Riuh Gemuruh Karnaval Khatulistiwa Di Pontianak

Pagi itu, Jakarta masih seperti biasanya, ritme manusianya selalu berjalan cepat, sementara tak jarang Trans Jakarta sering terlambat. Seperti biasanya di Halte Trans Jakarta Ratu Plaza, saya bergegas dengan sedikit tergesa. Meskipun begitu, saya masih bisa berjalan sambil membaca buku tentang kehidupan perantau yang bekerja menjadi supir truk di Australia.

Ditengah aktivitas itu, saya merasakan kalau ponsel pintar saya bergetar. Setelah saya lihat, ternyata ada satu pesan masuk. Saya pun berhenti sejenak, mencerna isi pesan yang baru saja saya terima, dan memulai percakapan untuk mengetahui maksud si pengirim pesan.

“Fahmi, lagi dimana?”

“Lagi di Jakarta, ada apa mas?” Saya membalas dengan sedikit penasaran.

“Tadinya mau ajak ke Pontianak, event Karnaval Khatulistiwa 22-24 Agustus”

“Bisa sih mas, tanggal segitu kosong” Balas saya.

Pesan terkirim, saya menjawab dengan yakin, rasanya senang hati ini akan terbebas dari perasaan gundah gulana karena saya merasa sedang kurang piknik. Pun kali ini tentunya nggak sekedar piknik, tetapi merangkap tugas liputan sebagai travel blogger seperti biasanya.

Tetap berangkat ke Pontianak meskipun KTP sedang diperbaharui. *pake passport*
Tetap berangkat ke Pontianak meskipun KTP sedang diperbaharui. *pake passport*

“Bisa ya? Fix”

“Yap, 22-24 ini kan?” Saya membalas sambil mengkonfirmasi lagi tanggal keberangkatan.

Percakapan singkat dalam aplikasi pengirim pesan itu ternyata akan membawa saya ke Kalimantan. Mengunjungi Kota Pontianak, untuk meliput Karnaval Khatulistiwa sebagai travel blogger pada tanggal 22 Agustus 2015. Pun pada akhirnya tanggal keberangkatan sedikit dimajukan, namun tidak merubah rencana perjalanan selama disana.

Itu berarti, ini adalah kali kedua saya menginjakkan kaki di Borneo setelah sebelumnya berkunjung ke negara tetangga,  dan untuk pertama kalinya datang ke Kalimantan. Seharusnya, rencana saya berkunjung ke Kalimantan pertama kali adalah September bulan depan dalam rangka jelajah Borneo. Tetapi apa dikata, jodoh terlanjur menjemput saya terlebih dahulu untuk bertemu dengan Kalimantan.

BACA JUGA :  Tari Caci, Tarian Para Ksatria Dari Manggarai!

Jakarta – Pontianak ditempuh dengan terbang kurang lebih sekitar 1 jam lebih sedikit, hampir sama dengan penerbangan saya ke Belitung kemarin. Begitu mendarat di Pontianak, tak banyak waktu untuk beristirahat. Setelah meletakkan tas di penginapan, saya dan teman blogger lain yang akan meliput Karnaval Khatulistiwa segera bergegas menuju ke Rumah Randakng yang ada di Jalan Sutan Syahrir, Pontianak, Kalimantan Barat.

Rumah Randakng yang ada di Jalan Sutan Syahrir, Pontianak, Kalimantan Barat.
Rumah Randakng yang ada di Jalan Sutan Syahrir, Pontianak, Kalimantan Barat.
Persiapan menjelang dimulainya acara Karnaval Khatulistiwa.
Persiapan menjelang dimulainya acara Karnaval Khatulistiwa.

Rumah Randakng ini adalah tempat dimulainya Karnaval Khatulistiwa. Acara ini juga akan dibuka oleh presiden republik Indonesia yang ditemani dengan beberapa menteri termasuk menteri pendidikan dan pariwisata. Karena itu, beberapa saat sebelum pembukaan, tempat ini sudah dipenuhi oleh para peserta Karnaval Khatulistiwa dan juga penonton yang begitu antusias.

Pakaian adat dayak, kostum unik berwarna warni terlihat bertebaran disana sini. Saya tidak mengenal semuanya, karena memang ada banyak sekali pakaian khas tiap daerah di seluruh Indonesia. Tidak ketinggalan, berbagai kendaraan peserta karnaval yang sudah dihias sana sini untuk memeriahkan parade Karnaval Khatulistiwa ini.

Pasukan marching band bersiap sebelum pembukaan acara Karnaval Khatulistiwa
Pasukan marching band bersiap sebelum pembukaan acara Karnaval Khatulistiwa

Melihat keramaian ini, saya jadi teringat dengan masa kecil saya. Dimana ketika itu saya selalu menantikan datangnya bulan Agustus. Bulan spesial dimana saya bisa menyaksikan gerak jalan, karnaval lengkap dengan marching band, hingga waktu dimana saya bisa mendapat hadiah ulang tahun. #lho

Tidak menyangka, berkunjung ke Pontianak untuk pertama kali bisa membawa saya kepada kenangan masa kecil yang bahagia. Bedanya, kalau karnaval yang sering saya lihat ketika masih kecil itu adalah karnaval dengan skala kecamatan, Karnaval Khatulistiwa ini adalah karnaval dengan skala besar. Semua itu terlihat jelas, bahkan dari grup marching band yang mengiringinya. Dari informasi yang saya dapatkan sih, mereka berasal dari sekolah militer yang terbang langsung dari magelang dengan Pesawat Hercules.

BACA JUGA :  Riding Ke Pantai Baron, Kena Macet Di Jalan [ Jelajah Wisata Pantai Gunung Kidul Part 1 ]
Pasukan marching band yang berada di iringan terdepan.
Pasukan marching band yang berada di iringan terdepan.

Memang, ketika diadakan karnaval, pasukan marching band ini selalu berhasil menarik perhatian saya lebih banyak. Saya selalu dibuat terkesima dengan sang mayoret yang memainkan tongkatnya dengan lihai, penabuh drum yang memukul drum dengan penuh semangat, hingga para peniup terumpet yang membuat marching band lebih terdengar indah. Namun, diantara kesemuanya itu, kekompakan pasukan marching band untuk menghasilkan musik yang bagus selalu membuat saya ternganga melihatnya.

Tak ayal saya mengabadikan pasukan marching band ini degan penuh semangat begitu acara dibuka oleh presiden, dan mereka memulai atraksinya. Lensa kamera pun selalu mengarah ke pasukan marching band untuk mengabadikan setiap gerak – gerik mereka. Sesekali, saya mengubahnya ke mode merekam untuk nantinya akan saya buat menjadi sebuah travel video yang apik nan menarik.

Ada banyak yang bening di acara Karnaval Khatulistiwa! *abaikan yang paling kanan :D*
Ada banyak yang bening di acara Karnaval Khatulistiwa! *abaikan yang paling kanan :D*

Festival Khatulistiwa di Pontianak ini memang begitu meriah. Selesai pembukaan, dengan tetap dikerumuni pengunjung yang penuh antusias, peserta karnaval mulai bergerak perlahan tapi pasti. Mereka akan menuju Taman Alun Kapuas yang merupakan titik bertemunya iring – iringan karnaval yang ada di darat dan di Sungai Kapuas.

Iya, Karnaval Khatulistiwa ini memang diadakan pada dua tempat sekaligus. Yang pertama adalah iring – iringan karnaval darat yang dimulai dari Rumah Randakng yang ada di Jalan Sutan Syahrir, Pontianak. Sementara yang kedua dimulai dari satu bagian di Sungai Kapuas yang mengalir di tengah Kota Pontianak. Nantinya, kedua iringan karnaval tadi akan bertemu di Taman Alun Kapuas.

Kalau yang ini sepertinya baju adat dari Kalimantan kan?
Kalau yang ini sepertinya baju adat dari Kalimantan kan?
Ini baju khas daerah Madura bukan ya? Nggak cuma dari Kalimantan saja pesertanya!
Ini baju khas daerah Madura bukan ya? Nggak cuma dari Kalimantan saja pesertanya!
Entah kalau ini kostum apa?
Entah kalau ini kostum apa?

Pemilihan titik temu kedua iringan karnaval ini menurut saya memang tepat. Karena Taman Alun Kapuas ini adalah simbol utama dari Kota Khatulistiwa. Layaknya alun – alun tiap kota, hampir setiap harinya Taman Alun Kapuas selalu dikunjungi masyarakat. Taman yang juga terletak tidak jauh dari Kantor Wali Kota Pontianak ini diperindah dengan sebuah replika Tugu Khatulistiwa.

BACA JUGA :  Pink Beach Flores VS Pink Beach Lombok! Mana Yang Lebih Keren?

Sayangnya, karena acara Karnaval Khatulistiwa ini jalanan Pontianak menjadi cukup macet. Sehingga saya tidak sempat untuk melihat karnaval yang ada di sepanjang Sungai Kapuas. Saya pun harus cukup puas dengan bisa melihat iring – iringan Karnaval Khatulistiwa di darat yang diramaikan oleh ratusan penari suku dayak, puluhan kelompok seni dari Kalimantan Barat dan bahkan peserta dari 15 provinsi lain yang membawakan ciri khas daerahnya.

Banyak kostum berwarna - warni bertebaran di Karnaval Khatulistiwa.
Banyak kostum berwarna – warni bertebaran di Karnaval Khatulistiwa.
Barongsai juga ikut meramaikan acara ini.
Barongsai juga ikut meramaikan acara ini.

Benar – benar, acara seperti ini harusnya digarap dengan apik. Bukan hanya untuk terlihat hura – hura menghabiskan dana. Tetapi seharusnya juga bisa dimanfaatkan untuk menarik banyak wisatawan dan juga sebagai perwujudan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Karena disini saya bisa menyaksikan bagaimana banyak orang dari berbagai latar belakang profesi, suku, ras dan budaya bisa duduk bersama-sama dalam perdamaian.

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.


Fahmi (catperku.com)

Fahmi (catperku.com)

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di [email protected] Cepetan Ga pake lama ya!
http://catperku.com


Comments

  1. Kostum yang pake daun2 itu kostum penari Hudoq. tarian yang biasanya ada saat festival syukuran atas hasil panen atau usai menanam di ladang dan mengharapkan panen yang baik dari yang maha Kuasa..

    Keren bisa lihat festival di Kalimantan.. kapan2 pengen main lagi nih ke Kalimantan ahhh.. *cari jadwal cuti*

  2. Kostum yang dari daun2 itu kostum penari Hudoq kak..
    Hudoq itu semacam festival atau perayaan tari-tarian rasa syukur usai musim tanam atau panen di Kalimantan..

    Pengen deh bisa ke kalimantan liat festival lagi..
    *hunting jadwal cuti*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *