

  3. February 26, 2013

    […] adalah foto hasil jepretan kamera Sony Experia Active saya. Semoga cakepnya kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru selalu terjaga hingga […]

  4. February 26, 2013

    […] DAS brantas, dan berjalan kaki seharian penuh menempuh jarak sekitar 40 km, atau berjalan kaki dari air terjun cuban pelangi sampai ke Gunung Bromo! Yeah, that’s sound crazy huh! Yah, lupakan kegilaan saya, saya jadi kangen adventure lagi […]

  5. February 28, 2013

    […] Gunung Bromo yang juga harus melewati puluhan anak tangga untuk naik ke puncaknya. Bedanya kalau ke Gunung Bromo naik, kali ini turun. Karena saya memang bukan ke Gunung, tetapi ke salah satu Hidden Beach nya […]

  6. September 3, 2013

    […] Lembah yang menghijau seperti ini bisa ditemukan jika menuju ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dari arah Tumpang, Malang, melewati desa Ngadas. […]

  7. October 11, 2013

    […] Cerita ini lanjutan dari : Going Where the wind blow’s : Trekking ke bromo , The beginning , Going Where the wind blow’s : Trekking ke Bromo , Cuban Pelangi, The Starting Point – Desa Ngada…. That’s it, saya sudah hampir lupa setiap kronologisnya, yah! gimana lagi sudah beberapa […]

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: