#VisitJateng : Piknik Ke Agrowisata Tambi, Bukan Piknik Biasa!

Selama taun 2012 – 2014 ini saya memang sering traveling, tapi seringnya sih traveling sendirian atau paling banter traveling bareng mantan pacar (istri). Jumlah traveling rame – rame bareng teman bisa dihitung jari. Alasannya sih klasik, sering susah sekali mencocokkan waktu cuti, dana dan gaya traveling. Karena itu ketika ada yang mengundang liburan  rame – rame ke dataran tinggi Dieng yang lokasinya ada di Jawa Tengah, saya langsung mengiyakannya tanpa perlu berpikir panjang.

“Untuk memperkenalkan destinasi pariwisata Jawa Tengah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah akan menyelenggarakan Familiarization tour yang distujukan kepada para blogger pada tanggal 4 -5 Desember 2014 dengan mengunjungi Daya Tarik Wisata (DTW) di Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo.”

Mari kita piknik ke Agrowisata Tambi :D

Mari kita piknik ke Agrowisata Tambi :D

Yak, email resmi undangan dari Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Jawa Tengah sudah diterima, itu artinya saya sudah bisa pesan tiket kereta menuju Semarang sebagai meeting point. Famtrip kali ini memang tidak full cover seperti biasanya, tetapi karena motivasi dapet relasi baru sambil bisa piknik bareng beberapa teman Travel Blogger Indonesia, tidak apa deh. Saya dan istri bareng Mbak Indri akhirnya berangkat bareng dengan kereta Ekonomi Menuju Semarang pada tanggal yang sudah ditentukan.

Semarang adalah meeting point untuk #FamTripJateng ini. Untuk selanjutnya rombongan piknik akan diberangkatkan menuju Dieng, Wonosobo. Iya, memang Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Jawa Tengah ingin mempromosikan Jawa Tengah dengan kawasan Dieng yang ingin di Highlight. Bahkan Pak Abe yang dengan sabar menjadi guide selama Famtrip berkali – jali menyebutkan “Jual Jawa Tengah, biar makin banyak orang liburan kesini ya”.

Oke, dengan senang hati Pak tanpa ada yang repot teriak – teriak nyuruh sekalipun! :)

Dan.. pikniknya rame - rame bareng mereka~ *foto ini minjem dari fahmianhar.com ya*

Dan.. pikniknya rame – rame bareng mereka~ *foto ini minjem dari fahmianhar.com ya*

Mungkin sudah banyak yang familiar dengan Dataran Tinggi Dieng. Sebutlah dari Telaga Warna, Gunung Prau, hingga Dieng Culture Festival dengan ritual pemotongan rambut anak gimbalnya yang terkenal. Paling tidak, dari informasi terakhir yang saya dapatkan, Dieng Culture Festival tahun 2014 penuh sesak oleh manusia.

Namun #FamTripJateng kali ini sedikit mengambil sudut pandang dan destinasi yang sedikit berbeda dengan adanya itinerary tea plantation trip. Pun cerita wajib tentang Anak Gimbal Dieng juga kuliner khasnya seperti Purwaceng dan Carica tidak bisa ketinggalan dong! Minimal, saya harus menyeduh satu cangkir Purwaceng deh selama di Dieng. *biar sehat*

Minimal satu cangkir minuman kesehatan Purwaceng nggak boleh kelewat :p

Minimal satu cangkir minuman kesehatan Purwaceng nggak boleh kelewat :p

Mencapai Agrowisata Tambi perlu menyusuri jalanan dengan pemandangan menyegarkan mata dikanan – kirinya. Mendekati lokasi, mini bus yang saya tumpangi harus sedikit berjibaku melewati jalan sempit yang tidak rata naik menuju area Agrowisata. “Sigh, bagaimana mungkin jalanan menuju sebuah tempat wisata kondisinya seperti ini?”. Untungnya hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit saja melewati jalanan seperti ini. Jadi tidak perlu tersiksa terlalu lama :D

Agrowisata Tambi adalah sebuah perkebunan teh yang sekaligus menjadi destinasi wisata alam. Kalau boleh saya bilang, Tambi adalah pelengkap dan pemanis bagi siapapun yang ingin mengunjungi Dieng. Karena destinasi ini menawarkan liburan yang tidak biasa. Mereka menawarkan liburan sambil mengenal lebih dekat tentang Teh juga bagaimana proses pembuatan teh dari proses pemetikan hingga packing. (bisa dilihat di travel video yang saya buat ini).

Bagaimana? Seger enggak kalau liburan ke Agrowisata Tambi ini? :D

Bagaimana? Seger enggak kalau liburan ke Agrowisata Tambi ini? :D

Lokasi Agrowisata ini terletak di Desa Tambi, mungkin karena itu destinasi wisata ciamik yang dimiliki Provinsi Jawa Tengah ini kemudian dikenal sebagai Agrowisata Tambi. Desa Tambi sendiri masuk dalam kawasan Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Lokasinya berada dekat dari Dataran Tinggi dieng atau sekitar 20-30 menit dari Dieng dengan kendaraan bermotor juga lalu lintas yang sepi tanpa macet.

Tea Plantation tour di Tambi biasanya diadakan pada pagi hari, ketika udara masih segar. Waktu itu tour dipandu oleh seorang guide bernama Pak Pudji. Tea plantation tour sendiri dimulai dengan mengelilingi sebagian dari perkebunan teh. Untuk luas total dari Perkebunan Teh Tambi sendiri kira – kira sekitar 829 Hektar. Dengan luas segitu, mungkin seharian akan kurang sekali untuk mengelilinginya. Saya pun juga ogah kalau diajak mengelilingi seluruh kebun teh :p. Capek~ mending bobok di Pondok Wisata Tambi yang lantainya sedingin es itu :D

Pak Pudji, guide kami yang dengan sabar menjelaskan tentang seluk beluk Teh juga pemrosesannya hingga akhir.

Pak Pudji, guide kami yang dengan sabar menjelaskan tentang seluk beluk Teh juga pemrosesannya hingga akhir.

Meskipun memandu turis yang enggak biasa (red: travel blogger yang kebanyakan tanya), Pak Pudji menjelaskan dengan detail dan sabar semua yang berhubungan dengan teh. Mulai dari jumlah jenis teh yang ada di perkebunan ini, hingga informasi kalau perkebunan ini bisa panen hingga 15 kali dalam setahun. Tidak cuma itu saja, dia juga menjelaskan kalau memetik teh itu memerlukan ketrampilan khusus. Tidak bisa asal petik begitu saja yang bisa menyebabkan berkurangnya produktifitas perkebunan.

Sebelumnya saya kira daun teh itu bisa asal petik saja. Soalnya ketika disana saya melihat begitu cekatannya para pemetik daun teh dengan alat pemetik tehnya. Dalam hitungan menit, mereka bisa mengumpulkan satu keranjang pucuk daun teh yang kemudian bisa diproses lebih lanjut. Namun ternyata masih banyak proses yang lumayan rumit setelahnya. Mulai dari proses pelayuan, penggilingan, pengeringan, penyortiran, testing hingga packing untuk kemudian bisa didistribusikan.

Proses pelayuan daun teh (kiri atas), Sampling hasil proses daun teh untuk dilakukan testing (kanan atas), Packing setelah diproses (kiri bawah), Ruang penggilingan daun teh (kanan bawah).

Proses pelayuan daun teh (kiri atas), Sampling hasil proses daun teh untuk dilakukan testing (kanan atas), Packing setelah diproses (kiri bawah), Ruang penggilingan daun teh (kanan bawah).

Mengunjungi Agrowisata Tambi memberikan saya banyak pelajaran tentang Teh. Iya, sebelumnya tidak pernah terbayang. Untuk segelas teh yang selalu tersaji di pagi hari saya, ternyata memerlukan proses pembuatan yang begitu rumit. Karena itu sudah seharusnya saya mensyukuri dan betul – betul menikmati segelas teh yang dibuat dengan penuh perjuangan ini. Kalau kamu gimana? Sudahkah bersyukur atas segelas teh hangat di pagi harimu?

Selalu ingat, kita bisa menikmati secangkir teh hangat karena mereka :)

Selalu ingat, kita bisa menikmati secangkir teh hangat karena mereka :)

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

15 Responses

  1. topik.my.id says:

    kemarin saya juga baru dari wonosobo gunung prau, namun kalau yang satu ini agrowisata tambi blom pernah dan sempat berkunjung kalau yang lain-lainnya dah pernah ke wonosobo untuk beberapa tempat saja semoga kalau kesana lagi bisa juga main kesana hehehe

    • Rijal Fahmi says:

      wah! harus banget cobain kesini, apalagi ajak anak ;D sekalian buat belajar anak kecil bagus disini :D udaranya seger pula. kalau ke gunung prau saya malah belum pernah :p mungkin next summer ya :D

  2. olen says:

    Yaah, Jateng jgn disamain sama Macau yg full cover (plus uang saku mungkin). Alhamdulillah aja mereka ada inisiatif ajak blogger lokal, jumlahnya banyak pula, ya kan ya kan?

    • Rijal Fahmi says:

      nggak masalah full cover atau enggak, tapi masalah after tripnya yang bikin nggak enak ati :) Kalau masalah nulis destinasi indonesia, nggak dibayarpun udah nulis. *nggak usah nunjukin juga* Sepertinya memang lebih enak jalan pake duit sendiri :) daripada nanti dibilang nggak professional lagi. kapook~

  3. Gara says:

    Saya suka sekali dengan perkebunan teh! Apalagi kalau perkebunan tehnya peninggalan kolonial dan kita bisa menginap di bekas kediaman pemiliknya yang rumah Belanda. Wah!
    Pokoknya semoga suatu hari bisa ke sana. Amin.

    • Rijal Fahmi says:

      eh? emang ada ya yang kebun teh nya masih peninggalan kolonial? Aku juga mau dong :3 asal rumah peninggalan belandanya gak berhantu saja :|

  4. ndop says:

    pingin tiduran kayak syahrini di kebun teh itu sih sebenarnya, tapi kemarin urat saraf maluku lagi nyambung, walhasil aku urungkan niat itu :|

  5. Beby says:

    Jateng kampungnya Kakek ku. Tapi aku belom pernah ke sana. Malu-maluin aja.. Wkwkwk.. :D

    Liat ijo-ijo seger banget, bikin mata adem. Bau taneman teh itu pegimane sih, Bang?

    • Rijal Fahmi says:

      Walaah, piye iki, orang jateng malah belom kesana :|bau teh ituuuu~ bisa bikin seger pikiran :D serius! gak percaya cobain! :D

  6. Jadi apa mitor purwaceng yang bikin ‘ceng’ itu benar adanya mas fahmi? kamu kan pasti nyobain kan? kan? HAHAAHAHA :))

  7. Jadi jawa tengah ini mau di jual brp kak ??? ntar biar bupati gresik yg beli biar kakak2 kalo di undang buat trip bisa naik xxxxxxx hahaha #Kaburrrrr

  8. Josefine says:

    Asyiknya bisa wisata ke sana. :)

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: