Berlibur Dan Bekerja Di Australia Dengan Working Holiday Visa? Sesampainya Di Sana Harus Ngapain Dong?

Ngak nyangka saya sudah berada di Sydney selama hampir tiga minggu. Terus terang, saya suka sama kehidupan di Sydney yang serba teratur ini. Meski kadang gregetan juga, kepengen coba bekerja di farm atau main ke daerah terpencil di Australia. Eh, Tapi nunggu tabungan kekumpul dulu deh!

Nah, mumpung saya ada waktu sebentar buat berbagi pengalaman Working Holiday Visa, saya mau coba berbagi mengenai apa saja yang saya lakukan ketika baru sampai di Australia pada bulan Desember 2015 kemarin. Yang sudah pasti sih, kemarin saya leyeh-leyeh dulu, ngelihat pertunjukan kembang api Sydney yang spektakuler di Opera House dan darling Harbour.

Namun selain itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan setelah sampai di Australia (Dalam kasus ini Sydney). Seperti misalnya beli nomor lokal, bikin rekening bank, bikin TFN dan banyak lainnya! Yang jelas buka situs online dating bukan termasuk salah satunya. Nah! Sekarang baca baik-baik ya?

Tentunya jangan sampai lupa mampir ke Bondi Beach ya!
Tentunya jangan sampai lupa mampir ke Bondi Beach ya!

Berlibur Dan Bekerja Di Australia Dengan Working Holiday Visa? Sesampainya Di Sana Harus Ngapain Dong?

1. Beli Nomor Telpon Lokal

Kemarin saya langsung beli di Bandara, menggunakan Vodafone. Sebenarnya ada banyak brand seluler lain di Australia seperti Optus, dan Telstra. Namun karena kebetulan lagi ada promo untuk paket Vodafone AUD 40 jadi AUD 25, saya memutuskan untuk menggunakan Vodafone saja.

Dengan harga segitu saya dapet Kuota data 5 GB, gratis unlimited telp dan sms ke sesama Vodafone, sama dapet 90 menit buat telepon ke Indonesia. Untuk bayar pertama AUD 25, sementara selanjutnya saya bisa recharge AUD 30 atau AUD 40 per bulan, tinggal pilih.

Sebenarnya bebas, mau milih brand yang mana. Kalian yang mau ke Australia nggak perlu harus pake Vodafone seperti saya. Bisa menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Kalau kelemahannya, si Vodafone ini sinyalnya suka ngilang kalau dibawa ke luar kota. Tapi tetep kenceng juga sih internetnya.

2. Bikin TFN (Tax File Number)

Setelah TFN jadi akan dikirim ke alamat masing-masing. TFN itu ya cuma kayak gini
Setelah TFN jadi akan dikirim ke alamat masing-masing. TFN itu ya cuma kayak gini

Dari pengalaman saya baca iklan, interview dan trial pekerjaan sana-sini di Sydney, banyak dari mereka yang menawarkan pekerjaan cash in hand. Itu artinya, nggak perlu TFN (Tax File Number) yang notabene seperti NPWP kalau di Indonesia. Iya, TFN ini berhubungan dengan masalag bayar pajak gitu deh.

Namun TFN ini akan penting sekali fungsinya jika kalian dibayar dengan penghitungan pajak. Karena jika nggak punya TFN, bayar pajaknya jauh lebih gede daripada jika punya TFN. Saya lupa berapa persen, tapi sebaiknya punya TFN deh. Toh katanya nanti bisa diklaim lagi pajaknya ketika mau pulang. Kalau nggak ada TFN mau klaim gimana coba?

Untuk Apply TFN disini nggak ribet. Nggak perlu susah-susah datang ke kantor pajak, ngabisin waktu berjam-jam antri. Saya cuma perlu komputer atau laptop lalu perlu daftar TFN secara online disini. Ngisi biodata seperti data passport dan beberapa data lain. Nggak lebih dari 10 menit, saya sudah selesai daftar TFN dong~ Bisa kebayang berapa banyak waktu yang bisa dihemat?

O iya, untuk daftar TFN secara online tadi hanya bisa dilakukan setelah kalian sampai di australia. Soalnya link pendaftaran Tax File Number Australia secara online hanya bisa dibuka dari Australia saja. Selain itu, juga perlu alamat tetap di Australia untuk pengiriman TFN tadi. Jadi sebaiknya Apply setelah memiliki alamat tetap di Australia.

3. Bikin Rekening Bank

Kalau ingin bekerja di Australia, punya rekening bank disini hukumnya adalah wajib. Selain buat nyimpen duit, rata-rata pembayaran gaji di Australia sini langsung transfer ke rekening bank masing-masing. Dari beberapa pekerjaan yang saya lakukan, belum ada tuh yang bayarnya dikasih langsung.

Untuk bank sebenarnya ada banyak pilihan seperti : ANZ, Citibank, NAB, Commonwealth, Westpac. Namun entah kenapa sejak dari sebelum berangkat saya sudah memutuskan untuk memakai Commonwealth Bank. Mungkin karena saya sudah familiar, sering lihat cabangnya di Jakarta dan di dekat rumah di kampung?

Setelah daftar online di Commonwealth Bank, dapat seperti ini untuk kemudian di print
Setelah daftar online di Commonwealth Bank, dapat seperti ini untuk kemudian di print sebelum terbang ke Australia.

Selain itu Commonwealth Bank ini bisa daftar rekening dari indonesia. Caranya bisa daftar rekening Commbank secara online di link ini, lalu klik button “Open Smart Access Account”, dan tinggal ikuti petunjuk yang ada. Kemarin, setelah Selesai daftar online, saya mendapatkan dokumen untuk di print, dan dibawa ke cabang yang saya pilih ketika di Australia nanti. Kebetulan saya memilih Commonwealth Bank Cabang Townhall, yang nggak terlalu jauh dari tempat tinggal saya di Sussex Street.

Ketika datang di Bank, Saya hanya perlu mengantri setengah jam, setelah itu baru dipanggil untuk verifikasi passport dan menyerahkan dokumen yang saya sudah print sebelumnya. Nggak sampai satu jam, proses pembuatan rekening selesai.

Nggak dapet buku tabungan, hanya ATM saja
Nggak dapet buku tabungan, hanya ATM saja

Di Commonbank ini ternyata semuanya online, nggak ada buku tabungan, atm dikirim paling lama 10 hari kerja ke alamat tempat tinggal. Kalau mau cek rekening, melakukan transaksi atau lainnya, tingga buka secara online di netbank-nya atau lewat aplikasi smartphone. Gampang!

4. Beli Opal Card (Untuk yang datang ke Sydney atau New South Wales Saja)

Nggak segera beli Opal Card ketika sampai di Bandara Sydney adalah kesalahan terbesar saya. Karena itu berarti saya harus beli tiket sekali jalan yang harganya jauh lebih mahal. Opal Card ini semacam kartu yang bisa digunakan untuk naik transportasi umum di New South Wales. Jadi semacam kartu Trans-Jakarta gitu!

Opal Card, kartu sakti untuk naik transportasi umum di Sydney
Opal Card, kartu sakti untuk naik transportasi umum di Sydney

Bisa di top-up sesuai kebutuhan, dan bahkan bisa auto top up kalau sudah punya kartu ATM bank lokal! Jadi nggak perlu takut tiba-tiba kehabisan saldo ketika mau naik transportasi umum nantinya.

Naik transportasi umum di Sydney paling murah adalah sekitar AUD 2, dan paling mahal yang pernah saya bayar adalah AUD 4.5. Enaknya kalau menggunakan Opal Card ini, saya bisa naik transportasi umum gratis setelah melakukan 8 kali perjalanan (Namun tiap perjalanan harus ada jeda 1 jam, kalau kurang dari satu jam naik lagi, tetap dihitung sebagai satu kali perjalanan yang sama ). Selain itu, pada hari minggu, maksimal penggunaan adalah AUD 2.5, setelah itu gratis!

5. Mulai Menghafalkan Jalan, Rute Bus Dan Kereta Di Sydney

Rute bus dan kereta di Sydney itu banyak banget! Kalau kereta sih masih gampang menghafalkannya. Namun, kalau disuruh menghafalkan rute bus di Sydney dan sekitarnya, saya menyerah!

Nah! Disinilah aplikasi smartphone android seperti Trip View Lite dan Google Maps berperan penting! Dengan aplikasi Trip View Lite saya bisa mengetahui rute dan jadwal Bus juga kereta secara real time.

Sementara itu, denga aplikasi Google Maps, saya bisa menemukan alamat rumah di Australia yang sangat tertata rapi itu dengan mudah. Meskipun, saya baru pertama kali mengunjungi alamat tersebut!

Nah, jadi buat yang suka bingung cari alamat dengan menggunakan aplikasi Google Maps, lebih baik mulai membiasakan diri dari sekarang! Daripada nanti kebingungan ya :D

6. Bikin CV Atau Resume Untuk Mencari Kerja Casual Di Australia

Contoh resume untuk mencari kerja casual di Australia.
Contoh resume untuk mencari kerja casual di Australia. (sumber)

Di Indonesia, mungkin saya adalah pekerja keras dengan segudang pengalaman di dunia Programming dan Digital Marketing. Namun, ketika sampai di Australia, saya adalah pemula, total noob yang nggak ada pengalaman sama sekali! Jadi sempat bingung juga ketika mau bikin CV, mau diisi seperti apa coba?

Di awal ketika sampai di Sydney, saya fokus untuk mencari pekerjaan freelance casual seperti bersih-bersih rumah, gudang hingga berkebun. Karena pekerjaan freelance yang seperti itu nggak perlu kirim CV yang isinya lengkap. Yang penting ada kata-kata “Hardworker, Punctual” biasanya sering dapet.

Terus setelah beberapa kali dapet pekerjaan freelance, baru deh saya masukin ke dalam CV atau resume saya. Selain itu, saya juga beberapa kali dipanggil untuk trial pekerjaan (tidak dibayar). Dua kali dipanggil, langsung disuruh kerja sih, tetapi saya belum sreg sama gaji dan team matenya. Jadi saya belum ambil pekerjaan itu.

Namun, tetap saya masukkan ke CV, untuk menunjukkan kalau saya pernah bekerja di Australia meski sebentar. Btw, sampai sekarang saya belum mendapatkan pekerjaan tetap, karena hasil dari freelance masih mencukupi untuk survive di Sydney.

O iya, untuk CV bisa di print di tempat yang namanya Officeworks. Kemarin saya print 40 lembar hanya habis sekitar AUD 3,6. Kalau CV saya kira-kira bisa dilihat disini ya : Contoh CV Untuk WHV – Rijal Fahmi Mohamadi – Casual.

7. Mencari Pekerjaan Di Australia

Mencari pekerjaan di Australia ini sebenarnya yang paling menantang. Pun cari pekerjaan disini itu tinggal kirim resume ke Gumtree, atau bahkan masukin cv langsung di tempat yang saya incar. Disini mental dan kesabaran akan di uji, apalagi setelah mengirim puluhan CV namun belum ada satupun yang memanggil saya.

Di sela-sela menunggu tadi, saya bertahan hidup dengan berburu pekerjaan freelance di sekitar Sydney. Kalau sedang beruntung, saya bisa mendapatkan pekerjaan berkebun dengan bayaran AUD 160 hanya untuk bekerja selama 3 jam. Kalau sedang sial, saya hanya mendapatkan AUD 50 untuk pekerjaan membersihkan gudang sebesar hanggar pesawat sendirian, selama 3 Jam. Atau, lebih sial lagi saya disuruh trial pekerjaan selama 6 jam, TIDAK DIBAYAR!

Tapi ya begitulah, dinamika kehidupan di Australia. Banyak yang bilang, mencari pekerjaan di Australia itu bergantung kepada keberuntungan dan kerja keras. Yang penting, jangan menyerah saja di Australia (semangatin diri sendiri juga *hiks*). Ketika menulis tulisan ini, saya mendapat panggilan interview pekerjaan yang ketiga, semoga berjodoh dan bayarannya lumayan! Amin!

About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di catperku@gmail.com. Cepetan Ga pake lama ya!
103 Responses
  1. Wah baru pertama kali mampir nih, maaf baru sempet berkunjung balik. Keren banget mas bisa survive di Australia, haha. BAca post dari awal udah tertarik sama erjalanan hidupnya mas, seru kayanya. Semoga berjodoh dengan kerjaannya mas!

  2. Makasih buat sharing nya, jadi ada gambaran susah gampang nya WHV di sana, selama ini cuma lihat info senang nya aja :)

    Di tunggu cerita-cerita lain nya setelah 6 bulan di Australia sebagain WHV-ers haha..

  3. Opal Cardnya ada jenis2nya gitu gak mas? kayak misalkan buat pekerja biasa kan tulisannya cuman “adult” gitu doang, kalo misal pelajar pastinya beda lagi dong ya harganya? apa gimana?

  4. bermanfaat bgt infonya mas, kebetulan pas lagi ada keinginan utk apply WHV juga :D

    utk tempat tinggal disana, Mas Fahmi tinggal dimana dengan biaya berapa kah klo boleh tau? soalnya saya masih cemas soal tempat tinggal nih :'(

  5. Adam

    Thanks a lot infonya mas Fahmi, keep up the good work
    Mau tanya nih kan katanya “Enaknya kalau menggunakan Opal Card ini, saya bisa naik transportasi umum gratis setelah melakukan 8 kali perjalanan (minimal jeda 1 jam)”
    Maksudnya 8 kali perjalanan tuh dalam 1 hari atau dalam jangka waktu brp lama? Soalnya kalo dalam waktu 1 hari 8x trip dgn jeda minimal 1 jam kayanya ga mungkin ya? Misal ke tempat kerja PP aja cuma 2x trip kan? mohon pencerahannya ^^

  6. Saiful Azhari

    Tulisannya bagus mas, lengkap… Satu yg mau saya tanyakan, waktu pertama sampai, mas tinggal di tempat siapa? Kalo misal langsung ngontrak/kos (lol :v) nyarinya gampang/susah??? Trimakasih

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: