Liburan Sehari Di Cirebon Bisa Kemana Saja Sih?

Akhirnya saya bisa mampir ke Cirebon juga karena diajak Pertamina keliling site pengeboran Pertamina EP asset 3 Jatibarang dan RU VI Balongan. Padahal biasanya saya cuma numpang lewat saja ketika naik kereta api Gajayana ke arah kampung halaman di Blitar.

Singkat kata, setelah sehari sebelumnya saya berkeliling untuk melihat dari dekat bagaimana proses pengeboran minyak onshore, mencoba menyamar menjadi oil engineer dalam sehari, dan melihat konservasi mangrove Karangsong di Indramayu. Akhirnya datang juga kesempatan untuk mengeksplorasi Kota Cirebon.

Omong-omong, kalau liburan ke Cirebon dalam sehari, kira-kira kalian bakal ngapain?

Sebenarnya buat saya mengunjungi salah satu kota dalam sehari itu kurang banget. Apalagi saya adalah tipe orang yang suka berkeliling kota secara perlahan. Bahkan biasanya saya sengaja berjalan kaki keliling suatu kota yang pertama kali saya kunjungi agar lebih intim dan melihatnya dari dekat.

Setelah seharian jadi Insinyur minyak abal-abal, hari selanjutnya waktunya liburan keliling Cirebon!
Setelah seharian jadi Insinyur minyak abal-abal, hari selanjutnya waktunya liburan keliling Cirebon!

Sayangnya, kali ini saya hanya punya waktu satu hari saja untuk berkeliling Kota Cirebon. Selain memang karena lagi ada banyak kerjaan, keesokan harinya saya harus segera ke Surabaya untuk kembali mengurus Visa Jepang lagi. Jadinya untuk sekarang saya harus puas, meski hanya sempat liburan sehari di Cirebon.

Lantas dalam sehari di Cirebon saya bisa ngapain saja? Kemana Saja?

Liburan Sehari Di Cirebon Bisa Kemana Saja
Liburan Sehari Di Cirebon Bisa Kemana Saja

Mencoba Beberapa Kuliner Cirebon Yang Khas

Sebenarnya ketika saya bertanya ke beberapa teman, apa saja yang bisa dilakukan ketika di Cirebon, hampir semuanya menyarankan untuk mencoba kulineran. Cuma, dalam sehari normalnya manusia kan hanya makan 3 kali ya. Sementara setelah saya cari-cari kuliner di Cirebon itu ada banyak banget.

Let say, beberapa yang sudah familiar di telinga saya saja ada Tahu Gejrot, Empal Gentong, Nasi Jamblang, dan.. Nasi Lengko. Faktanya, ada lebih banyak lagi kuliner cirebon yang belum saya coba. Namun paling tidak saya berusaha berbagi pengalaman mencoba beberapa kuliner Cirebon kemarin deh.

Tahu Gejrot

Tahu Gejrot ini salah satu Kuliner Cirebon yang biasa saya beli di Jakarta
Tahu Gejrot ini salah satu Kuliner Cirebon yang biasa saya beli di Jakarta

Sebenarnya ketika di Jakarta saya cukup sering makan Tahu Gejrot. Baik ketika jalan di trotoar, lagi main ke Monas, atau pas lagi pengen ke Kota Tua Jakarta. Namun kalau nggak cobain makan di daerah asal kok rasanya kurang afdol.

Ya, Tahu Gejrot ini adalah salah satu Kuliner Cirebon lho! Makanya kemarin ketika di hotel tempat saya menginap ada Tahu Gejrot, langsung deh saya sikat. Selain itu, pulang dari Cirebon kemarin juga sempat dibawain Tahu Gejrot buat dimakan di rumah!

Buat yang suka pedes, Kuliner Cirebon yang ini gak bisa dilewatkan deh. Paduan rasa pedas manis yang khas saus kuah gula merah, dicampur dengan bawang putih, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, cabai hijau, dan garam itu yang bikin lezat! Nyam!

Empal Gentong

Waktu cobain saya kira Empal Gentong ini adalah soto. Maklum meski suka kuliner, kalau masalah rasa, kadang suka kecampur-campur. Soalnya di kamus saya kalau masalah makanan, saya cuma tahu makanan enak, dan enak banget. Itu juga alasannya kenapa saya tidak berniat menjadi food blogger. Sudah pasti tulisan saya cuma berkutat di makanan enak dan enak banget. Terus kabur deh pembaca blog saya karena bosan~

Kalau kata wikipedia Empal Gentong ini sebenarnya Kuliner Khas Cirebon yang mirip dengan gule. Entah kenapa ada yang bilang gitu, kalau saya yang makan, malah mirip soto daging. Namun sebenarnya yang membuat Empal Gentong ini unik menurut saya adalah cara memasaknya.

Empal Gentong dimasak didengan cara tradisional di dalam Gentong atau periuk yang dibuat dari tanah liat. Biasanya daging yang digunakan adalah beripa usus, babat dan daging sapi. Empal Gentong bisa dimakan dengan lontong atau nasi.

Namun saya lebih suka memakan Empal Gentong dengan lontong sih. Terus jangan lupa, taburan sambal berupa cabe kering yang digiling diatas Empal Gentong akan membuat Kuliner Cirebon ini menjadi lebih nikmat beberapa kali lipat. Tapi ini cuma buat yang suka sama masakan pedas ya!

Nasi Jamblang

Nasi Jamblang, kuliner favorit!
Nasi Jamblang, kuliner favorit!

Ini sebenarnya yang bikin saya penasaran waktu ke Cirebon kemarin. Beberapa orang mengenalnya dengan Sego Jamblang/ Sega Jamblang. Terus terang saya blank banget mengenai kuliner Cierbon yang ini. Bahkan sebelum ke Cirebon saya sengaja gak riset terlebih dahulu. Biarlah kuliner Nasi Jamblang Cirebon ini menjadi salah satu kejutan buat saya.

Ketika mencobanya, ternyata Nasi Jamblang ini agak mirip dengan kalau beli di warteg atau nasi campur kalau di Jawa Timur. Isinya nasi dan berbagai macam lauk. Kemarin saya sempat mencoba Nasi Jamblang dengan lauk hati ayam, sate telur puyuh, udang dan terong.

Yang membuat berebeda adalah penyajiannya dengan menggunakan daun jati, dimakan secara prasmanan. Jadi bukan dengan daun pisang atau pembungkus lain. Katanya sih nasi yang dibungkus dengan daun jati bisa tetap terasa pulen dan lebih awet. Namun belum saya pastikan kebenarannya, karena kemarin saya makan langsung ditempat, tidak dibungkus untuk dibawa pulang.

Dari wikipedia, konon nama Sego jamblang atau Nasi Jamblang berasal dari sebuah nama desa di sebelah barat kota Cirebon, yakni desa Jamblang, Jamblang, Cirebon. Awalnya sih makanan khas Cirebon ini hanya buat para pekerja paksa pada zaman Belanda yang sedang membangun jalan raya Daendels dari Anyer ke Panarukan. Karena memang porsinya lumayan banyak.

Nasi Lengko

Nasi Lengko ini kuliner Cirebon yang cocok untuk vegetarian
Nasi Lengko ini kuliner Cirebon yang cocok untuk vegetarian

Karena cobain 3 kuliner Cirebon itu rasanya masih kurang, jadi saya melanjutkan untuk mencoba satu kuliner lagi ketika yang lain sudah pulang naik kereta ke Jakarta. Setelah mencari-cari, pilihan jatuh pada Nasi Lengko yang ternyata banyak penjualnya di sekitar Stasiun Cirebon.

Setelah mencoba, seharusnya Nasi Lengko ini menurut saya paling pas untuk sarapan atau makan siang. Cuma karena emang lagi pengen coba, untuk makan sore pun jadi deh. Nasi Lengko ini cocok banget yang suka dengan masakan segar, atau untuk vegetarian.

Soalnya memang sebagian besar bahan-bahannya itu tidak terdapat daging. Kecuali kalau kalian memilih memakannya dengan lauk daging ya. Untuk yang umum atau Nasi Lengko polos sih bahan-bahannya cuma : Nasi putih hangat, tempe goreng, tahu goreng, tauge yang direbus, mentimun mentah segar, dicacah), daun kucai, bawang goreng, bumbu kacang, dan kecap manis encer yang disiramkan ke atas semua bahan.

Sebenarnya masih ada banyak lagi Kuliner Cirebon yang ingin saya coba seperti Docang dan Mie Koclok. Tapi apa daya, perut sudah kekenyangan. Mungkin lain kali saya balik ke Cirebon saya harus cobain yang lain deh.

Main Ke Gua Sunyaragi

Banyak spot fotogenik di Gua Sunyaragi ini. Selain itu ada banyak cerita menarik mengenai sejarah gua ini. Nanti saya tulis lagi dalam blogpost tersendiri ya.
Banyak spot fotogenik di Gua Sunyaragi ini. Selain itu ada banyak cerita menarik mengenai sejarah gua ini. Nanti saya tulis lagi dalam blogpost tersendiri ya.

Gua ini adalah salah satu yang direkomendasikan untuk dikunjungi ketika liburan ke Cirebon. Apalagi yang waktunya tidak banyak seperti saya. Soalnya lokasinya memang berada tak jauh dari pusat kota Cirebon, atau di Jalan Brigjen AR Dharsono. Menemukan lokasi Gua Sunyaragi dengan Google Maps pun cukup mudah kok.

Sebenarnya saya masih penasaran kenapa banyak orang mengenal tempat ini sebagai wisata gua. Padahal menurut saya tempat ini lebih mirip sebagai candi, tapi dengan desain arsitektur yang benar-benar berbeda dengan candi di Jawa pada umumnya. Kalau kata pemandu waktu di Gua Sunyaragi, arsitektur unik ini bisa terwujud karena pembuatnya tidak mau Gua Sunyaragi sama dengan bentuk candi Hindu dan Buddha.

Gak heran sih, soalnya Gua Sunyaragi dibuat pada waktu kesultanan Cirebon yang menganut Agama Islam. Jadinya pembuatan candi dengan relief yang menggambarkan makhluk hidup memang dilarang dalam ajaran Agama islam. Jadilah Gua Sunyaragi ini dibuat abstrak, dibuat dengan bebatuan karang dari laut selatan. Buat yang suka dengan sejarah, dan pemburu foto Instagram, Gua Sunyaragi iini akan menjadi tempat wisata favorit kalian di Cirebon.

Mengagumi Koleksi Keraton Kasepuhan Cirebon

Saya langsung jatuh cinta sama koleksi museum ini
Saya langsung jatuh cinta sama koleksi museum ini

Keraton Kasepuhan Cirebon ini saya rekomendasikan untuk yang tak punya banyak waktu berwisata di Cirebon. Terutama mengunjungi Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon. Kalau boleh saya bilang, koleksi Keraton Kasepuhan Cirebon ini tak kalah keren dengan koleksi Keraton Yogyakarta atau Keraton Kasunanan Solo.

Ada banyak koleksi keraton yang bisa dilihat disini. Mulai dari beberapa koleksi keris, baju zirah buatan portugis, beberapa senjata perang hingga Kereta Kencana Sultan Gunung jati yang biasanya “dimandikan” tiap satu syawal. Selain itu ada lukisan Prabu Siliwangi bersama seekormacan yang menarik perhatian saya.

Lukisan ini salah satu favorit saya di Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon
Lukisan ini salah satu favorit saya di Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon

Kata pemandu, untuk mengelilingi area Keraton Kasepuhan Cirebon dan Museumnya ini paling cepat memerlukan waktu 45 menit, sementara itu normalnya adalah 1 jam. Kalau saya jalan sendiri, mungkin bisa habis waktu sekitar 2 jam. Apalagi koleksinya keren, dan harga tiket masuknya cukup terjangkau. Tertarik main kesini?

Jalan-Jalan Sore Di Kota Cirebon

Masjid Agung Cirebon bisa kalian kunjungi sambil jalan kaki keliling kota
Masjid Agung Cirebon bisa kalian kunjungi sambil jalan kaki keliling kota

Teman-teman #JelajahEnergiCirebon yang lainnya sudah pada pulang duluan ke Jakarta dari jam 2 siang. Sementara saya masih harus menunggu kereta Gajayana yang baru berangkat jam 20.30. Jadinya saya punya waktu yang cukup lama untuk keliling sekitar Stasiun Cirebon.

Dua tempat yang bisa saya kunjungi dengan berjalan kaki dari Stasiun adalah Balai Kota dan Masjid Agung Cirebon yang konon diceritakan kalau katanya dibangun dalam semalam. Saya tidak tahu itu benar atau tidak, tetapi tidak ada salahnya untuk mampir sejenak ke tempat ini.

Apalagi Kota Cirebon ketika sore hari itu ternyata asik untuk berjalan kaki. Trotoarnya luas dan ramah untuk pejalan kaki, tanpa takut ada sepeda motor tiba-tiba menyelonong dari belakang seperti di Jakarta. Jalan kaki sambil kulineran pun juga bisa. Nah, ada yang tertarik untuk liburan ke Cirebon dalam sehari gak?

Yang Banyak Dicari

  • liburan ke cirebon
  • wisata cirebon sehari
  • backpakeran ke jawa barat
  • cerita liburan ke cirebon
  • destinasi backpacker jawa barat
About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di [email protected] Cepetan Ga pake lama ya!

17 Responses
  1. pernah main ke cirebon juga, nggak sampe 24 jam banget sih. baru sempet nyobain Empal Gentong aja. masih ada hutang tahu gejrot (yang dimakan di cirebon, soalnya kalo pas di jogja juga pernah makan) sama Nasi Jamblang dan Nasi Lengko (ini yang kepengen banget.

    kalo main, cuma ke keraton cirebon yang satunya kayaknya. yang ada gerbang uniknya itu wkwk. sama masjid agung cirebon.
    katanya kalo malem malem deket masjid agung cirebon banyak yg jual kuliner khas cirebon, tapi lupa yang jamblang apa yang lengko wkwk

  2. Pas dua tahun lalu saya ke Cirebon, di area sekitar Keraton Kasepuhan nya kotor dan jorok sekali karena dikelilingi pasar yang buka khusus selama sebulan setelah Tahun Baru Hijriyah kalau tidak salah. Sayang banget. Tapi Gua Sunyaragi nya bagus ya. Dari Cirebon bisa juga jalan-jalan ke arah Kuningan mengunjungi Museum Perjanjian Linggar Jati dan Tempat Wisata Sangkanhurip.

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: