[7 Wonders] Andalas : It Is About Mobil Tangguh And The Coffee Paradise!

Hai mas catperku, Tau enggak kalau Terios Pernah Melakukan Expedisi Perjalanan Darat Di Sumatera?

Eh Yang bener? *mulai penasaran*

Iya bener! Apalagi sambil cobain Kopi Sumatera nan sedap itu!

APAAAAA! Sebagai programmer penyuka kopi, saya merasa GAGAL melewatkan expedisi ini. *hiks*

Baiklah, masih ada cara agar saya bisa mengikuti Expedisi Terios 7 Wonders : Sumatera Coffee Paradise. Saya mau meminjam mesin waktu punya doraemon agar bisa menembus waktu ke masa lalu.

Doraemooooon! Saya pinjam mesin waktunyaaa! Sebentar saja deh!

Pliss!

Tetot tetooot clik~ Wuzzzzz!

………….

Jakarta, 10 Oktober 2012

Keringat mulai bercucuran, ketika saya menanti pelepasan Ekspedisi Terios 7 Wonders : Sumatera Coffee Paradise. Terik matahari Jakarta tidak saya pedulikan lagi, apalagi setelah usaha keras saya meminjam mesin waktu Doraemon demi ingin mengikuti ekspedisi menjelajah Sumatera ini. Iya, ini bukan ekspedisi biasa. Tetapi menjelahah alam andalas salah satu surga kopi Indonesia, sekaligus menjajal 7 kopi istimewa Sumatera. Selama perjalanan saya akan ditemani mobil tangguh Daihatsu Terios TX-AT (2 unit) dan Terios MT (1 unit).

Total jarak yang akan saya tempuh sekitar 3.300 Km, terhitung dari Lampung hingga nol kilometer Indonesia yang berada di ujung barat Indonesia, Kota Sabang. Tidak cuma itu saja, saya bakal menjajal setidaknya 7 kopi khas sumatera, di 7 titik cek point.  Tujuh kopi tersebut adalah sebagai Berikut.

  1. Kopi Liwa (Liwa, Danau Ranau)
  2. Kopi Lahat (Lahat)
  3. Kopi Pagar Alam (Pagar Alam)
  4. Kopi Empat Lawang (KOta Empat Lawang)
  5. Kopi Curup (Bengkulu)
  6. Kopi Mandailing (Mandailing Natal, Sumatera Utara)
  7. Kopu Takengong/Kopi Gayo (Takenggong, Aceh)

Sebagai pecinta kopi akut, Saya sangat tidak sabar ingin mencoba ketujuh kopi sumatera tersebut. Bahkan sepertinya aroma kopi sudah mulai tercium dari titik pemberangkatan ini. Jarak tempuh hari pertama sehjauh 567 km dari Jakarta menuju Liwa, tidak akan terasa. Tentunya demi menikmati sejumput kopi liwa yang terkenal itu.

Mari menjemput Kopi Liwa dari ibu kota :))
Mari menjemput Kopi Liwa dari ibu kota :))

Liwa, Danau Ranau

Liwa mengingatkan saya kepada Kopi Luwak yang sangat terkenal itu. Ada banyak orang yang rela merogoh kocek demi menikmati keharuman kopi yang unik ini. Bukan cuma itu saja, Liwa juga mempunyai jenis kopi lain yang tidak kalah sedap. Bayangkan kopi beraroma gingseng dan pinang? Hemm, seteguk saja pasti akan bisa membuat saya bahagia. Iya, saya percaya kopi adalah salah satu sumber kebahagiaan.

Di Liwa, salah satu kebahagiaan itu adalah bisa menikmati kopi khasnya di tepi Danau Ranau. Secangkir kopi liwa, ditambah segarnya udara pagi Ranau tentu akan menambah semangat. Setelah menempuh jarak sekitar 500 Km dari Jakarta, ribuan kilometer lagi pun saya pasti siap!

Danau Ranau pagi hari yang menyejukkan. Suasana yang pas untuk menikmati seteguk Kopi Liwa.
Danau Ranau pagi hari yang menyejukkan. Suasana yang pas untuk menikmati seteguk Kopi Liwa.

Selain menikmatinya, tentu saya juga penasaran dengan proses pembuatannya dong! Misalnya, Kopi beraroma gingseng dan pinang tadi akan di sangrai selama 1 – 2 jam dalam suhu 190 derajat celcius. Waktu pemrosesan  ini akan mempengaruhi warna kopi. Makin lama disangrai serbuk kopi makin berwarna kehitaman. Setelahnya, biji kopi diangin sembari menghilangkan lapisan kulit arinya. Proses terakhir sendiri adalah penggilingan, yang menghasilkan serbuk kopi siap saji.

Lain lagi dengan Kopi Luwak, kopi ini dibuat dengan bantuan binatang bernama Musang. Jenisnya sih Musang Bulan dan Musang Pandan. Proses pembuatannya pun lebih ribet, karena perlu penyortiran biji kopi berkualitas untuk diberikan kepada si Musang. Iya, proses paling penting dalam pembuatan Kopi Luwak adalah ketika biji kopi dimakan sang Musang, untuk kemudian terfermentasi dan keluar lewat kotoran si Musang.

Percaya atau tidak, Kopi Luwak yang harga per kilonya bisa mencapai ratusan ribu itu berasal dari “eek” Musang! Euuh, tapi kenapa malah enak ya kopi yang satu ini? Hemm!

Lahat, Kopi Adalah Simbol Persahabatan

Kopi pun bisa melambangkan persahabatan :)
Kopi pun bisa melambangkan persahabatan :)

Seperti SUV Daihatsu Terios yang merupakan sahabat petualang, begitu juga dengan kopi khas Lahat. Bukan cuma sahabat, tetapi di Lahat kopi dijadikan sebagai simbol pertemanan. Yang saya tahu, daerah Lahat ini memang sedikit rawan, ada juga yang bilang kalau sedang melewati daerah ini  harus berhati – hati dengan bajing loncat.

Namun, semua seakan tidak terpikirkan lagi begitu menikmati kopi Lahat dengan aroma persahabatan. Dengan usia kurang lebih 130 tahun yang merupakan kota tertua di Sumatera, Lahat seakan mengukuhkan eksistensi diri sebagai kota yang ramah kopi persahabatannya. Harapaan saya, semoga dengan kopi khasnya, semua bisa terwujud. Lahat tidak akan dikenal dengan daerah yang rawan lagi, tetapi dengan kopi persahabatan.

Pagar Alam, Sinkronisasi Kopi Dan Alam

Pagar Alam, Sinkronisasi Kopi, Alam dan Petualangan Terios!
Pagar Alam, Sinkronisasi Kopi, Alam dan Petualangan Terios!

Pagaraalam berada di ketinggian sekitar 1.000 mdpl diatas permukaan laut membuat udaranya begitu sejuk. Di sepanjang jalan pun juga terlihat perkebunan teh, kopi juga kadang persawahan yang luas. Keberadaannya di ketinggian pula yang membuat Terios berjibaku menuju ketinggian. Shifter matik Terios pun berpindah-pindah, agar akselerasi senantiasa terjaga. Dengan ketangguhannya, tantangan menuju pagar alam diatasi dengan mudah oleh si mobil tanggu Terios ini.

Seperti di beberapa tempat lainnya, tidak lupa berburu kopi khas pagar alam. Pagaralam juga termasuk daerah penghasil kopi di Sumatera, karena itu menemukan kebun kopi disini juga gampang. Tinggal menikmati seteguk kopi saja, sebagai penghangat di dinginnya cuaca dataran tinggi.

Jalur Sempit dan Berkelok Kelok Dilalui Demi Kopi Khas Kabupaten Empat Lawang

Dikatakan kalau Kopi adalah komoditas andalan Kabupaten Empat Lawang. Agak berbeda dengan beberapa tempat yang sudah dilalui sebelumnya, kopi yang ada di Empat Lawang ini spesial.

Menyatu dengan alam di  Kabupaten Empat Lawang.
Menyatu dengan alam di Kabupaten Empat Lawang.

“Kopi di Empat Lawang ini berbeda lo. Ini merupakan hasil percampuran Arabica dan Robusta. Wujud aslinya Robusta tapi aromanya Arabica,” Kata Pak Anang Zairi yang juga pemilik salah satu pengolahan kopi.

Wah, baru kali ini saya mengetahui kalau kopi pun ada yang merupakan hasil percampuran. Pantas saja kalau ternyata kopi adalah komoditas utama disini. Mereka bisa menyajikan suatu produk kopi unggulan yang unik. Setelah ini, sepertinya saya makin ketagihan dengan komoditas utama kabupaten yang menggunakan biji kopi sebagai maskotnya ini.

Keunikan Kopi Curup Dari Kota Raflesia

Kota Raflesia Bengkulu tak cuma kopi, tapi juga menjejak sejarah.
Kota Raflesia Bengkulu tak cuma kopi, tapi juga menjejak sejarah.

Curup adalah salah satu sentra penghasil kopi di Kota Raflesia, Bengkulu. Meskipun kopi bukan andalan di sini, namun Kopi Curup ini layak untuk dicoba karena memiliki keunikan tersendiri. Selain rasanya khas, ampas kopinya pun bisa diseduh kembali loh. Jadi sekali bikin kopi nikmatnya bisa berkali kali, karena setelah habis bisa diseduh air panas lagi. Jadi hemat dan ekonomis kan? Mungkin itu salah satu alasannya kenapa banya warga setempat yang lebih suka dengan Kopi Curup ini.

Perjuangan Menuju Desa Kopi Yang Hilang Di Madailing Natal

Menikmati seteguk kopi dari desa kopi yang hilang di Madailing Natal.
Menikmati seteguk kopi dari desa kopi yang hilang di Madailing Natal.

Karena gempa bumi, perjalanan menuju Madailing Natal, Bukittinggi menjadi perjalanan penuh perjuangan dan tantangan. Berapa jalan sedikit rusak dan longsor, si sahabat petualang Terios harus dikemudikan dengan lebih hati – hati agar selamat sampai tujuan.

Di Mandailing Natal, saya mengunjungi Desa Sambang Banyak Jae Ulu Pungud yang merupakan salah satu desa bersejarah. Desa ini adalah salah satu desa dimana kopi Arabika pertamakali ditanam. Wah! Makin penasaran saja ingin mencoba kopi yang ditanam di desa ini! Disini akan ada dua jenis kopi yang bisa dicoba, yaitu kopi jenis Arabica dan Robusta. Hemm, gak sabar!

Terlebih lagi julukan desa yang hilang seakan membuat kemisteriusannya semakin menarik. Padahal sejatinya desa ini tidak benar benar hilang. Hanya karena berada di lembah yang diapit dua bukit, Desa Ulu Pungud ini seperti desa yang hilang.

Kopi Takengon, Etape Terakhir, Dan Budaya Ngopi Di Aceh!

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah etape terakhir di Expedisi Terios 7 Wonders : Sumatera Coffee Paradise ini. Pun di provinsi yang berada di ujung barat Indonesia ini terdapat kopi yang wajib di coba. Kehangatan Kopi Takengon atau Kopi ayo ini sangat nikmat untuk menemani keseharian di Aceh.

Kopi Gayo yang wajib di coba kenikmatannya :)
Kopi Gayo yang wajib di coba kenikmatannya :)

Kopi Takengon ini sudah mendunia, karena tidak cuma dinikmati masyarakat setempat saja. Sudah banyak produksi kopi Takengon yang legendaris merambah ke dunia luar seperti ke Eropa atau Amerika. Atau jangan – jangan kopi yang biasa kita minum di kedai kopi yang ada di mall itu berasal dari Takengon ya?

Entahlah, karena tanah yang subur didukung curah hujan yang cukup plus ketinggian 1.300 mdpl membuat daerah di Takengon adalah tempat yang sempurna untuk membudidayakan kopi. Jangan lupa juga untuk nongkrong di warung kopi setempat ketika disini, karena ngopi disini akan sedikit berbeda dengan di daerah lain.

Gak percaya? Coba saja!

Ekspedisi Berakhir Di Titik Nol Kilometer Indonesia, Sabang

Setiap perjalanan pasti akan berakhir, begitu juga dengan Expedisi Terios 7 Wonders : Sumatera Coffee Paradise ini. Tugu “Nol” kilometer adalah saksi dari akhir perjalanan panjang 3.657 kilometer selama 15 hari. Pun ekspedisi menjelajah indonesia tidak akan berakhir disini, titik dimana pengukuran luas Indonesia dimulai :)

Sekarang, saya harus kembali ke masa depan, untuk mengikuti Ekspedisi 7-Wonders Amazing Celebes Heritage bersama si Terios, Mobil tangguh Sahabat Petualang ini.

Tetot tetooot ngook… ngiikk clik~ Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzz!

……………..

Tulisan ini terinspirasi dari perjalanan 7-Wonders Sumatra Coffee Paradise, juga Diikutsertakan dalam memenangkan lomba blog 7-Wonders Amazing Celebes Heritage. Semua foto yang ada ditulisan ini adalah milik Daihatsu Indonesia.

Bukti follow @vival_log
Bukti follow @viva_log
Bukti follow @daihatsuind
Bukti follow @daihatsuind
Bukti like fanspage Daihatsu Indonesia
Bukti like fanspage Daihatsu Indonesia
Bukti tweet
Bukti tweet

 

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di catperku@gmail.com. Cepetan Ga pake lama ya!
17 Responses
    1. Rijal Fahmi

      mau dooong, mau kopi gayonya :D beneran, seriuus xixixi kerjaan yang sekarang sangat mendukung untuk menjadi seorang pecandu kopi nih XD

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: