Benteng Fort Rotterdam, Tempat Wisata Bersejarah Di Tengah Kota Makassar

Kesan pertama saya ketika pertama kali liburan ke Makassar adalah, kota ini adalah kota yang macet. Tidak berbeda jauh dengan beberapa kota besar lain yang ada di Jawa dan Bali. Selain itu sepertinya memang virus kemacetan sudah menyebar ke seluruh indonesia ya? Hehehee… Sepertinya  itu merupakan salah satu pertanda buruk bagi saya, terutama ketika saya mengunjungi Benteng Fort Rotterdam.

Jika kita browsing dan mencari informasi tentang tujuan turisme di Kota Makassar, Benteng Fort Rotterdam akan muncul dalam salah satu top list tujuan untuk dikunjungi ketika di Makassar. Selain kuliner khas Makassar Pisang Epe atau wisata Pulau Samalona di Makassar. Namun, sayang sekali saya kurang beruntung ketika saya berkunjung ke Fort Rotterdam.

Karena Fort Rotterdam yang ada di tengah kota ini sedang di renovasi total saat saya berkunjung. Jadi, dengan berlapang dada saya harus menerimanya, dan saya tidak bisa menikmati wisata bersejarah yang telah berdiri sejak abad ke 17 ini secara maksimal. Tapi paling tidak saya senang bisa mampir sejenak mengagumi sebuah kekayaan sejarah yang dimiliki Indonesia.

Benteng Fort Rotterdam, Gambaran Kejayaan Masa Kolonial

Benteng Fort Rotterdam sendiri merupakan salah satu benteng yang dianggap termegah dan menawan di Sulawesi Selatan. Menurut sebuah catatan dari sumber yang saya temukan “ Seorang wartatwan New York Times , Barbara Crossette pernah menggambarkan benteng ini sebagai the best preserved dutch fort in asia“. Tetapi, apakah benar begitu adanya? Apa lagi ketika saya mengunjungi benteng dan sedikit berkeliling, kondisi benteng cukup “morat – marit” atau berantakan.

Seperti biasanya, bangunan dari masa kolonialisme itu kokoh sekali
Seperti biasanya, bangunan dari masa kolonialisme itu kokoh sekali

Yah, mungkin karena proses renovasi ya? Jadi saya tidak bisa menikmati keindahan sejarah dari Benteng Fort Rotterdam ini. Selain itu ada satu lagi yang membuat saya sedikit menyesal. Saya tidak sempat ke Museum La Galigo dan menjenguk ruang tahanan sempit Pangeran Diponegoro saat dibuang oleh Belanda ke Sulawesi, setelah tertangkap di Jawa. Lagi – lagi karena renovasi sedang dilakukan di benteng ini. Hufhhh!! Sial!

Sejarah Benteng Fort Rotterdam

Meski datang saat direnovasi, paling enggak saya sempat mempelajari tentang sejarah dari Benteng Fort Rotterdam ini secara singkat. Tujuan renovasi diatas, mungkin agar statusnya sebagai “The best preserved dutch in asia” tetap terjaga. Kalau begitu kan sampai anak cucu nanti masih bisa menikmati kemegahan benteng keren di Makassar ini.

Benteng ini pernah memiliki julukan Benteng Jumpandang atau Ujung Pandang, dan berada dalam masa kejayaannya pada abad ke 17. Waktu itu kesultanan yang memerintah adalah Kesultanan Gowa yang juga memiliki 17 Benteng tersebar di seluruh Makassar. Namun dari kesemuanya, Fort Rotterdam adalah yang paling megah dan terpelihara.

Yang membangun tempat ii sendiri adalah Raja Gowa ke-10 yang bernama Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung atau Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Namun pada waktu itu bentuk benteng belum seperti sekarang. Namun bentuk awal Fort Rotterdam adalah benteng segi empat seperti kebanyakan benteng bergaya portugis. Dan tidak ada perubahan berarti sampai tahun 1634.

Waktu itu Benteng Fort Rotterdam Makassar sedang direnovasi
Waktu itu Benteng Fort Rotterdam Makassar sedang direnovasi

Perubahan bentuk Benteng Fort Rotterdam baru terjadi pada tanggal 9 Agustus 1634. Yaitu pada masa Sultan Gowa ke-14 yang bernama I Mangerangi Daeng Manrabbia, dengan gelar Sultan Alauddin. Beliau mulai membuat dinding tembok dengan batu padas hitam. Batu tadi didatangkan dari daerah Maros. Lalu kemudian ada perubahan lagi pada tanggal 23 Juni 1635. Pada tahun inilah dibangun lagi dinding tembok kedua yang berada di dekat pintu gerbang.

Namun pada akhirnya benteng tersebut sempat mengalami kehancuran ketika belanda menyerang. Pada masa Kesultanan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hassanudin, benteng ini diserang berkali-kali. Antara tahun 1655-1669 belanda menyerang benteng ini dengan tujuan agar bisa menguasai jalur perdagangan rempah-rempah di Makassar dan bisa membuka jalur perdagangan ke Banda juga Maluku.

Gubernur Jendral Admiral Cornelis Janszoon Speelman lah yang memimpin armada perang Belanda pada waktu itu. Kurang lebih selama satu tahun secara terus menerus Kesultanan Gowa diserang. Inilah yang menyebabkan Benteng Fort Rotterdam sempat hancur dan pada akhirnya Kesultanan Gowa kalah.

Karena kekalahan itu juga Sultan Gowa yang berkuasa dipaksa untuk menandatangani perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667. Meski sebagian hancur, namun karena lokasinya yang strategis, benteng pun dibangun kembali oleh Gubernur Jendral Speelman. Namun benteng tersebut dibangun dengan gaya arsitektur Belanda hingga berbentuk seperti yang sekarang ini.

Bentuk benteng yang sebelumnya berbentuk segi empat dengan empat bastion, diubah dan ditambahkan satu bastion lagi di sisi barat. Selain itu nama benteng juga diubah menjadi Benteng Fort Rotterdam, yang merupakan nama tempat kelahiran Speelman. Ternyata nama itu sampai sekarang malah banyak dikenal orang ya. Pada masa kolonial, benteng ini juga menjadi pusat pemerintahan Belanda di area timur Indonesia.

Ada Apa Saja Di Dalam Benteng Fort Rotterdam?

Mulai dari Museum La Galigo, hingga tempat dimana Pangeran Diponegoro pernah ditahan ada di Benteng Fort Rotterdam. Sebelum memasuki benteng, saya diharuskan mengisi buku tamu dan tujuan kunjungan kesini mau apa. Baru setelah mengisi buku tadi, saya bisa melihat bangunan bersejarah di Makassar yang masih kokoh hingga saat ini.

Didalam Benteng Fort Rotterdam terdapat beberapa bangunan yang digunakan sebagai museum cagar Budaya. Tentu saja bangunan tadi masuk dalam pengawasan kantor Badan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan. Termasuk lima bastion Benteng Fort Rotterdam yang menjadi ciri khas bangunan ini.

Kelima bastion tersebut adalah Bastion Bacan berada di sudut barat daya. Bastion Bone ada di sebelah barat, tepatnya di bagian tengah benteng. Lalu Bastion Buton di sudut barat laut, Bastion Amboina terletak di sudut tenggara, dan Bastion Mandarasyah terletak di sudut timur laut.

Tiap bastion di Benteng Fort Rotterdam dihubungkan dengan dinding benteng kecuali bagian selatan yang tidak mempunyai dinding. Iya, diantara Bastion Bacan dan Bastion Amboina tidak terhubung oleh dinding. Perlu diketahuki, Benteng Rotterdam ini memiliki luas 2,5 hektar dan di dalamnya terdapat 16 buah bangunan dengan total luas 11.605,85 meter persegi. Jadi seharian penuh menjelajah tempat ini tentu tidak akan membosankan.

Di dalam area Benteng Fort Rotterdam ini ada satu bangunan yang sangat bersejarah. Sebuah bangunan kecil yang menjadi saksi bisau pahlawan nasional Pangeran Diponegoro yang pernah ditahan saat masa penjajahan Belanda. Ruangan sempit tempat menahan Diponegoro itu berada tepat di samping Museum La Galigo.

Sebagaimana sejarahnya, Pangeran Diponegoro ditangkap setelah berperang dengan Belanda selama lima tahun. Yaitu antara 1825-1830. Perang kemudian berakhir, karena Pangeran Diponegoro dijebak oleh Belanda pada sebuah perundingan damai. Dia kemudian ditangkap lalu kemudian dibuang ke Manado. Baru pada tahun 1834, Pangeran Diponegoro dipindah ke Benteng Fort Rotterdam ini.

Di dalam ruang tahanan Pangeran Diponegoro yang berdinding melengkung dan kokoh itu terdapat beberapa benda penting. SepertiAl-Quran, peralatan sholat, dan tempat tidur yang digunakan Pangeran Diponegoro saat berada di dalam tahanan. Namun, sayang wisatawan dilarang untuk masuk ke dalam ruang tahanan itu. Pengunjung hanya diijinkan mengintip dari jendela kaca, dari depan bangunan.

Museum La Galigo, Museum Tertua Di Sulawesi Selatan Ada Di Benteng Fort Rotterdam

Seperti yang sudah saya sebutkan, Benteng Fort Rotterdam ini adalah primadona wisata di Makassar. Bangunan bersejarah ini bahkan disebut-sebut sebagai gedung dan benteng peninggalan Belanda paling megah juga palinng terawat di Asia. Siapa sangka, kalau pada salah satu ruang sempit di Fort Rotterdam itu Pangeran Diponegoro pernah ditahan.

Liburan ke Fort Rotterdam jangan lupa mampir ke Museum La Galigo yang berada dalam kompleks benteng ya. Museum La Galigo Ini adalah museum tertua di Sulawesi Selatan yang berisi lima ribu koleksi. Ada banyak tersimpan sejarah Makassar di Museum La Galigo. Mulai dari miniatur perahu pinisi, alat bercocok tanam tradisional, hingga kain tenun yang bagus. Ada juga koleksi kalender cocok tanam, alat musik, hingga alat transportasi lawas juga bisa ditemukan disini.

Selain itu di Museum La Galigo ini saya bisa menikmati berbagai peninggalan berbagai kerajaan yang pernah berkuasa di Sulawesi Selatan. Misalnya Kerajaan Bone, Luwu, Gowam Sawitto, dan Wajo. Pernah tahu mengenai kerajaan ini belum? Kalau belum main saja ke museum ini deh.

Museum ini pernah sempat nonaktif atau terhenti pada masa kependudukan Jepang di Indonesia. Namun kemudian museum itu kemudian dirintis lagi oleh para budayawan, setelah pembubaran Negara Indonesia Timur (NIT). Hingga akhirnya, dari awalnya bernama Celebes Museum resmi diubah namanya menjadi Museum La Galigo dengan ribuan koleksi menariknya.

Perlu diketahui kalau Museum La Galigo ini diresmikan pada 1 Mei 1970. Pun, sebenarnya cikal bakal museum ini dimulai jauh dari sebelum dinamakan menjadi Museum La Galigo. Sejarah Museum La Galigo sendiri dimulai pada tahun 1938, yang dikenal dengan nama Celebes Museum. Celebes Museum yang kemudian nanti berubah menjadi dikenal dengna nama Museum La Galigo dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda. Celebes Museum ini juga merupakan museum pertama yang pernah berdiri di Sulawesi Selatan.

Yang jelas, ini adalah museum di Makassar yang wajib dikunjungi ketika liburan. Lokasinya pun strategis berada tak jauh dari pusat kota Makassar. Perlu diketahui Museum La Galigo ini buka setiap hari sejak jam 08.00 pagi hingga jam 15.00 sore WITA. Tiket masuk Museum La Galigo ini tidak mahal. Setiap pengunjung harus membayar IDR 10.000 untuk masuk ke dalam Museum La Galigo.

Cara Pergi Ke Benteng Fort Rotterdam

Ada banyak cara untuk pergi ke Fort Rotterdam. Namun secara umum, untuk akses ke lokasi Benteng Fort Rotterdam cukup mudah, karena lokasinya berada di pusat Kota Makassar. Ada banyak transportasi umum yang melewatinya kok. Bisa naik taksi, atau pete – pete (angkot di Makassar). Saya sendiri kemarin mencarter pete – pete dari m-tos (Makassar Townsquare) hingga ke benteng dengan harga Rp. 35.000.

Salah satu bangunan di dalam Benteng Fort Rotterdam
Salah satu bangunan di dalam Benteng Fort Rotterdam

Awalnya mau ngeteng saja, tetapi karena saya tidak tahu jalan ke Fort Rotterdam-nya ya sudah, carter saja lebih gampang. Sebenarnya cukup dekat dan gampang mencapai benteng ini, cuma karena ada tujuan selanjutnya saya tidak mau berlama – lama menghabiskan waktu hanya mencari jalan menuju benteng :D

(Baca Juga : Makassar, Kota Metropolitan Dengan Sejuta Wisata Alam Dan Kulinernya)

Fakta Unik Tentang Benteng Fort Rotterdam

Di dalam benteng Fort Rotterdam itu ternyata luas sekali ya
Di dalam benteng Fort Rotterdam itu ternyata luas sekali ya

Pada benteng yang bersejarah ini terdapat beberapa fakta unik dan informasi yang perlu diketahui pengunjungnya sebagai berikut:

  • Meski dinding benteng ini kokoh menjulang, dengan total setinggi 5 meter, juga ketebaan dinding sekitar 2 meter, namun pintu utama berukuran cukup kecil.
  • Bentuk benteng mirip dengan hewan penyu jika dilihat dari udara. Karena lokasinya di dekat laut, jadinya penyu tadi seolah-olah akan berenang ke laut.
  • Untuk mengamankan benteng, belanda membuat 5 Bastion atau bangunan yang lebih tinggi posisinya juga lebih kokoh. Disini dulu ditempatkan meriam untuk menjaga benteng dari 5 penjuru.
  • Di Fort Rotterdam ada salah satu ruangan tahanan yang sempat digunakan untuk mengasingkan Pangeran Diponegoro. Jadi jangan sampai nggak mampir kesini.
  • Di Fort Rotterdam ini juga terdapat sebuah museum bernama La Galigo dengan ribuan koleksi benda sejarah. Jadi untuk yang ingin menikmati wisata sejarah di Makassar, benteng ini adalah tempat yang pas untuk dikunjungi.

Tips Wisata Ke Benteng Fort Rotterdam

  • Selalu cek informasi di internet agar mengetahui apakah sedang dilakukan renovasi atau tidak.
  • Untuk masuk ke Benteng Fort Rotterdam sebenarnya gratis, tapi petugas akan meminta sumbangan seikhlasnya, dan kemudian menandatangani guestbook. Saya sendiri menyumbang 15 ribu waktu itu.
  • Siapkan fisik, karena pasti cukup capek berkeliling di dalam benteng, apalagi saya masuk ke benteng masih full gear dengan tas backpack berat di punggung.

Rincian Biaya Ke Benteng Fort Rotterdam

  • Naik damri dari bandara Sultan Hassanudin Makassar 15 ribu.
  • Naik pete – pete dari Makassar town square sampai fort rotterdam 35 ribu, kalau anda jago menawar bisa turun lagi, karena ternyata lokasi cukup deka. Mengingat tarif normal pete – pete adalah Rp. 3000.
  • Sumbangan seikhlasnya, terserah anda, tetapi saya kemarin menyumbang Rp. 15.000.
  • Bayar IDR 10.000 untuk masuk ke dalam Museum La Galigo.

(Baca Juga : Terios 7 Wonders : Diary Day 10, Sejenak Di Tanjung Bira)

Lokasi Benteng Fort Rotterdam :


Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di catperku@gmail.com. Cepetan Ga pake lama ya!
2 Responses
  1. Fahmi, ada yg lebih murah lho, dari bandara Hasanuddin, nebeng bus bandara ke pintu gerbang (gratis), trus naik pete2 turun ke Central (3rb), dari situ naik pete2 arah paotere (3rb) turun depan Fort Rotterdam. Aku sempet mandi lho di situ hahahaha :D

    1. byteeater

      lhaa, kemaren itu buru – buru ketemu temen siih =,= jadinya cara instant. kalo ga ada yang nungguin, jalan kaki kali ya :P

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: