Terios 7 Wonders : Diary Day 12, Kajang Yang Menolak Teknologi

Terios 7 Wonders : Diary Day 12, Kajang Yang Menolak Teknologi
5 (100%) 10 votes

Selepas Bira, tim Terios 7 Wonders masih mempunyai satu destinasi unik tanah celebes yang perlu dikunjungi lagi. Kali ini destinasi yang akan dikunjungi tim adalah sebuah suku yang ada di Sulawesi, dimana kesehariannya dijalani dengan tanpa teknologi. Jangankan mobil, smartphone saja mereka tidak punya lho! TV apalagi!

Adalah Suku Kajang yang merupakan salah satu warisan budaya Indonesia. Suku ini juga dikenal sebagai masyarakat adat Ammatoa. Mereka menetap dan tinggal di Tana Toa, Kecamatan Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Mereka memiliki desa dengan area seluas kurang lebih 3000 hektar, dengan hutan lebat seluas 600 hektar. Didalamnya terdapat sekitar 300 kepala keluarga, dengan jumlah penduduknya kira – kira 3.497 orang. Untuk sehari – harinya mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Konjo.

Pintu gerbang masuk ke area kekuasaan Suku Kajang.
Pintu gerbang masuk ke area kekuasaan Suku Kajang.
Suku Kajang adalah suku yang menghormati alam, karena mereka hidup dan bertahan hidup dari alam.
Suku Kajang adalah suku yang menghormati alam, karena mereka hidup dan bertahan hidup dari alam.

Meskipun masih masuk ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, mereka mengatakan dengan keras kalau tanah yang mereka tinggali tidak termasuk kedalamnya. Karena itu mereka menyebutkan juga untuk tinggal disini tidak memerlukan sertifikat tanah sama sekali. Mereka juga bilang kalau tanah tempat mereka hidup ini tidak bisa diperjualbelikan, baik oleh seorang pemerintah sekalipun!

Suku Kajang memiliki rumah yang unik dengan gaya khas berupa rumah panggung seperti kebanyakan yang saya temukan selama acara jelajah Celebes bareng Terios. Sebagian besar rumah dibuat dari Kayu, dengan corak yang bentuk rumah yang mirip. Untuk menyambungkan tiap kayu, mereka tidak menggunakan paku besi sama sekali. Paku besi oleh mereka dianggap sebagai produk yang sudah modern.

Agak aneh memang, mereka menganggap kalau paku besi adalah sebuah produk modern. Namun pada kenyataannya mereka mempunyai sebuah tradisi yang menggunakan linggis sebagai alat. Lho linggis kan seharusnya juga produk modernisasi juga yak?

Tipikal rumah yang digunakan untuk tinggal penduduk Suku Kajang. Semuanya terbuat dari bahan kayu.
Tipikal rumah yang digunakan untuk tinggal penduduk Suku Kajang. Semuanya terbuat dari bahan kayu.

Tradisi yang saya maksud sendiri adalah tradisi “Bakar Linggis” yang dipertunjjukkan ketika saya dan tim terios 7 wonders baru saja sampai disana. Dalam bahasa setempat tradisi “Bakar Linggis” disebut dengan upacara Attunu Panrolik. Upacara adat ini biasanya dilakukan untuk mengetes kejujuran seseorang. Misalnya terjadi kejadian pencurian, tradisi bakar linggis akan diadakan untuk mencari pelakunya.

Caranya adalah dengan membakar sebuah linggis sampai merah membara. Kemudian semua orang yang dicurigai sebagai pencuri dikumpulkan. Setelah itu setiap orang yang dicurigai tadi disuruh memegang bagian linggis yang membara satu persatu. Jika yang memegang tidak terluka sama sekali, berarti ia bukanlah pencurinya. Namun jika terluka, dapat dipastikan dia adalah pelakunya.

Entah tradisi “Bakar Linggis” tadi cuma mitos atau benar, saya tidak tahu. Yang jelas ada beberapa anggota tim yang mencoba memegang linggis yang merah membara tadi, dan memang benar tidak terluka sama sekali. Bukan sulap bukan sihir, begitu linggis yang membara ditaruh di tumpukan sampah kering. Sampah tersebut langsung terbakar! Serem juga yak! :O

Linggis ini dibakar hingga membara lalu kemudian dipegang untuk mencari siapa yang terbukti tidak jujur dan bersalah.
Linggis ini dibakar hingga membara lalu kemudian dipegang untuk mencari siapa yang terbukti tidak jujur dan bersalah.
Setelah acara bakar linggis di demonstrasikan, saya dan sebagian tim Terios 7 Wonders diajak menemui kepala suku.
Setelah acara bakar linggis di demonstrasikan, saya dan sebagian tim Terios 7 Wonders diajak menemui kepala suku.

Seperti tradisi bakar linggis, Suku Kajang atau masyarakat Ammatoa meyakini ajaran adat yang disebut Patuntung yang berarti mencari sumber kebenaran. Ajaran mereka menyebutkan kalau seorang manusia itu wajib bersandar pada tiga pilar utama yaitu menghormati Tutiek Akrakna (Tuhan), tanah dari Tutiek Akrakna, juga nenek moyang.

Disebutkan oleh juru bicara mereka bapak Puto Saguni, Tutiek Akrakna menurunkan wahtyu pada Suku Kajang melalui manusia pertama bernama Ammatoa. Tempat penurunan wahyu sendiri menurut mereka adalah tempat mereka sekarang tinggal yang kemudian mereka sebut dengan Tana Toa (tanah tertua).

Di Kajang ada seorang pemimpin atau ketua adat yang memimpin. Pemilihannya dilakukan berdasarkan garis keturunan, dan seorang pemimpin Suku Kajang akan menjabat seumur hidup. Katanya sampai sekarang ini posisi ketua adat sudah mencapai 22 generasi. Beruntung saya bisa bertemu dengan ketua suku yang sedang berkuasa saat ini. Meskipun saya tidak bisa mengabadikan dengan kamera karena memang tidak diperbolehkan membawanya selama bertemu dengan ketua Suku Kajang.

Ini dia rumah kepala Suku Kajang
Ini dia rumah kepala Suku Kajang
Ini bukan foto kepala Suku Kajang, tetapi saya yang sedang berpakaian ala Suku Kajang. Semua serba hitam dan gelap!
Ini bukan foto kepala Suku Kajang, tetapi saya yang sedang berpakaian ala Suku Kajang. Semua serba hitam dan gelap!

Keberadaan Suku Kajang memang unik. Mereka adalah suku yang kukuh mempertahankan jati diri mereka sebagai suku yang masih berpegang teguh dengan keyakinan “tallase kamase-mase”.Atau yang berarti menolak modernitas, juga hidup dengan sederhana dan bersahaja.

Keseharian mereka yang bertahan hidup dengan memanfaatkan hasil hutan tanpa berlebih, juga tidak mengganggu kelestarian alam pun membuat saya kagum. Saya juga sedikit, entah bagaimana mereka hidup sehari – hari dengan menggunakan pakaian serba hitam dan berwarna gelap. Tidak ada fashion, tidak ada saling pamer gemerlap aksesoris serba mahal di Suku Kajang ini.

Sayang sepertinya ada beberapa hal yang sedikit bertolak belakang dengan idealisme kesederhanaan mereka. Ketika mengunjungi mereka, tim diwajibkan memakai pakaian serba hitam dengan harga sewa yang lumayan. Yaitu IDR 250.000 untuk setiap set baju. Di dalam desa mereka saya juga banyak melihat banyak orang Suku Kajang yang merokok. Bukankah rokok adalah sebuah produk modern ya?

Entah kepercayaan mereka yang mulai luntur, atau uang yang mengikis semuanya, saya tidak tahu. Mungkin juga karena dunia semakin maju, menolak kemajuan secara totalitas itu semakin susah saja untuk saat ini. Saya cuma berharap tradisi yang begitu unik ini tidak akan pernah hilang termakan zaman.

Bapak Puto Saguni, juru bicara Suku Kajang yang menjelaskan dengan detail seputar adat dan keseharian Suku Kajang.
Bapak Puto Saguni, juru bicara Suku Kajang yang menjelaskan dengan detail seputar adat dan keseharian Suku Kajang.

Ps: Tulisan ini adalah catatan perjalanan saya selama mengikuti ekspedisi terios 7 wonders, jelajah celebes heritage. Ikuti terus live tweet saya di #Terios7Wonders @catperku.

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di catperku@gmail.com. Cepetan Ga pake lama ya!
3 Responses
  1. Huaaaa.. Kangen deh ke Kajang. kamu di sini nginepkah kak? Aku nginep di rumah kepala suku kajang luar yang kamu foto itu pas pake baju adat. Trus juga sempet masuk ke rmh kades kajang dalem dan main2 sama istrinya.. :’)

    1. Rijal Fahmi

      Aku enggak sampe nginep kak, tapi sempet diajak masuk ke dalam rumah kepala suku kajang dalam. Agak ngeri juga waktu di dalem rumah mereka, entah mereka ngobrolin apa di dalam rumah ketua suku kajang-nya. Tapi kata si penerjemah ngomongin hal serem, bisa – bisa malah kita gak boleh pulang :|

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: