Jelajah Energi Penggerak NKRI

“Selamat Anda Terpilih Mengikuti Event Blogger Touring Pertamina” Tulis di salah satu subjek email di smartphone saya. “Eh, pertamina mau ngadain touring apa ya?” Setelah saya pelajari lebih lanjut, ternyata email itu berisi ajakan untuk berkunjung ke Cirebon dan main ke salah satu situs pengeboran minyak pertamina, juga melihat salah satu kilang minyak yang biasanya digunakan untuk mengolah minyak mentah menjadi BBM, Non BBM dan Petrokimia.

Terus terang sebagai lulusan Teknik Elektro yang berpengalaman menjadi software engineer selama 4 tahunan, lalu banting setir menjadi full time travel blogger dan digital marketer, saya kangen suasana kerja seorang engineer. Itu berarti, kalau saya mengiyakan undangan ini, saya bisa menyamar dan berlagak menjadi seorang Insinyur perminyakan meski hanya dalam sehari saja.

Setelah saya menyanggupi untuk menghadiri undangan ini, saya baru tahu kalau ternyata saya akan berkunjung ke Pertamina EP asset 3 Jatibarang dan RU VI Balongan via Cirebon. Untuk keberangkatan sendiri dimulai dari Jakarta, dengan menggunakan Kereta Api Eksekutif Argo Muria. Kereta ini berangkat tepat jam 7 pagi dari Stasiun Gambir, dan sampai di Cirebon sekitar jam 10-an.

Terus terang, baru kali ini saya mampir ke kota Cirebon. Kalau numpang lewat sih sering, apalagi setiap saya pulang ke kampung halaman yang ada di Blitar dengan kereta, sudah pasti akan lewat Stasiun Cirebon. Tentunya selain berkunjung ke Pertamina EP asset 3 Jatibarang dan RU VI Balongan, saya nggak akan melewatkan berburu kulinernya seperti Empal Gentong, Nasi Lengko dan Tahu Gejrot!

Kapan lagi saya bisa melihat langsung proses pengeboran minyak bumi
Kapan lagi saya bisa melihat langsung proses pengeboran minyak bumi

Menuju Pertamina EP asset 3 Jatibarang

Saya sampai di Cirebon tanpa hambatan apapun. Malah, sesaat sebelum sampai di Stasiun Cirebon saya disuguhi pemandangan indah Gunung Cereme yang berada tak jauh dari kota ini. Cuaca memang sedang berada dalam kondisi terbaiknya. Tak terlihat awan mendung sama sekali, sinar matahari pun begitu terik meski waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi.

Gunung Cereme terlihat indah di kejauhan sesaat sebelum sampai di Stasiun Cirebon
Gunung Cereme terlihat indah di kejauhan sesaat sebelum sampai di Stasiun Cirebon

O iya, untuk acara ini sendiri diberi tema berupa #JelajahEnergiCirebon. Dan setelah ini, tujuan pertama berarti Pertamina EP asset 3 Jatibarang yang merupakan salah satu anak perusahaan pertamina. Lokasinya sendiri berada di Jatibarang, Kabupaten Indramayu yang berada sekitar satu jam perjalanan lagi dengan naik bus yang sudah disediakan.

Saya baru tahu kalau pertamina itu ternyata ada banyak usahanya ya. Padahal sebagai orang awam, yang saya tahu pertamina itu ya cuma bagian distribusi dan jualan minyak. Lha kok ternyata mereka juga melakukan eksplorasi sendiri seperti yang dilakukan EP 3 ini. EP 3 sendiri pekerjaan utamanya adalah explorasi, exploitasi dan memproduksi minyak, gas dan panas bumi.

Gara-gara berkunjung kesini saya jadi tahu beberapa hal baru tentang seputar perminyakan
Gara-gara berkunjung kesini saya jadi tahu beberapa hal baru tentang seputar perminyakan

Nggak main-main, per bulan EP3 ini bisa menghasilkan sekitar 6000-an barel minyak. Kalau satu barel sekitar 3,8 liter, 6000 barel berarti….

Yah, sudah pasti lebih dari cukup untuk mengisi BBM mobil yang ada dirumah untuk setahun deh. Atau bahkan lebih? Salah satu hal seru pada acara #JelajahEnergiCirebon ini sebenarnya adalah ketika akan mengunjungi salah satu site pengeboran minyak di EP asset 3 Jatibarang. Disitu saya dijelaskan bagaimana standard keamanan kerja pertamina yang begitu ketat.

Siapapun yang baru datang ke EP asset 3 Jatibarang wajib melalui yang namanya briefing safety induction, baik di kantor utama juga setelah berada di salah satu site pengeboran. Mulai dari apa yang harus dilakukan jika terjadi keadaan darurat ketika meeting di dalam gedung, hingga apa yang harus dilakukan jika terjadi kondisi berbahaya di area pengeboran.

Utamakan selamat!
Utamakan selamat!

Selain itu, ketika saya berkunjung ke salah satu site pengeboran EP asset 3 Jatibarang, saya harus mengenakan alat pelindung diri (APD) yang terpasang lengkap. Mulai dari baju dan celana yang jadi satu, safety helm, safety boot, dan safety glasses. Gak ada kompromi di pertamina kalau masalah keselamatan dan keamanan kerja. Sampai-sampai salah satu tagline mereka adalah “Zero Accident” selama bekerja disini.

Memang sih ketika menggunakan APD saya merasa aman banget. Tapi ketika di site pengeboran, saya baru merasa kalau ketika memakai baju ini panasnya minta ampun. Efek terik matahari di luar sih. Hasilnya, keringat mengucur deras selama saya memakai baju tadi. Makanya, saya salut sama mas-mas engineer yang setiap harinya tahan dan tetap bekerja keras dibawah terik matahari dengan baju APD full set tadi.

Salut sama yang tahan memakai safety suit ini selama sehari penuh! Panas banget!
Salut sama yang tahan memakai safety suit ini selama sehari penuh! Panas banget!
Sudah cocok jadi insinyur minyak belum? Difotoin sama wiranurmansyah pake kamera dan lensa mahalnya~
Sudah cocok jadi insinyur minyak belum? Difotoin sama wiranurmansyah pake kamera dan lensa mahalnya~

Pun, saya menahan rasa gerah akibat menggunakan pakaian APD. Karena, setelah saya berkunjung ke salah satu site pengeboran EP asset 3 Jatibarang, saya jadi tahu bagaimana wujud alat untuk mengambil mentah dari perut bumi itu. Sekilas mesin pengebor perut bumi ini mirip dengan site peluncuran roket nasa, tempatnya berisik, penuh dengan mesin berat yang saya tak tahu fungsinya apa.

Namun yang pasti, menurut mas engineer yang memandu saya kemarin, ini adalah salah satu alat bor terbaru dan paling mutakhir. Saya iyain saja, karena meski saya juga engineer, saya cuma seorang software engineer yang berkutat dengan bahasa pemrograman. Bukan dengan alat berat untuk pengeboran minyak bumi.

Dijelaskan kalau mesin ini adalah yang terbaru dan canggih
Dijelaskan kalau mesin ini adalah yang terbaru dan canggih
Mesin raksasa ini yang digunakan untuk mengebor minyak di salah satu site Pertamina EP asset 3 Jatibarang
Mesin raksasa ini yang digunakan untuk mengebor minyak di salah satu site Pertamina EP asset 3 Jatibarang

Yang jelas, disinilah awal mula pembuatan salah satu bahan bakar penggerak NKRI. Apa jadinya kalau pertamina tidak melakukan explorasi dan exploitasi sendiri. Tentu negara perlu mengimport minyak lebih banyak bukan? Dana yang diperlukan juga bakal lebih banyak. Selain itu disini juga awal mula didapatkannya bahan bakar untuk kemudian diubah menjadi beberapa jenis seperti Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo.

Eh, tapi kalian apakah pada tahu mengenai perbedaan antara Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo? Kalau nggak kesini saya pun pasti malas cari tahu. Namun perbedaan mendasar adalah pada jumlah Oktan bahan bakar. Contohnya saja Pertamax ini mempunyai oktan 92. Sementara Pertamax Turbo punya oktan 98. Sementara itu hubungannya dengan mesin, bilangan oktan ini menunjukan seberapa besar tekanan yang bisa diberikan sebelum bbm terbakar seluruhnya.

Zero Accident, standard keselamatan kerja di pertamina sangat tinggi
Zero Accident, standard keselamatan kerja di pertamina sangat tinggi

Singkatnya, makin tinggi oktan BBM yang dipakai, itu berarti akan makin bagus dan efisien kinerja dari mesin yang menggunakannya. Makanya, jika ingin mesin kendaraan lebih awet, gunakan saja BBM dengan Oktan yang sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraan. Soalnya menggunakan oktan yang lebih rendah dari seharusnya bisa membuat kinerja mesin menjadi kurang optimal dan jadi tidak awet. Kira-kira begitu.

Sekilas Tentang RU VI Balongan

Kalau di EP asset 3 Jatibarang saya bisa masuk dan melihat dari dekat, namun untuk RU VI Balongan ini saya hanya bisa melihat dari jauh. Soalnya memang ini salah satu aset vital negara untuk pengolahan, jadi memang nggak semua orang bisa masuk dan mendekat. Meskipun begitu saya tetap mendapatkan penjelasan mengenai fungsi dari RU VI Balongan.

Fasilitas kilang miyak RU VI Balongan
Fasilitas kilang miyak RU VI Balongan

RU sendiri merupakan singkatan dari Refinery Unit, atau Unit Pengolahan. RU VI Balongan ini sendiri merupakan sebuah kilang minyak yang sudah beroperasi sejak tahun 1994. Pada kilang minyak ini terjadi pengolahan minyak mentah menjadi produk-produk Bahan Bakar Minyak (BBM), Non BBM, dan Petrokimia, untuk kemudian disalurkan ke beberapa pelanggan industri yang membutuhkannya.

Bahkan bisa dibilang kalay RU VI Balongan sangat berperan penting untuk mengamankan pasokan BBM yang mempengaruhi kegiatan perekonomian di beberapa daerah seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat dan sekitarnya. Soalnya memang beberapa hasil dari kilang minyak dikirimkan secara langsung dengan pipa menuju ke beberapa daerah tersebut.

Nggak Cuma Produksi Minyak, Tetapi Pertamina Juga Melakukan Banyak CSR

Sebagai perusahaan energi, pertamina gak cuma melakukan explorasi dan exploitasi saja. Namun mereka juga melakuka beberapa kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat melalui beberapa CSR.

Seperti salah satunya adalah aksi untuk merehabilitasi dan konservasi tanaman mangrove di Pantai Karangsong, Indramayu mulai dari tahun 2010. Disini pertamina membantu dalam melestarikan dan menanam beberapa jenis mangrove, sehingga bisa menyelamatkan pantai dari abrasi. Sampai sekarang ini ada sekitar 15.000 pohon mangrove yang telah ditanam disini.

Bisa trekking di tengah hutan mangrove disini
Bisa trekking di tengah hutan mangrove disini

Kerennya lagi, mangrove yang ada di Pantai Karangsong ini nggak cuma ditanam sebagai penahan abrasi air laut begitu saja. Namun kawasan ini juga telah diubah menjadi sebuah kawasan ekowisata hutan Mangrove di Indramayu yang ciamik. Tentunya ini jadi sebuah tempat wisata yang asik untuk berburu foto Instagram dong?

Kebetulan saya juga sempat merasakan untuk menjelajahi sebagian dari area hutan mangrove, baik dengan menggunakan perahu atau berjalan kaki pada jalan setapak berupa anyaman bambu yang dibuat oleh masyarakat setempat. Tempatnya memang asik sih, nggak heran kalau setiap akhir pekan tempat ini sering dipenuhi pengunjung. Apalagi tarif untuk naik perahu menuju hutan mangrove Karangsong ini cuma IDR 15.000 saja.

Pastikan membawa kamera yang mumpuni untuk berburu foto instagram
Pastikan membawa kamera yang mumpuni untuk berburu foto instagram

Terakhir, jika kalian ingin berkunjung ke Mangrove Karangsong jangan lupa mampir ke Rumah Berdikari binaan pertamina ya. Rumah Berdikari ini merupakan sebuah tempat pengembangan budaya, kerajinan dan industri di sekitar Indramayu. Selain itu kalian juga bisa mencoba beberapa makanan hasil olahan mangrove. Jangan heran kalau mangrove ini selain berfungsi sebagai penahan abrasi, bisa juga diolah menjadi dodol, cemilan, sirup dan bahkan… kecap! Tertarik mencobanya?

Dijadikan sirup juga bisa lho
Dijadikan sirup juga bisa lho
Baru tahu kalau mangrove bisa dijadiin keripik
Baru tahu kalau mangrove bisa dijadiin keripik
Ternyata ada banyak hal yang bisa dibuat dari mangrove
Ternyata ada banyak hal yang bisa dibuat dari mangrove
Bisa naik perahu di Ekowisata Mangrove Karangsong
Bisa naik perahu di Ekowisata Mangrove Karangsong
Ada ribuan burung yang rumahnya di Mangrove Karangsong
Ada ribuan burung yang rumahnya di Mangrove Karangsong
About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di [email protected] Cepetan Ga pake lama ya!

6 Responses

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: