An Overland Trip, 30 Jam : Dinamika Kehidupan Sepanjang Denpasar – Jakarta

Pernah terpikirkan kalau kadang perjalanan bisa lebih menarik dari tujuan perjalanan itu sendiri? Saya sempat mengalaminya beberapa kali, dan kadang menikmati perjalanan bisa menjadi obat yang cukup ampuh ketika tujuan perjalanan tidak semenarik yang dibayangkan sebelumnya. Long weekend imlek kemarin saya sempat ber-backpacking dengan konsep “menikmati perjalanan” dari pada menikmati tujuannya.

Sebuah perjalanan yang cukup panjang, dan juga memecahkan rekor pribadi untuk perjalanan nonstop tanpa menginap sama sekali. Yaitu perjalanan darat dari Denpasar, Bali menuju tujuan akhir Jakarta dengan transit beberapa menit sampai beberapa jam di kota – kota yang saya lewati.

Overland Track Denpasar - Jakarta
Overland Track Denpasar – Jakarta

Total perjalanan menghabiskan waktu kurang lebih 30 Jam melalui beberapa kota besar di Jawa seperti Surabaya, Jogja, Bandung, dan tujuan akhirnya Jakarta. Moda transportasi yang saya gunakan juga bermacam – macam mulai dari sepeda motor, Bus, Kapal Ferry, Kereta Api. Bahkan sebuah Airbus A330 – 200 pada waktu pulangnya yang sempat membuat saya “norak – norak” bergembira, karena memang saya baru pertama kali naik pesawat dengan tipe Airbus. Bisa di tebak gaya “ndeso” saya pun kumat. Hehehe… biarlah ndeso dikit asal dapat pengalaman baru.

(Baca Juga : Satu Meter Per Jam, Terjebak Macet Di Pelabuhan Padang Bai)

Perjalanan dengan konsep Adventure saya mulai sepulang kerja, dengan langsung menuju terminal utama Denpasar yaitu terminal Ubung dengan diantar teman kantor. Perjalanan saya mulai dengan naik bus menuju cek point pertama Surabaya. Belum memesan tiket jauh – jauh hari membuat para calo tiket terminal kelaparan, apalagi tampang saya yang terlihat akan melakukan perjalanan jauh.

Sejak sampai di terminal Ubung para calo kelaparan itu langsung mengerubuti saya, bahkan ada yang sempat mengancam saya agar mau membeli tiket dari mereka. Para backpacker sekalian hendaknya berhati hati jika berada dalam kondisi seperti ini. Katakan “tidak”, sambil terus jalan, dan kemudian belilah di loket resmi-nya agar tidak mendapat tiket palsu. Mereka otomatis akan pergi dengan sendirinya setelah kita memegang tiket.

Tiket Bus Eksekutif tujuan Surabaya saya dapatkan dengan harga 145 ribu termasuk makan, dan saya beruntung bus ini enggak terlalu lama “ngetem”. Tepat jam 18.00 WITA bus langsung berangkat, jadi saya bisa tepat waktu sampai di Surabaya, pada keesokan harinya.

(Baca Juga : Masakan Khas Bali, Ayam Betutu Khas Gilimanuk)

Meskipun menjelang long weekend perjalanan menuju Pelabuhan Gilimanuk cukup lancar, perjalanan jadi terasa lebih cepat. Kurang dari 3 jam saya sudah sampai di Pelabuhan Gilimanuk. Hanya saja waktu itu lama banget docking-nya, padahal perut sudah keroncongan karena memang belum makan malam. Begitu bus sudah docking ke kapal, saya langsung keluar cari yang namanya makanan, hingga ketemu mie instant sang penyelamat saya dari kelaparan.

Suasana pelabuhan Gilimanuk di malam hari
Suasana pelabuhan Gilimanuk di malam hari

Sepanjang perjalanan menuju Surabaya saya habiskan dengan tidur, tidur, dan tidur. Karena memang perjalanan malam hari jadi lebih baik menghemat tenaga. Hanya sesekali saya terbangun oleh alunan musik dangdut sagita musik terfavorit para supir bus jalur pantura.

Pilihan yang bagus pak supir“. Pikir saya waktu itu.

Ternyata Bus memang mau berhenti di sebuah depot makan, makanya di putar lagu yang cukup keras suaranya, yang bahkan cukup untuk membangunkan kucing yang sedang tidur sekalipun. Aslinya sih untuk membangunkan para penumpang bus untuk makan malam.

Sudah bisa ditebak makan paketan bus pasti tidak terlalu enak, bahkan tidak enak. Tapi gimana lagi dari pada kelaparan buru – buru saya makan dan kembali ke bus untuk melanjutkan mimpi indah saya, dan berharap begitu terbangun saya sudah berada di Surabaya.

***

Sang mentari masih belum terlihat, namun sedikit sinarnya sudah menghiasi langit kota Surabaya menambah keindahan kota yang menurut saya panasnya belum ada yang mengalahkan. Saya pun terbangun, karena sebentar lagi sampai di terminal Purbaya.

Satu tahun nampaknya membuat banyak sekali perubahan pada terminal Purbaya atau juga dikenal dengan Terminal Bungurasih ini. Contohnya, berpindahnya tempat berhenti bus ekonomi, membuat saya harus mengobservasi terlebih dahulu. Memang sedang dilakukan renovasi pada terminal ini, satu tahun lalu saya hanya melihat gambar maketnya saja, namun sekarang sudah dilakukan beberapa perubahan. Karena tidak amu berlama – lama di terminal Purbaya saya langsung melanjutkan perjalanan menuju Jogjakarta dengan bus ekonomi.

(Baca Juga : Kalian Akan Terkesima, Karena Tanpa Wisata Alamnya Pun, Yogyakarta Tetap Menggoda!)

Delapan jam adalah waktu yang dihabiskan menuju Jogjakarta dengan menggunakan bus ekonomi, agak lama memang jika di bandingkan dengan naik bus eksekutif. Tetapi dengan naik bus ekonomi anda akan dapat menemukan dan merasakan sensasi adventure backpacking. Karena kalau naik bus eksekutif yang ada tidur, tidur dan tidur! Hehehe… Namun banyak hal unik yang dapat ditemukan ketika naik bus ekonomi.

Seperti pengamen yang tidak pernah berhenti keluar masuk bus, dengan lagu yang itu – itu saja. Kadang ada pengamen yang serius juga ngamen-nya, namun kebanyakan pengamen yang serius ini membawakan lagu – lagu tradisional. Sepertinya mereka lebih peduli dengan budaya bangsa dari pada saya yang lebih senang dengan lagu rock. Tidak ketinggalan pedangang kaki lima dua silih berganti memasuki bus yang saya tumpangi, dengan semangat mereka menjajakan jualannya demi mencari nafkah untuk keluarganya.

Suasana yang bisa ditemui di dalam sebuah Bus ekonomi tujuan Jogjakarta
Suasana yang bisa ditemui di dalam sebuah Bus ekonomi tujuan Jogjakarta

Lewat tengah hari akhirnya sampai juga di Jogjakarta, sebuah kota yang menurut saya adalah Jawa yang benar – benar “Jawa”. Terminal Giwangan adalah terminal bus antar kota dan provinsi Jogjakarta, juga terminal utama untuk akses keluar masuk kota ini. Terminal ini berada di pinggiran kota.

Jadi, untuk menuju tengah kota kita bisa naik bus Trans-Jogjakarta, yang merupakan moda transportasi favorit saya ketika di Jogja karena cukup membayar Rp. 3000 saja kita sudah bisa keliling kota. Moda transportasi yang murah hanya saja sedikit kurang efisien.

***

Nampaknya penyakit yang namanya “macet” juga sudah menular ke kota ini, atau mungkin juga macet karena efek long weekend? Saya kurang tahu, karena Jogja dalam ingatan saya tidaklah semacet ini. Naik bus Trans-Jogjakarta pun juga tak senikmat dahulu, karena interior beberapa bus yang sudah banyak yang mulai rusak tak terawat. Padahal menurut saya transjogja merupakan nilai tambah pariwisata dari kota gudeg ini.

Akhirnya efek dari kemacetan ini membuat saya terlambat sampai di stasiun kereta api tugu, tiket kereta eksekutif Lodaya Malam pun tidak saya dapatkan, saya harus puas dengan tiket kelas bisnis Mutiara Selatan.

Yah sudah lah, yang penting bisa lanjut sampai Bandung dulu” Pikir saya waktu itu.

Enam jam, waktu yang saya punya untuk berkeliling di Kota Gudeg ini sebelum saya melanjutkan perjalanan dengan kereta Mutiara Selatan dengan tujuan akhir Bandung. Waktu transit yang singkat membuat saya harus mencoret beberapa list tujuan saya, seperti Candi Prambanan. Meski lokasinya tidak terlalu jauh dan bisa di jangkau dengan Transjogja, namun melihat kemacetan kota ini, saya jadi urung untuk mengunjunginya. Menghabiskan waktu dengan berjalan – jalan di jalan malioboro, menjadi pilihan utama saya, karena selain dekat dengan stasiun tugu, saya juga harus membeli barang titipan.

Pasar malam di alun - alun keraton Jogjakarta
Pasar malam di alun – alun keraton Jogjakarta

Nampaknya saya datang di Jogjakarta pada waktu yang tepat, meskipun hanya transit saja. Di alun – alun keraton Jogjakarta sedang ada event pasar malam, yang sudah lama sekali saya tidak melihatnya. Tidak seperti pasar malam abal – abal yang isinya hanya orang jualan saja, pasar malam di alun – alun jogjakarta ini berbeda. Banyak wahana – wahana unik yang biasanya terdapat di taman hiburan seperti roller coaster, Rumah Hantu , komidi putar dan masih banyak lainnya. Tidak ketinggalan makanan khas dan jajanan pasar yang sudah lama tidak saya temui di jajakan di pasar malam ini, saya jadi semakin bingung untuk mencoba yang mana, karena memang kapasitas perut yang terbatas.

Sesuai dengan motto traveling saya “Capture, Write And Share” kamera saya tidak pernah berhenti mengabadikan moment moment unik yang saya temui. Sayang hujan memaksa saya untuk berhenti, saya tidak mau kamera saya basah, saya pun melanjutkan perjalanan ke Jalan Malioboro.

Memesan segelas susu jahe hangat  di lesehan pinggiran Jalan Malioboro menjadi pilihan saya untuk menghabiskan waktu sebelum melanjutkan perjalanan, sambil menikmati hiruk – pikuk jalan ini dikala hujan.

“Menikmati segelas susu jahe hangat  di pinggir Jalan Malioboro memang moment terbaik di kota ini, belum ada yang mengalahkan-nya” Pikirku waktu itu.

Mendekati jam 9 malam waktu Indonesia, Jogja, saya beranjak dari lesehan. Hujan sudah reda dan saya harus melanjutkan perjalanan menuju Bandung. Jarak jalan Malioboro dengan Stasiun Tugu tidak terlalu jauh, berjalan kaki tidak akan membuat capek, apalagi sambil menikmati keindahan malam hari kota Jogja.

Sedikit kaget, itulah reaksi saya ketika sampai di dalam stasiun tugu. Stasiun ini cukup unik, bersih dan ada tempat istirahat sambil men-charge handphone. Gratis lagi! Sampai sejauh ini Stasiun Tugu mendapat award stasiun kereta api terbaik versi saya.

***

Meskipun sedikit ngaret akhirnya kereta api Mutiara Selatan mendarat di stasiun tugu, gak banyak “cingcong” saya langsung naik dan mencari tempat duduk saya, “saya mau tidur” karena efek tidur kurang nyenyak di bus kemarin, bus jalur pantura memang tidak ada yang tidak “ugal-ugalan”.

Jogjakarta – Bandung akan ditempuh dengan waktu 8 jam, dan hampir sepanjang perjalanan saya habiskan dengan tidur, tetapi tidak ketika kereta sudah mendekati bandung. Saya terbangun karena landscape yang begitu indah. Tubuh yang masih belum mau kompromi saya paksa untuk menuju kamar kecil untuk cuci muka. Setelah itu saya segera kembali ke tempat duduk untuk dan mempersiapkan kamera, terlalu sayang untuk tidak diabadikan. Akhirnya entah berapa kali shutter kamera berbunyi dan mengabadikan lukisan alam yang begitu indah ini.

(Baca Juga : Edisi Jalan Kaki Hore Keliling Kota Bandung)

Datang terlambat sampai tepat waktu, mungkin saya harus memuji Kereta Mutiara Selatan ini, sehingga saya bisa mengejar kereta selanjutnya kereta Argo Prahyangan tujuan akhir stasiun Gambir, Jakarta. Kali ini Bandung hanya sebagai tempat transit singkat, saya tidak berencana untuk berkeliling, karena memang tujuan liburan saya adalah Jakarta. Saya ingin sekali lagi mengeksplore kota yang penuh dengan hutan gedung itu.

Waktu yang hanya tinggal 15 menit sebelum kereta Argo Prahyangan berangkat, memaksa saya harus berlari – lari menuju loket dan membeli tiketnya, saya tidak boleh ketinggalan dan kehabisan tiket, kalo perlu jadi “bonek”! Yang penting naik kereta pertama! Heheheee.

Saya tidak ingin kehilangan moment Traintravellicious yang sudah saya rencanakan. Dulu saya pernah naik kereta jalur ini dan terpaksa harus ngiler dengan breath stopping sccenery nya, karena tidak membawa kamera selain kamera handphone. Sekarang saya datang dengan lengkap, tidak ingin ketinggalan untuk mengabadikan keindahan perjalanan kereta sepanjang Bandung – Jakarta.

Pemandangan yang hanya didapatkan dengan naik kereta api Bandung - Jakarta
Pemandangan yang hanya didapatkan dengan naik kereta api Bandung – Jakarta

Mengarungi selat Bali, naik bus eksekutif dengan makan tengah malam yang “sangat tidak enak”, berkesempatan melihat pasar malam di kota Gudeg, berlari – lari untuk membeli tiket Argo Prahyangan demi sebuah Traintravellicious, akhirnya saya sampai di ibu kota, Jakarta.

Total waktu yang saya habiskan adalah 30 Jam dengan dua malam tidur di kendaraan. Sangat capek memang, tetapi semua terbayarkan dengan pengalaman yang saya dapat selama perjalanan. Saya mungkin tidak mengulanginya lagi kecuali ada sejuta orang yang request di blog ini. Heheheeee. ada yang berani nyoba juga?

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di catperku@gmail.com. Cepetan Ga pake lama ya!
20 Responses
  1. Sebuah travelphoto log, perjalanan darat dari Pulau dewata ke Batavia

    […] An overland trip, 30 Jam, dinamika kehidupan sepanjang Denpasar – Jakarta […]

  2. Kota tua Jakarta, saksi sejarah Ibu kota yang eksotis

    […] waktu lalu ketika saya melakukan perjalanan overland trip dari Bali dengan tujuan akhir Jakarta, Saya berkesempatan untuk menyusuri sudut – sudut kota […]

  3. Petualangan Jakarta : Nginep Di Bandara, Monas, Bajaj, Dan Eskrim Ragusa

    […] gak ada niatan untuk berpetualang singkat ke Jakarta, tapi apa daya, tiket super murah dari maskapai LCC favorit saya Air Asia bulan Juni 2012 lalu […]

  4. Yogyakarta Murah - Yogyakarta Sepuluh Ribu Saja!!!

    […] tidak bermurah hati mengadakan promo Free Seat, hingga harga tiket untuk rute Denpasar – Yogyakarta tinggal seharga Rp. 10.000. Ini juga kali pertama saya berkunjung ke Yogyakarta dengan menggunakan […]

  5. Banyak Jalan Liburan Ke Bali! - @catperku

    […] berganti – ganti kendaraan umum untuk menuju Pulau Bali. Perlu diketahui ada dua pintu masuk ke Pulau Bali jika dengan perjalanan darat. Pintu pertama ada di bagian barat pulau, yaitu Pelabuhan Gilimanuk dengan penyeberangan dari […]

  6. nyontek ke blog kmu utk tau itin dps – yogya (pdhal dl waktu muda uda perna overland tanpa itin & tnyata aman2 aja tuh ….hkhkhkhk)
    smoga tercapai cita2nya yah keliling dunia….asik tuh :D

  7. Jadi inget komentar saya dulu. Logawa itu K3, samapai tahun jebot nggak akan jadi K1+K2 kayak Lodaya. Tapi, mutsel jauh lebih bagus dari Lodaya. Lebih ekspress dari Lodaya. Percaya enggak percaya, waktu saya pulang ke jogja, saya naik KA eksekutif(K1) full sekaligus KA paling ekspress, namanya Ekspress Malam Bima atau KA 42. Saat pulang, saya naik KA ini lagi ke Jakarta (nomornya berubah jadi 41) maklum favorit. Stasiun Sruweng, KA saya ditahan. Saya mengalah dengan Mutsel. Mempersilakan lewat duluan. Kalah silang. Saya sabar aja. Yang penting jadi momen menghebohkan di kalangan railfans. Tapi, intinya, KA ini paling bagus ke BD

  8. nggak apa-apa, pilihan orang. Masalahnya sih, KA ini ditahan 1 jam untuk ngalah dengan KA ekonomi. Lodaya yang KA eksekutif & bisnis, mengalah dengan KA ekonomi terendah. Bikin malu. Tapi, nggak apa-apa. mencoba-coba banyak KA malah bagus

  9. Seumur hidup, yang udah pernah saya cobain,
    1. Taksaka pagi dan malam (KA 49, 50, dan 52. 51 belum)
    2. Argo Lawu (KA 7)
    3. Argo Dwipangga (KA 9)
    4. GoPar (saya udah lupa nomor berapa)
    5. Ekspress Malam Bima (favorit. KA 42 dan 41)
    6. Sancaka sore (KA 75)
    7. Bogowonto (KA 136)
    8. Senjut SLO (KA 115)
    9. Bangunkarta (KA 54)
    10. Gajayana (KA 39)
    11. Brantas (KA 156)
    12. Krakatau (KA 139)
    13. Sidomukti (KA 128)
    14. Gaya Baru Malam Selatan (KA 153)
    15.Tawang Jaya (KA 178)
    16. Cirebon Ekspress Tegal (KA 65)
    17. Lokal RK (KA 383A)
    18. Lokal PWK (KA 369, 364)
    19. Kalimaya (saya lupa nomor berapa)
    20. Prameks (saya lupa juga)
    21. Dan berbagai macam KRL.
    sudah. Itu sudah semua.

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: