Menembus Belantara Sumbawa, Demi Air Terjun Perpas!

Siapa sangka kalau di dekat area pertambangan aktif seperti Batu Hijau ini ada sumber mata air yang bening dan begitu segar. Kabarnya sih air di sekitar pertambangan itu lebih sering tercemar. Tetapi, mata air ini malah mengalir sepanjang tahun dan ditampung untuk kebutuhan air bersih warga sekitar Batu Hijau, terutama di Kecamatan Sekongkang.

Namun saya tidak percaya begitu saja, kalau cuma mendengar rumor atau dari sekedar “cerita”. Sekalipun itu cerita dari peserta Newmont Bootcamp sebelumnya. Saya harus melihat langsung, baru percaya dengan keberadaan mata air ini. Cerita bisa dibuat, tetapi fakta bisa dibuktikan dengan panca indera.

Harus menyeberang sungai ini untuk menuju Air Terjun Perpas.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Harus menyeberang sungai ini untuk menuju Air Terjun Perpas.

Air sungainya mengalir tenang, di ujungnya ada dam untuk menampung air agar bisa dimanfaatkan sepanjang tahun.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Air sungainya mengalir tenang, di ujungnya ada dam untuk menampung air agar bisa dimanfaatkan sepanjang tahun.

Ke air terjun lewat sini ya!
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Ke air terjun lewat sini ya!

O iya, menyenangkannya lagi, di mata air yang saya sebutkan ini juga terdapat sebuah air terjun. Orang lokal banyak mengenalnya dengan nama Air Terjun Perpas, dan beberapa orang juga mengenal dengan Air Terjun Sekongkang karena lokasinya yang berada di Kecamatan Sekongkang. Tetapi apalah arti sebuah nama, kalau mata air ini sudah begitu bermakna.

“Kira – kira perlu jalan kaki sekitar 30 menit” Kata seorang teman bootcamp yang sudah pergi ke Air Terjun Perpas lebih dulu. Memang setelah kegiatan di area mining selesai, peserta Newmont Bootcamp IV dipisah menjadi dua. Satu grup bercengkrama dengan warga Maluk terlebih dahulu, sementara yang lainnya langsung menuju sekongkang. Grup saya sendiri medapatkan area Maluk lebih dahulu, jadi grup yang lainnya bisa menikmati segarnya Air Terjun Perpas terlebih dahulu.

Jalan kaki tiga puluh menit tidak menjadi masalah buat saya, apalagi melewati hutan yang masih hijau. Toh saya sudah terbiasa jalan kaki dari kost di Setiabudi sampai Semanggi ketika masih di Jakarta. Ditambah lagi udara Jakarta yang penuh polusi. Kalau di Sumbawa ini kan udaranya segar sekali, jadi semangat terus membara deh, meskipun harus jalan kaki.

Dari rumah penduduk yang saya inapi, kami diantar oleh Karyawan Newmont dengan mobil hingga tempat awal trekking. Pintu masuk yang berupa jalan setapak menuju Air Terjun Perpas adalah menyeberangi sungai yang mengalir tenang.

Agak kaget juga meskipun katanya di ujung ada air terjun, eh ini sungainya mengalir tenang sekali. Padahal sedang musim hujan lho. Apa memang tipikal sungai di Sumbawa seperti ini ya? Tetapi sepertinya tidak menjadi masalah, karena di ujung terdapat dam untuk menampung air. Saya pun lanjut menyeberang sungai.

Kalau lihat ini, berati jalurnya sudah benar :)
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Kalau lihat ini, berati jalurnya sudah benar :)

“To The Waterfal” Tertulis pada sebuah papan petunjuk. Berarti saya sudah menuju ke arah yang benar, karena saya melihat pentunjuk arah menuju Air Terjun Perpas. Kalau traveling rame – rame seperti ini saya memang mempunyai kebiasaan buruk sering tertinggal di belakang, karena keasikan mengambil foto dan video. Jadi sekecil apapun petunjuk menuju destinasi akan sangat membantu.

Selain ada beberapa petunjuk, ternyata jalur menuju Air Terjun Perpas ini sudah begitu jelas. Saya tinggal mengikuti petunjuk berupa cat berwarna pink yang terdapat pada pohon atau batuan. Mungkin juga banyak bule yang sedang nyasar di Sumbawa menyukai air terjun ini. Soalnya hampir semua petunjuk dan informasi menuju air terjun tertulis dalam Bahasa Inggris.

Ikuti cat berwarna sepeti yang ada di pohon ini, pasti akan nemu si Air Terjun Perpas.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Ikuti cat berwarna sepeti yang ada di pohon ini, pasti akan nemu si Air Terjun Perpas.

Di luar prediksi, saya sampai di air terjun lebih dari 30 menit. Bukan karena tersesat atau apa, tetapi karena saya terlalu bersemangat mengabadikan pemandangan selama perjalanan menuju air terjun. Tidak cuma mengabadikan flora yang begitu hijau dan alami, tetapi juga fauna yang unik sempat saya temui selama perjalanan. Mulai dari kaki seribu loreng bercorak kekuningan hingga seekor Cicada yang suaranya menambah merdu suasana hutan tropis seperti ini. Andai saja saya seorang ahli biologi, saya pasti lebih menikmati suasana hutan dari pada air terjunnya.

Di tengah perjalanan saya juga menemui sebuah bangunan yang ternyata adalah penampungan air. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, mata air yang ada disini digunakan sebagai sumber air penduduk sekitar. Jadi bangunan yang ada ditengah hutan inilah yang membantu mendistribusikannya ke penduduk setempat. Dari informasi yang saya dapatkan, bangunan ini juga salah satu CSR dari PT NNT.

Kaki seribu sih saya sudah sering melihat, tetapi kalau yang warnanya seperti ini, baru pertama kali lihat!
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Kaki seribu sih saya sudah sering melihat, tetapi kalau yang warnanya seperti ini, baru pertama kali lihat!

Cicada sudah sering dengar suaranya, tapi wujudnya baru kali ini tahu :D
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Cicada sudah sering dengar suaranya, tapi wujudnya baru kali ini tahu :D

Mendekati air terjun, gemericik mulai terdengar jelas, seakan ada yang menaikkan volume suara air jatuh secara perlahan. Air Terjun Perpas ini tipenya adalah air terjun bertingkat, air tidak langsung jatuh dari ketinggian. Secara bertahap air terjun melewati beberapa tingkatan. Yang menarik adalah pada bagian tengahnya, ada kolam alami yang lumayan besar untuk menampung air terjun.

Tanpa ada yang memerintah, saya segera menyelesaikan tugas saya sebagai travel blogger. Foto sana, foto sini rekam video air terjun sebanyak mungkin. Segera setelah itu selesai, baju saya lepas, sekonyong – konyong saya melompat ke kolam alami yang ada di Air Terjun Perpas. “Byurrr!” Suara yang menyenangkan untuk didengar, sembari mulai meresapi segarnya air yang perlahan menyelimuti seluruh kulit saya.

Airnya turun tidak terlalu deras di Air Terjun Perpas!
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Airnya turun tidak terlalu deras di Air Terjun Perpas!

Airnya bening!
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Airnya bening!

Coba berenang kalau mau merasakan kesegarannya~
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Coba berenang kalau mau merasakan kesegarannya~

Lansekap air terjun ini cukup unik nan menantang. Selain kolam air alami yang cukup dalam, ditepinya ada beberapa batu yang menjulang tinggi. Ada yang cuma 2 meter, ada pula yang tingginya hampir 6 atau 7 meter. Siapapun yang suka memacu adrenalin, pasti mencoba melompat dari atas batu tadi. Saya pun begitu, karena enggak tahu kapan saya bisa menyapa lagi Air Terjun Perpas ini, dua – duanya saya coba.

Loncat dari 2 meter, dan… loncat dari yang paling tinggi. Sesekali muncul keraguan ketika akan meloncat dari batu paling tinggi. Tetapi… hati sudah saya mantapkan, adrenalin akan saya pacu. Satu… dua… hap! Berikutnya hanya terdengar deburan air, dibarengi adrenalin tubuh yang makin terpacu.

Mau terjun dari yang mana? 2 meter (kanan) atau yang lebih tinggi (kiri)
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Mau terjun dari yang mana? 2 meter (kanan) atau yang lebih tinggi (kiri)

Eh, tapi bersantai seharian di Air Terjun Perpas boleh juga kok! XD
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Eh, tapi bersantai seharian di Air Terjun Perpas boleh juga kok! XD

Pssst… Ada yang mau nonton video perjalanan mencapai Air Terjun Perpas yang ada di Sumbawa ini?

O iya, lokasi Air Terjun Perpas agak di tengah hutan, jelasin arahnya nearly impossible~ Koordinat GPS plus peta akan lebih banyak membantu :D

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

Yang Banyak Dicari

Komentar Pembaca Adalah Bahan Bakar Semangat Saya Untuk Terus Menulis!

comments

Fahmi (catperku.com)

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di [email protected] Cepetan Ga pake lama ya!

You may also like...

9 Responses

  1. ndop says:

    Aku ikut merasakan sejuknya hutan dan air terjun loh.. Videomu keren! Azolweiz.. Kalian kalian pada bisa renang ya? Pasti lebih bisa menikmati dibanding yg ga bisa renang kayak aku haha.. Paling cuma kungkum. Btw, jeru kah banyune?

    • Rijal Fahmi says:

      Makasii~ Semoga terhibur sama video sederhananya :D Aku udah bisa renang dari SMP, renang itu seru looh~ belajar lhaa~ :D Mayan jeru~ sekitar 3-4 meter ada kali yang didekat batu :D

  2. Beby says:

    Baaaaang.. Pengen ke situ jugaaaak.. :’

  3. philardi ogi says:

    Keren Kak! disini kalo mandi ga akan digerayangin kaki seribunya kaaaan?

    aga parno soalnya hehe

  4. tempatnya masih asri banget yaaa, semoga kelak tidak ikut tercemar seperti sumber air yg lain

  5. iga says:

    pemandngan nya indah banget. kalaw dari jakarta aksesnya gimna ya om??

  6. abahadil says:

    artikel bikin saya pengen kesana juga nih, apa lagi melihat foto2 pemandanganya jadi tambah penasaran, kira2 kalo dari jakarta kendarann gimananya

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

Pin It on Pinterest

%d bloggers like this: