Hiking Seru Ke Gunung Batur, Kintamani

Entah kenapa setiap perjalanan saya yang seru dan menyenangkan adalah perjalanan dengan rencana yang tidak terduga dan mendadak seperti perjalanan weekend kemarin 26 november 2011. Enggak ada petir, enggak ada awan, dan hujan, yang ada cuman ceplosan ide gila dari mulut.

Ke Kintamani yuk, hiking ke Gunung Batur?” Ceplos saya kepada kedua teman yang sedang asik maen games.

Dan, mereka balik bertanya.

Kapan? Sekarang!?” Sahut mereka.

Iya lah, kapan lagi!?” Kata saya dengan tegas.

Beristirahat sejenak sebelum mendekati Puncak Gunung Batur
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Beristirahat sejenak sebelum mendekati Puncak Gunung Batur

Dan Hiking Seru Di Gunung Batur Dimulai!!

Sempat terjadi perdebatan kecil tentang siapa saja yang bakal ikut, karena waktu itu kita hanya bertiga, dan rasanya kurang nyaman kalo cuman tiga orang saja yang berangkat. Akhirnya saya coba kirim sms ke beberapa kandidat yang kemungkinan besar mau ikut. 4 sms saya kirim, dan yay! Dapat satu personel lagi untuk menjalankan ide gila ini. Hiking ke Gunung Batur, tanpa rencana, tanpa persiapan, tanpa tahu jalur hiking!! Sedikit nekat, tapi seru bukan!? Atau tepatnya… boleh dibilang, GILA!! Hehehe…

Sekilas informasi tentang Gunung Batur, adalah merupakan gunung berapi aktif yang ada di Pulau Bali, dan telah berkali kali meletus. Terakhir kali meletus adalah pada tahun 2004, letusan terhebat terjadi pada tahun 1926 yang sempat menimbun desa batur dan pura ulun danu dengan lava pijarnya. (sumber wikipedia).

Lava Hasil Letusan Gunung Batur terlihat dari atas
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Lava Hasil Letusan Gunung Batur terlihat dari atas

(Baca Juga : Ubud Untuk Bersepeda)

Disamping sejarah letusan yang cukup mengerikan, Gunung Batur menyimpan sejuta pesona keindahan. Tidak hanya wisata hiking untuk penikmat adventure seperti saya, tetapi juga  air panas alami Toya Bungkah yang bisa saya nikmati sambil melihat pemandangan Danau Batur setelah kecapekan mendaki.

Setelah persiapan selesai, 4 orang pendaki dadakan berangkat dari kuta jam 11.30 malam, dengan perlengkapan daypack, dua botol aqua 1,5 liter di samping kiri dan kanan daypack. Saya perkirakan cukup untuk bekal mendaki nantinya. Perjalanan ke Kintamani memakan waktu kurang lebih 2 jam, dengan 2 kuda besi dan 4 orang pendaki dadakan yang penuh semangat menembus kegelapan malam menuju daerah Batur, Kintamani. Sepanjang perjalanan terasa sepi, karena memang waktu sudah sangat larut, hanya sesekali kami berpapasan kendaraan bermotor dari arah yang berlawanan.

(Baca Juga : Uluwatu Dan Monyetnya Yang Tidak Lugu)

Udara selama perjalanan cukup dingin dan sedikit berkabut ketika semakin mendekati Kintamani. Sekitar jam 01.30 am WITA, kami sampai di daerah di Kintamani, dan beristirahat di titik Panelokan. Panelokan merupakan titik dimana kita bisa menikmati view Gunung Batur, dan Danau Batur secara bersamaan ketika siang hari.

Memanfaatkan istirahat sejenak, saya menyalakan laptop untuk membuka Google, dan mencari dimana lokasi awal dimulainya pendakian ke Gunung Batur berada. Yah sebuah ide instant, persiapan pendakian pun hanya seadanya. Prinsip saya sih “tanya om google dan anda akan baik – baik saja“. Percaya atau tidak selama ini saya hanya pakai Google sebagai persiapan jalan – jalan ataupun mencari info selama perjalanan, plus sedikit bertanya kesana dan kemari di perjalanan.

Titik Panelokan Kitamani pada siang hari dengan latar belakang Gunung Batur
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Titik Panelokan Kitamani pada siang hari dengan latar belakang Gunung Batur

Setelah saya mencari informasi tentang Gunung Batur selama beberapa saat, saya menemukan beberapa artikel blog dan beberapa peta yang saya yakini sebagai lokasi start pendakian Gunung Batur, Pura Jati Toya Bungkah. Setelah itu kami pun langsung melanjutkan perjalanan berbekal informasi tersebut.

Menembus kegelapan malam Kintamani, dengan kuda besi, kami melanjutkan ke lokasi pendakian Gunung Batur. Terlihat mudah dan jelas di Google Map karena blog yang memberi informasi lokasi start pendakian. Namun ternyata kami masih kesasar juga, bahkan setelah bertemu dengan petugas pos pendakian, saat mencari tempat untuk parkir kuda besi kami. Hampir saja tersesat di kegelapan karena kami mengambil start point yang salah, ditambah lagi senter yang kami bawa ternyata redup sekali nyalanya.

Si senter yang saya bawa ini bagaikan hidup segan, mati pun tak mau hehehe! Karena itu otomatis penerangan yang tersisa hanya beberapa handphone yang lowbat, dan satu handphone yang difungsikan sebagai GPS!!, SERU BUKAN!! :D. Sadar mengambil rute yang salah, kami memutuskan untuk putar balik menuju tempat parkir kuda besi, dan mencari informasi lebih lanjut ke pos pendakian yang saya lihat waktu dijalan ber-aspal tadi.

(Baca Juga : Padang – Padang, The Hidden One, The Popular One)

Pos pendakian yang asli ternyata berada di dekat Pura Jati Toya Bungkah. Setelah itu baru sadar, kalau ternyata kami tadi benar – benar tersesat. Untung saja tidak diteruskan :D. Untuk mendaki ke Gunung Batur ditarik retribusi pendakian sebesar Rp.10.000 per orang.

Jadi untuk 4 orang totalnya Rp. 40.000,. Selain itu kami juga ditawari guide untuk menemani pendakian dengan harga 50 ribu per/orang. Untuk 4 orang totalnya Rp 200.000,. Sebenarnya cukup murah, tapi dasar rencana dadakan, uang cash pun cuma bawa sedikit,  jadi terpaksa pede bilang sudah tahu jalurnya meskipun sebenernya gak tahu. Gampang lah, kita lihat saja perjalanan SERU ini terbawa nasib :D.

Perjalanan buta arah kedua pun dilanjutkan,waktu menunjukkan jam 03.00  namun kali ini kami tidak sesial tadi yang sempat tersesat, kami bertemu penduduk lokal baik hati yang rumahnya berada di lereng Gunung Batur. Kami pun diberitahu jalur untuk mendaki ke puncak, bahkan sedikit ngobrol dengan mereka ketika perjalanan kami masih sejalur. Mereka ternyata bekerja sebagai pencari batu di area Gunung Batur ini.

Sampai pada jalur menuju puncak Gunung Batur, kami berpisah dengan mereka dan melanjutkan perjalanan kami yang tanpa arah lagi :D. Kali ini lagi – lagi keberuntungan berpihak pada kami, dari kejauhan terlihat rombongan yang akan mendaki ke puncak Gunung Batur. Sehingga kami pun mengikuti  mereka dari belakang, lumayankan? Guide gratissss! Hehehe :D.

Permasalahan arah dan jalur sudah tidak terlalu berarti, yang ada sekarang hanya penerangan yang seadanya (hp, senter lowbat), plus jalur mendaki yang penuh bebatuan. Otomatis kami perlu ekstra hati – hati, apalagi salah satu teman saya hanya mengenakan sendal jepit joger. GILA!  dia memang gila, bahkan lebih gila dari saya.

Beberapa kali grup kami di lewat oleh grup bule yang juga mendaki ke puncak Gunung Batur. Saking seringnya dilewati saya hanya bergumam “dasar bule makan apa mereka? Kok bisa cepet gitu”. Mungkin juga karena faktor tersesat tadi cukup menguras tenaga kami, jadinya kami berjalan agak lamban.

Bebera saat mendaki, tanpa sadar ternyata langit sudah mulai cerah, yang berarti sunrise pun semakin dekat. Saya memepercepat pace pendakian agar bisa sampai puncak sebelum sunrise, dan hasilnya kaki saya kram kanan dan kiri. Namun akhirnya tetap sampai puncak tepat pada waktu sunrise. Rasa capek pun hilang seketika terbayar dengan indahnya pemandangan dari puncak Gunung Batur.

Satu yang unik di puncak Gunung Batur ini, yaitu ada warung yang menjual makanan berupa mie rebus, nasi dan telor. Meski harganya yang kurang manusiawi menurut saya. Harga mie rebus per porsi Rp. 15.000, kalau beli di supermarket bisa dapat sepuluh biji itu! Tetapi bagaimana lagi, setelah berjalan kaki beberapa jam, cacing di perut pun memberontak, mau tidak mau harus mengisi perut, dan saya memesan satu porsi mie + nasi total harganya Rp. 20.000. Sudahlah yang penting kenyang saja :D

Puas berfoto dan menikmati pemandangan dari puncak kami pun turun, dan baru terlihat kalau jalur pendakian kami tadi cukup seram. Terdapat banyak batu yang bisa longsor kapan saja. Tetapi tetap saja kami turun dengan santai karena ternyata perjalanan turun tidak sesulit jalur mendaki. Waktu turun malah terasa lebih cepat, atau sebenarnya memang ingin turun lebih cepat dan segera merasakan nyamannya berendam di air panas Toya Bungkah. Namun sebelum itu tidak lupa berfoto di starting poin pendakian, dimana Gunung Batur terlihat gagah dari kejauhan.

(Baca Juga : Merekah Toya Bungkah, Bersantai Di Mata Air Panas Alami Bali)

Post Pendakian, Starting Point Pendakian Ke Gunung Batur
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Post Pendakian, Starting Point Pendakian Ke Gunung Batur

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

Yang Banyak Dicari

Komentar Pembaca Adalah Bahan Bakar Semangat Saya Untuk Terus Menulis!

comments

Fahmi (catperku.com)

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di [email protected] Cepetan Ga pake lama ya!

You may also like...

40 Responses

  1. ismail says:

    nice inpo gan.
    ijin nyimak.

  2. byteeater says:

    silahkan gan, senang bisa berbagi :D

  3. krisna says:

    Wah bermanfaat bgt nih, kebetulan saya berencana trekking ke gunung batur. Asik banget tuh pergi modal nekat tanpa tau jalan, seru bgt pastinya kalo ide gila dadakan gitu.

  4. choki says:

    Gan minta infonya dong, kalo hiking ke gunung batur siang2 dingin ga? tetep perlu pake jaket ga? kalo ane pake sendal bahaya ga ya kalo hiking gitu? tolong dijawab ya gan, ane butuh bgt infonya, thanks…

  5. henry says:

    gan mohon info di daerah gunung batur dari pos toyah bungka ke desa kintamani atau desa batur utara atau desa batur selatan bisa kagag??

  6. noni says:

    Gan, nanya, itu khan bawa kuda besi, parkirnya dimana? pas ditinggal naik. Apakah point naik ma turun sama? so qta bisa ninggalin kuda besi kita dengan aman gt?

    • byteeater says:

      ada parkiran motor sama mobil disana, tinggal aja ga apa. di bali aman kok :) bisa naik dan turun dari jalur yang sama :)

  7. Geminiky says:

    Hello byteeater. rencana sabtu dini hari aku mau trekking ke sana. Kira2 maksimum mereka “matok” harga buat guide brapa ya? soalnya kalo dari ubud atoh denpasar kok mahal2 matoknya. Thank you

    • Rijal Fahmi Mohamadi says:

      on the spot, di tempat start hiking, saya pernah ditodong 50 ribu per orang :D, tapi bisa dinego sampe 40 ribu. tapi tetep saya enggak make guide, soalnya tau jalan :) coba aja langsung ke sana, paling belom banyak berubah sih.

  8. wahhh Gunung Batur deket yach…..yaaaa seru juga walau acara hikingnya dadakan hehe….Gunung batur ini satu komplek kah dengan Gunung Agung,.atau

    • Rijal Fahmi Mohamadi says:

      sebelahan sih gunungnya, cuma kalau mau naik jalurnya beda itu :D tapi ga tau yang ke Gunung Agung yang mana. Belom pernah euy -,-

  9. Vanessa says:

    hi there,

    aku bareng temen-temen juga rencana mau trekking nih. Tapi nyali kita ga seGILA kalian yah..wkwkwk.. kita mau pake guide. Cuman kita nyari yang bersahabat sama kantong nih.

    Dari harga yang kamu tulis tampaknya ok ok aja tapi itu dari tahun 2011 kan? Tau ga tahun ini berapa? Atau mungkin kontak yang bisa dihubungi?

    Thanx bro

    • Rijal Fahmi Mohamadi says:

      hahaa, iya better save than sorry :D kalau emang ragu – ragu mending pake guide aja :D. kemungkinan besar sekarang udah naik sih, tapi enggak bakal lebih dari 100 ribu seorang lah kayaknya. ntar sampe disana pasti ditanya – tanya, mau pake guide enggak? gitu, jadi gak usah ragu ga dapet guide. atau kalau enggak, coba cari paket tournya di kuta. gitu :)

  10. oim says:

    trimaksih inpoy mas brow….mudah2an gk ketularan tersesatnya besok hehehe

  11. oim says:

    trimaksih gan infoy…mudah2an besok brgkat gk tersesat dgn modal “gila” hahaha

  12. paxia says:

    hi! I’m going to bali this friday and I’m interested in trekking Mt. Batur. Unfortunately it’s all so expensive (mahallllll) on tourist websites (650,000/person) and I read that you did Rp 200,000 for 4! could you give the name and travel contact of the company?

    hope to hear back soon!

    • Rijal Fahmi Mohamadi says:

      Hi i am not using any travel services at that time. I’m going there with my friends and offered guiding services by some local I met there :)

  13. ziuma says:

    wah jadi ingat pengalaman mendaki gunung batur pas kelas 2 sma.
    memang asik mendaki di sana. di puncak sana ada guanya juga.

  14. stevan halim says:

    kalo naik ke gunung batur sendiri aman ga ya?

    • Rijal Fahmi says:

      Enggak disarankan naik gunung sendirian, tetapi beberapa orang yang memang sudah berpengalaman ada yang naik gunung batur sendiri :))

  15. daisy putriana santoso says:

    hai hai..
    mau tanya kira2 butuh waktu brp lama ya buat di kintamani?kan trekking dr jam 4,sunrise jam 6, trs ngpn lg ya? tau ga dari batur ke besakih brp lama ya?klo ada BBM pin mau tanya2 detail lg dong kak..
    thank you :)

  16. adam saputra says:

    gokil dan seru bro ceritanya ! hehehe
    mau tanya, di gunung batur ada area campingnya ga yah ? karena sya rencananya mau camping bermalam di sana. thanks.

  17. Fikri says:

    banyak banget emang keindahan alam di bali, trekking ke puncak gunung batur juga wajib dijajal sih!

  18. Sodiq says:

    Gunung batur ini yang belum ane sempet datengin bulan kemarin, nyesel sih katanya sunrise disana keren banget yaa?

  19. Ani says:

    Gunung Batur Bali sangat indah untuk di kunjungi, baru tau di bali ada gunung api yang masih aktif. keren. makasih infonya gan. Salam Wisata…

  20. ahahahahaha jadi inget pas ndaki pertama ke Lawu. terus pas jalan ke Curug Cikondang. wkwkwk.

  1. February 26, 2013

    […] dengan genre bikepacking. o iya, untuk jalur bikepacking terbaik yang pernah saya coba adalah Bali dan Lombok. Kedua pulau itu tidak terlalu ramai, dan kondisi jalan-nya lumayan bagus. Pemandangannya […]

  2. October 11, 2013

    […] contoh, hiking pertama saya ke Gunung Batur adalah hasil dari sebuah ide impulsif. Jadinya, hiking tersebut tanpa didahului dengan rencana yang […]

  3. December 26, 2013

    […] yang membuat saya berpikir, kalau ternyata ada pantai yang bisa membuat saya secapek seperti ketika hiking ke gunung. Salah satu alasannya adalah sulitnya akses menuju pantai. Pun begitu saya penasaran sama pantai […]

  4. January 29, 2014

    […] menjadi favorit para pecinta trekking seperti saya. Umumnya para pendaki yang kecapekan melakukan trekking naik turun Gunung Batur, berendam di mata air panas ini. Tujuannya sih, biar bisa mengembalikan tenaga yang tadinya habis […]

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

Pin It on Pinterest

%d bloggers like this: