Keliling Pusat Bandar Kota Kinabalu

“Fazel, could you just drop me at the city center? I want to explore the city by walking”

Saya bilang kepada Fazel, guide saya selama di Kota Kinabalu, sebelum beranjak dari Sutera Harbour. Sebelum ini, saya baru saja menghabiskan waktu lebih dari setengah hari untuk menikmati pulau eksotis, Pulau Sapi yang berada di lepas pantai Kota Kinabalu. Cukup sudah menghitamkan kulit saya yang sudah legam, sekarang saatnya saya menjelajah dan melihat ada apa saja di pusat Kota Kinabalu ini.

Rute Transportasi publik Kota Kinabalu cukup jelas, tetapi saya lebih suka keliling kota ini dengan berjalan kaki.
Rute Transportasi publik Kota Kinabalu cukup jelas, tetapi saya lebih suka keliling kota ini dengan berjalan kaki.

Kalau saya lihat di peta, Pusat Bandara Kota Kinabalu sendiri tidak terlalu besar, jadi saya pede untuk menjelajah sebagian dari pusat kotanya dengan berjalan kaki. Menurut saya, mengelilingi kota yang pertama kali kita datangi dengan berjalan kaki adalah cara yang menyenangkan daripada yang lain. Selain saya bisa menikmati kota dengan lebih sempurna, saya bisa berhenti atau blusukan ke tempat yang menurut saya menyenangkan.

Sekilas mengenai Kota Kinabalu, atau yang biasa juga disebut “KK”. Dulunya kota ini dikenal dengan nama, Jesselton di ambil dari nama gubernur dari Inggris yang pernah berkuasa disini yaitu Sir Charles Jessel. Pun, sekarang ini orang lebih banyak mengenal sebagai Kota Kinabalu. Seakan, nama Jesselton mulai dilupakan secara perlahan.

Fazel kemudian menurunkan saya di Centre Point Sabah, yang merupakan salah satu mall terbesar di Kota Kinabalu. Dia bilang, disini saya bisa berbelanja, dan memulai eksplorasi pusat Kota Kinabalu dengan mudah. Masalah, belanja mungkin akan saya lewati, tetapi melihat – lihat isi mall tentu tidak akan saya lewatkan. Centre Point Sabah adalah mall yang mirip dengan kebanyakan mall di Jakarta, yang digunakan sebagai tempat hangout para ABG setempat.

Meskipun terlihat sepi, tapi kadang kota ini bisa macet juga.
Meskipun terlihat sepi, tapi kadang kota ini bisa macet juga.

Karena di Jakarta hampir tiap akhir pekan saya keluar masuk mall, jadinya saya hanya mengintip saja. Tidak menjelajah lebih jauh lagi. Saya pun mulai berjalan kaki menyusuri jalan Tun Razak, sambil mengamati bangunan yang ada di sepanjang jalan itu. Kota ini relatif sepi pejalan kaki, pun jalanan sering dipenuhi oleh banyak kendaraan bermotor. Saya ingat apa yang dikatakan oleh Fazel sebelumnya, meski penduduknya tidak terlalu bayak, kemacetan memang kadang terjadi di Kota Kinabalu; Meski tidak separah Jakarta sih.

Yang membuat saya senang adalah, trotoar di pusat Kota Kinabalu sangat manusiawi, saya bisa berjalan kaki dengan tenang tanpa perlu taku tiba – tiba ada sepeda motor nyelonong dari arah belakang. Ditambah lagi banyak pepohonan yang seakan menetralisir udara panas Kota Kinabalu. Karena lokasinya berada di pesisir pantai, udara di kota ini membuat tubuh cepat berkeringat.

Trotoar di Kota Kinabalu asik untuk berjalan kaki keliling kota.
Trotoar di Kota Kinabalu asik untuk berjalan kaki keliling kota.
Ada beberapa pusat pertokoan di Pusat Bandar Kota Kinabalu.
Ada beberapa pusat pertokoan di Pusat Bandar Kota Kinabalu.

Sesekali saya berhenti, mengamati pertokoan yang ada di tepi jalan Tun Razak, dan kadang memencet shutter kamera saya untuk mengabadikannya. Meski bangunannya terlihat cukup tua, kata Fazel bangunan di Kota Kinabalu hampir sebagian besar adalah bangunan baru. Karena Kota ini telah dibumihanguskan oleh pihak Inggris ketika Perang Dunia Kedua untuk mencegah kejatuhannya ke tangan Jepang. Iya, Kota Kinabalu adalah salah satu tempat terjadinya pertempuran sengit dikala Perang Dunia Kedua.

Saya meneruskan perjalanan saya menjelajah pusat Kota Kinabalu, melewati Dewan Bandaraya Kota Kinabalu, hingga sampai Wisma Sabah. Lalu saya pun memutuskan untuk berbelok kekiri, karena mencium bau lautan di ujung jalan. Benar saja, ternyata di ujung jalan adalah waterfront Kota Kinabalu yang mirip seperti di Pantai Losari yang ada di Makassar, minus Pisang Ijo-nya. Pun, bau seafood yang dipanggang tetap dengan mudah tercium disana sini. Wajar saja, untuk kota yang berada di Pesisir Pantai, seafood pasti bisa ditemukan dengan mudah.

Waterfront Kota Kinabalu, mengingatkan saya kepada Pantai Losari di Makassar.
Waterfront Kota Kinabalu, mengingatkan saya kepada Pantai Losari di Makassar.
Bundaran ini, salah satu ikon Kota Kinabalu.
Bundaran ini, salah satu ikon Kota Kinabalu.
Ada beberapa perahu yang berlabuh di dekat waterfront.
Ada beberapa perahu yang berlabuh di dekat waterfront.

Kemudian saya beranjak menyusuri sepanjang waterfront Kota Kinabalu, yang berada di sisi Jalan Tun Fuad Stephen. Sepanjang jalan disisi kanan terlihat laut yang berwarna gelap, warung yang menjajakan seafood, dan sesekali terdengar suara raungan mesin perahu yang melintas. Mereka ini adalah perahu yang mengantarkan turis menuju beberapa pulau yang ada di lepas Pantai Kota Kinabalu.

Selain wifi gratis yang bisa saya dapatkan di dekat Kantor Polisi setempat, tidak banyak yang menarik perhatian saya di waterfront Kota Kinabalu. Sampai kemudian saya menemukan sebuah bangunan besar, yang didepannya terdapat banyak mobil sedang terparkir. “Pasar Besar Kota Kinabalu” Tulis di sebuah papan, yang menjelaskan kalau ini adalah pasar utama kota ini.

Asik juga loh blusukan di Pasar Besar Kota Kinabalu!
Asik juga loh blusukan di Pasar Besar Kota Kinabalu!

Tanpa ragu, saya pun kemudian masuk ke dalam pasar. Saya penasaran, seperti apa pasar tradisional yang ada di negara tetangga ini.  Lorong demi lorong perlahan saya susuri, saya berjalan tanpa harapan, dan tanpa keinginan untuk membeli sesuatu.

Saya hanya membiarkan tubuh ini bergerak spontan, sambil mengamati apa saja yang ada di Pasar Besar Kota Kinabalu. Sayuran, bumbu, cabe, buah buahan, ikan, daging, persis seperti apa yang ada di kebanyakan pasar tradisional di Indonesia. Hanya saja, lagi – lagi pasar ini jauh lebih bersih dan lebih tertata. Kebersihan dan keteraturannya lah yang selalu membuat saya iri, ketika berkunjung ke negara yang lebih maju.

Disalah satu bagian pasar, barang yang dijual sudah mulai berganti. Saya mulai banyak melihat para penjual makanan, hingga tanpa sadar di tangan saya terpegang satu gelas jus mangga yang begitu menggoda. Harganya cuma 1 ringgit Malaysia. Wajar saja, saya sudah berjalan kaki lebih dari 3 KM jauhnya, minum segelas jus mangga adalah cara yang benar untuk melepas dahaga.

Suasana pasar besar Kota Kinabalu.
Suasana pasar besar Kota Kinabalu.
Yang dijual, nggak beda dengan pasar tradisional di Indonesia.
Yang dijual, nggak beda dengan pasar tradisional di Indonesia.
Jus mangga yang membuat saya ngiler~
Jus mangga yang membuat saya ngiler~

Saya terus berjalan, mengamati satu persatu makanan yang dijual di pasar besar ini. Murtabak Jawa Spesial, saya melewatinya, buat apa dibeli kan saya orang Jawa? Heheee. Ketul yang sebenarnya adalah paha ayam panggang lebih menarik perhatian saya. Setelah saya coba, sausnya memang sedikit berbeda dengan ayam panggang yang biasa saya makan di Indonesia.

Makanan terakhir yang saya coba di Pasar Besar Kota Kinabalu adalaah, ABC Manggo yang merupakan es campur dengan banyak topping mangga diatasnya, dan… Bakso Khas Jawa. Bukan karena apa, saya penasaran dengan apa yang dibilang oleh Fazel, kalau katanya Bakso Jawa itu adalah salah satu makanan yang paling enak menurut dia. Tentu saya penasaran mencobanya dong? Seenak apa makanan Indonesia yang sudah di import ke negara tetangga ini.

Bakso dan seporsi es ABC Manggo yang saya coba disini.
Bakso dan seporsi es ABC Manggo yang saya coba disini.
Murtabak Jawa Spesial dijual di Kota Kinabalu!
Murtabak Jawa Spesial dijual di Kota Kinabalu!
Ini dia yang namanya Ketul.
Ini dia yang namanya Ketul.

Ternyata, bakso di Blitar atau di Malang rasanya jauh lebih enak, padahal bakso yang saya beli disini yang jualan ibuk – ibuk dari Surabaya loh. Yah, mungkin saja rasanya sudah dimodifikasi agar cocok dengan selera lokal. Meski begini, bakso adalah makanan yang cukup laris disini, kata si Ibuk penjual baksonya.

Blusukan di Pasar Besar Kota Kinabalu berakhir dengan perut kekenyangan akibat mencoba berbagai jenis makanan. Seharusnya, masih banyak makanan setempat yang harus saya coba, namun karena perut sudah tidak mampu menampung lagi, dan sebentar lagi Fazel menjemput saya untuk dinner, saya pun kembali ke Centre Point Sabah. Menghabiskan sisa waktu keliling mall, sambil mencari wifi gratisan!

Blusukan di Pasar Besar Kota Kinabalu sambil kehujanan, tapi seru!
Blusukan di Pasar Besar Kota Kinabalu sambil kehujanan, tapi seru!

Ps : Terimakasih untuk Royal Brunei Airlines, sehingga saya bisa jalan – jalan ke Kota Kinabalu :D

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

Yang Banyak Dicari

  • bandar kota kinabalu
  • cerita bandar kk
About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di [email protected] Cepetan Ga pake lama ya!
25 Responses
  1. cerita yg menarik.

    anjungan depan patung ikan merlin itu bukannya disebut ‘square’? kalo waterfront (esplaned) yg pojokan dekat terminal antar kota?

    dermaga jesselton point jg bagus lho buat nongkrong sore2, sunsetnya keren. kunjungi juga pantai tanjung aru, pasirnya halus kekuningan

  2. Kita iri ya dengan kebersihan pasarnya.
    Saya kalo ke kota lain, atau traveling juga suka blusukan ke pasar tradisional. Disana budaya kuliner masyarakat sebenarnya ada.

  3. Pasarnya hampir sama aja kayak di Indonesia ya, bedanya disana lebih bersih heheheeee. Itu yg ketul jadi pengin deh. Kirain ketul itu nama ukuran: satu ketul, dua ketul gitu.

      1. syafiza

        haloo..
        iya mbak…ketul itu bwt ukuran : jumlah..
        tu mah yg dlm poto namany bukan ketul..tp sayap ayam panggang..
        ^-^ slm dr borneo~

  4. Albert Ghana (Lostinparadise.web.id)

    Wah padahal, masih sepulau nih dengan hometown saya. Pun, ada bis langsung kesana tapi belom pernah kesana. Semoga cepat terwujud deh jelajah malaysia timur dan Bruneinya :D

  5. Mi Fahmi, ndik kono bahasa sing digunakan bahasa opo? Bahasa Indonesia koyoke ya. Kuwi ndelok tulisane bahasa indonesia hehehe..

    Btw, aku iso rikues gak yaaa.. nek posting nama kota tok ngene, koyoke kudu dikek i jeneng negorone, Kota Kinabalu – Brunei Darussalam. Ben jelas. Soale tak kiro iki ning indonesia. Hahhaa

  6. Josefine

    Wah, menarik sekali! Saya juga ingin ke Kinabalu, Kak!
    Btw, main ke Benteng Vredeburg Yogya yuk!

    Josefine Yaputri
    Content Writer & Editor
    PT. Grivy Dotcom
    P: +62(0)21 2960 8168
    Office 8 Tower, Floor 18A
    Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53
    Jakarta Selatan, 12190, Indonesia

  7. KERAJAAN PINAMPAN

    PENULIS TIDAK HABIS KELILING KELILING BANDAR RAYA KOTA KINABALU PERLU NAIK KERETA BARU HABIS KELILING KELILING BANDAR RAYA KOTA KINABALU

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: