Terios 7 Wonders : Diary Day 9, The Adventure Of Toraja (Londa)

Pagi hari pertama Toraja mengingatkan saya pada Kota Malang yang memaksa saya selalu menggunakan jaket tebal, juga melewatkan mandi pagi hampir setiap hari. Rasanya membuat saya tidak ingin untuk beranjak dari Tongkonan tempat saya tidur, apalagi menyentuh air untuk mandi pagi. Namun karena panggilan alam, mau tidak mau saya harus bergegas ke kamar mandi. Saya tidak mau meninggalkan jejak di Tongkonan yang saya tempati karena mengompol. Hehee!

Ini juga hari kedua saya di Tana Toraja, setelah semalam tidur dengan suasana sedikit parno dan takut, karena tetangga menyimpat mayat yang belum dikuburkan. Pun seharusnya ketakutan saya itu sebenarnya tidak perlu, karena Toraja adalah tempat dengan udara segar dan suhu udara yang membuat saya selalu nyaman menggunakan jaket tebal.

Masyarakat toraja mempunyai adat menyimpan jenazah di dalam rumah Tongkonan sebelum diadakan upacara pemakaman mewah.
Masyarakat toraja mempunyai adat menyimpan jenazah di dalam rumah Tongkonan sebelum diadakan upacara pemakaman mewah.

Kebiasaan orang Toraja menyimpan jenazah di dalam rumah sebelum dikuburkan bukan tanpa alasan. Toraja mungkin adalah salah satu daerah dengan adat pemakaman jenazah termahal di Indonesia. Bayangkan, setiap keluarga harus menyelenggarakan sebuah upacara adat dengan melakukan pemotongan kerbau. Dimana kerbau tersebut paling murah harganya sekitar 60 Juta. Karena itu prosesi pemakamannya pun juga dikenal paling unik. Salah satu yang terkenal adalah upacara Rambu Solo’ (red : baca rambu solok).

Rambu Solo’ adalah upacara adat kematian masyarakat Toraja yang bertujuan untukmenghormati dan menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh. Yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempatperistirahatan. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian. Karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi.

Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang sakit atau lemah. Sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman bahkan kadang selalu diajak berbicara.

Setiap upacara yang dilakukan, tidak hanya satu kerbau yang  akan disembelih, tetapi hingga puluhan kerbau. Karena berdasarkan adat setempat, semakin besar dan banyak kerbau yang dipotong, berarti semakin tinggi derajat keluarga dan jasad yang dimakamkan. Akan sangat mungkin sekali upacara pemakaman di Tana Toraja biayanya mencapai MILIARAN RUPIAH. Mahaal!!

Setelah diadakan upacara pemakaman Rambu Solo' jenazah baru dimakamkan di pemakaman berupa goa dan tebing.
Setelah diadakan upacara pemakaman Rambu Solo’ jenazah baru dimakamkan di pemakaman berupa goa dan tebing.

Saking mahalnya, sebagian keluarga yang belum mampu akan menyimpan dulu jasad keluarga yang meninggal dunia. Alternatifnya, selain kerbau proses upacara biasanya dilengkapi dengan tambahan hewan lain seperti babi atau kambing. Namun hewan tersebut sifatnya hanya sebagai pelengkap saja. Yang utama tetap kerbau yang biasanya kemudian dianggap sebagai kebanggaan setiap keluarga. Tanduk kerbau yang sudah disembelih akan diperlihatkan sebagai hiasan di depan rumah mereka.

Ketika upacara sudah selesai, jenazah baru akan dikuburkan disebuah pemakaman milik keluarga. Kebetulan ketika di Toraja saya dan tim Terios 7 Wonders diajak kesebuah pemakaman keluarga bernama Londa. Sebuah tebing dimana jasad-jasad yang masih satu keluarga disemayamkan.

Di Londa saya sempat melihat beberapa lambang-lambang khas Toraja, juga beberapa tulisan pesan terakhir untuk dibawa “menemani” sang jasad. Pun Londa adalah sebuah kuburan, suasanya tidak terkesan mistis dan horor, kecuali bagian dalam gua. Bahkan dibagian luar, didekat tempat parkir tampak beberapa toko yang menjajakan oleh – oleh khas Toraja. Saya pun sempat membeli beberapa barang untuk dibawa sebagai oleh – oleh.

Meskipun Londa adalah pemakaman, namun karena juga menjadi destinasi wisata, ada juga yang menjual oleh - oleh khas toraja disini.
Meskipun Londa adalah pemakaman, namun karena juga menjadi destinasi wisata, ada juga yang menjual oleh – oleh khas toraja disini.

Tepat di depan tebing kuburan Londa, saya juga melihat beberapa patung unik. Kata guide, pihak keluarga lah yang membuat patung-patung khusus menyerupai jasad yang sudah meninggal dunia ini. Saya juga diperbolehkan masuk ke gua yang didalamnya berisi jenazah. Rasa seram baru muncul di sepanjang tebing atau goa ini.

Di Londa, baik di dalam gua atau bagian depannya, berserakan tulang-belulang manusia. Mulai dari kaki, tangan, pinggul juga tengkorak. Tidak semua orang bisa dikuburkan di Londa. Yang akan dikuburkan harus masih dalam satu hubungan keluarga. Posisi pemakaman di tebing kuburan Londa juga berbeda – beda. Semakin tinggi posisi pemakamannya di tebing, berarti posisi atau derajatnya juga makin tinggi.

Patung khusus menyerupai jenazah yang dikuburkan di Londa. Untuk membuat harus mengadakan upacara khusus terlebih dahulu.
Patung khusus menyerupai jenazah yang dikuburkan di Londa. Untuk membuat harus mengadakan upacara khusus terlebih dahulu.
Makin ke atas tebing, berarti kasta atau derajat orang yang dimakamkan semakin tinggi.
Makin ke atas tebing, berarti kasta atau derajat orang yang dimakamkan semakin tinggi.

Dari semua jazad yang ada di Londa, ada satu yang paling unik. Adalah jasad sepasang kekasih Toraja yang lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya bersama. Alasannya karena tidak mendapat restu dari kedua orang tua. Romeo dan Juliet ala Tana Toraja ini pernah hidup di tahun 1970-an. Sepertinya kematian pun tidak memisahkan mereka, karena hingga saat ini tengkorak keduanya masing berada berdekatan.

Horor, unik, hingga cerita romantis berakhir tragis. Yang jelas ada banyak cerita  saya dapatkan dari Tana Toraja. Dua hari jelas sangat kurang rasanya untuk mengenal adat dan budaya Toraja lebih dekat. Terlebih lagi saya belum sempat menyaksikan upacara Rambu Solo’ secara langsung. Mungkin lain kali saya akan kembali ke Toraja untuk menyaksikannya. Sekarang, saya dan tim Terios 7 Wonders harus melanjutkan perjalanan sekitar 400 an KM menuju Tanjung Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Pemakaman adat Toraja, Londa yang sempit di bagian dalam membuat pengunjungnya harus jalan dengan jongkok dan perlahan.
Pemakaman adat Toraja, Londa yang sempit di bagian dalam membuat pengunjungnya harus jalan dengan jongkok dan perlahan.

Ps: Tulisan ini adalah catatan perjalanan saya selama mengikuti ekspedisi terios 7 wonders, jelajah celebes heritage. Ikuti terus live tweet saya di #Terios7Wonders @catperku.

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di catperku@gmail.com. Cepetan Ga pake lama ya!

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: