Ternate dan Tidore, Spice Island yang Abadi di Uang Rp 1.000! (Bagian 2, Tidore)

Ini adalah guest post dari Roby of robroby (rrjct.blogspot.com). Engineer yang senang mencoba hal-hal baru. Bukan petualang tetapi senang menikmati alam dan selalu takjub dengan INDONESIA. Anda dapat berbagi dengan saya di @r_roby

Tidore!

Pulau Tidore mungkin belakangan tiba-tiba sering terdengar di telinga Anda karena menjadi lokasi syuting dari Film Retak Gading yang tayang di awal tahun 2014 ini. Sebagian dari kita mungkin akan bertanya-tanya dimana letak Pulau Tidore ini dari ribuan pulau yang ada di nusantara. Atau bahkan mungkin di peta yang kita miliki di rumah, Pulau Tidore bahkan tidak nampak sama sekali. Nah Loh?!

Untuk menuju ke Pulau Tidore, pintu gerbangnyya adalah Kota Ternate sebagai Ibu Kota Provinsi Maluku Utara. Dari Kota Ternate, menuju ke Pulau Tidore dilayani dari Pelabuhan Bastiong. Pelabuhan ini dapat dicapai dengan kendaraan sekitar 20 menit dari Bandara Sultan Baabulah Ternate. Jika menggunakan ojek biayanya sekitar 25.000 rupiah.

Di Pelabuhan Bastiong, tersedia speed boat yang akan melayani lalu lintas laut ke Pulau Tidore. Tidak usah khawatir karena speed boat ini tersedia setiap waktu. Jika Anda mau berangkat lebih cepat, carter speed dengan harga sekitar 50.000 rupiah sampai 70.000 rupiah. Tapi jika Anda bisa sedikit bersabar naik saja speed boat regular. Speed boat ini memang harus menunggu sampai penumpang penuh, tapi tidak akan memakan waktu yang lama juga.

Tarifnya hanya 8.000 rupiah sekali jalan. Sebenarnya tersedia juga Kapal Ferry yang berangkat ke Tidore, hanya saja Anda harus datang di waktu yang tepat, sebab Kapal Ferry hanya berangkat satu kali setiap hari. Tarif untuk sekali jalan cukup murah, hanya 3.000 rupiah. Dari pelabuhan Bastiong menuju Pelabuhan Rum, Tidore, dengan menggunakan speed boat ditempuh hanya sekitar 10 sampai 15 menit.

Pelabuhan Rum, Tidore dengan latar belakang Pulau Ternate
Pelabuhan Rum, Tidore dengan latar belakang Pulau Ternate

Dari pelabuhan Rum, untuk menuju kota Tidore yaitu Soasio, ada banyak alternatif transportasi, yang paling umum adalah angkot dengan tarif 10.000 rupiah. Perjalanan menuju Soasio membutuhkan waktu yang cukup lama. Sangat lama malah menurut saya. Tapi tidak usah khawatir untuk bored, karena di sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan pantai yang cukup mengasyikkan.

Terkadang saya merasa beberapa ruas jalan yang saya lalui persis dengan suasana di daerah Pantai Malalayang menuju ke Kotamobagu, Sulut, terkadang juga ada area yang tiba-tiba mengingatkan saya dengan jalan di daerah Donggala menuju kota Palu. Saking asyiknya menikmati perjalanan, ditambah dengan angin laut yang menampar-nampar wajah saya yang masuk melalui jendela angkot, saya malah tertidur! yup! tidur.

Saya tidak tahu pasti berapa lama saya tertidur, yang saya rasakan adalah saya tertidur begitu lelapnya dan terbangun ketika sudah sampai di sebuah terminal di Soasio. Soasio ini merupakan ibukota kesultanan Tidore. Ibukota kesultanan Tidore sebelumnya berada di Kota Rum yang berhadapan langsung dengan Pulau Ternate, namun kemudian dipindahkan ke Soasio yang berada di sisi lain, yaitu bagian selatan Pulau Tidore.

Bagi saya, Kota Tidore ini sungguh tenang. Kota ini tidak terlalu ramai, namun tertata dengan baik dan yang paling mengesankan adalah kebersihannya. Kebersihan sangat terlihat di berbagai titik dan tentu saja terlihat sangat rapi. Wajar saja jika kota ini telah meraih piala Adipura sebanyak enam kali.

Benteng Tohula dan Benteng Tore

Benteng Tore
Benteng Tore

Benteng Tohula dan Benteng Tore keduanya berada di Soasio. Entah namanya benar atau tidak, karena dari berbagai sumber masing-masing menuliskan nama yang berbeda. Ada yang menulis benteng Tore, adapula yang menulis Benteng Toware, dan yang lainnya :D. Dari terminal, seperti halnya di Ternate, saya memilih ojek utuk mengantarkan saya ke kedua benteng tersebut. Kedua benteng tersebut berada di atas bukit dengan jarak yang tidak terlalu jauh.

Namun ternyata untuk mencapai benteng tersebut cukup membuat ngos-ngosan juga. Dari jalan yang dapat dijangkau kendaraan, kita harus menaiki tangga untuk sampai ke kedua benteng tersebut. Jumlah anak tangganya memang tidak sebanyak anak tangga di area Air Terjun Malino yang pernah saya kunjungi, tetapi kemiringannya yang menurut saya sangat miring benar-benar menguras energi. Terutama tangga di benteng Tohula yang tangganya sangat terjal.

Benteng Tohula
Benteng Tohula

Kedua benteng tersebut sebenarnya lebih tepat disebut “Reruntuhan Benteng”. Bentuk asli dari benteng tersebut memang tidak terlihat lagi, hanya sisa-sisa reruntuhan yang kita jumpai disana. Tapi masih dapat menunjukkan bahwa kedua benteng ini dahulunya adalah benteng yang luas dan kokoh. Cukup disayangkan juga di beberapa area, sangat terlihat bahwa benteng ini kurang terawat. Tapi satu hal yang cukup memuaskan adalah view dari benteng tersebut. Pemandangan Kota Soasio dengan lautan yang biru sungguh memanjakan mata. Ah! Sungguh luar biasa karyamu Tuhan. :)

Pemandangan Kota Soasio dari atas Benteng Tohula
Pemandangan Kota Soasio dari atas Benteng Tohula

Pantai Ake Sahu

Pantai Ake Sahu merupakan destinasi wisata yang cukup terkenal di Tidore. Setiap akhir pekan atau hari-hari libur tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat, bahkan yang berasal dari luar Pulau Tidore. Sekilas bagi saya pantai ini tidak jauh berbeda dengan pantai-pantai yang lain, banyak air laut! (abaikan saja!).

Disini cukup sejuk sebab banyak pohon-pohon sebagai tempat berlindung. Fasilitas untuk sekedar duduk bersantai juga sudah banyak, menunjukkan bahwa pantai ini sudah dikelola dengan baik sebagai tempat wisata. Pantainya berpasir putih, biru lautnya sangat jernih. Sebenarnya sangat ingin nyebur disana, hanya saja saat itu tidak satupun orang yang mandi disana ditambah lagi masih siang bolong. Meskipun pantainya tidak begitu istimewa, tapi ada satu hal yang unik dan berbeda dari pantai ini yaitu sumber air panas.

Ya! di pantai ini ada sebuah sumur yang menjadi sumber air panas, dan meskipun berada di pantai, air di sumur ini tawar. Itu kata orang-orang loh yah! karena saya juga tidak mencicipi secara langsung apakah airnya benar-benar tawar atau tidak :D. Sebenarnya sumur sumber air panas inilah yang menjadi daya tarik utama di Pantai Akesahu. Sesuai dengan namanya Ake Sahu (Air Panas). Bagi anda yang ingin berkunjung ke Tidore, bagi saya tempat ini recommended, apalagi anda yang senang dengan suasana pantai yang tenang dan sejuk :)

Sumber air panas di Pantai Ake Sahu.
Sumber air panas di Pantai Ake Sahu.

Tempat lain yang katanya tidak kalah menarik dikunjungi adalah Gurabunga, dan Kedaton Kie yang merupakan tempat Sultan Tidore. Untuk Kesultanan Kie ini sendiri, saya hanya sempat melihat dari luar ketika berkunjung ke Benteng Tore. Tidak sempat lagi untuk singgah, bahkan sekedar mengambil gambar pun tidak. Sedangkan untuk Gurabunga, saya memang tidak berkunjung kesana karena jaraknya yang cukup jauh dan harus naik bukit karena memang berada di daerah ketinggian. Menurut informasi, di daerah tersebut banyak sekali bunga-bunga dan hawanya pun cukup dingin, bahkan sering tertutup embun.

Nah, kesempatan saya mengunjungi Pulau Tidore juga bertambah luar biasa karena di waktu itu ada eventi pemecahan rekor MURI Makan Durian Terbanyak. Kali ini saya ke Tidore sekitar pukul 14.30 WIT sebab memang acaranya dierencanakan pukul 15.00 WIT. Tiba di Tidore, saya langsung mengunjungi lokasi, dan rupanya masih dilakukan persiapan, yaitu menyusun 16.000 buah durian di jalan raya. Panjang total jalan yang digunakan untuk menyusun durian tidak saya tahu pasti dan juga tidak bisa saya perkirakan, yang jelasnya durian dimana-dimana dan memang sangat banyak :D.

Suasana pemecahan rekor Muri, Durian Terbanyak :D
Suasana pemecahan rekor Muri, Durian Terbanyak :D

Pada akhirnya kegiatan ini memang sukses memecahkan Rekor MURI yang sebelumnya dipegang oleh Lampung, dengan peserta more than 13.000 orang serta durian lebih dari 15.000 yang termakan. Waoow banget deh! Salut untuk pemerintah Kota Tidore yang memanfaatkan moment “banjir durian” ini untuk kegiatan yang positif. Daripada durian banyak yang tidak terjual karena memang lagi banjir-banjirnya, lebih baik dibuatkan acara seperti ini. Dapat Rekor MURI, kebersamaan antara masyarakatnya pun semakin terjalin, dan yang paling penting bisa makan durian gratis sepuasnya :D

Ps : Tertarik menulis guest post yang berhubungan dengan traveling di travel blog catperku? Kirimkan tulisan kalian ke email [email protected] deh :D

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
IkutiĀ travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakanĀ kerjasama.

Yang Banyak Dicari

  • jarak kota ternate dan tidore
  • peta dan jarak tempuh tidore
  • transportasi ternate ke tidore
About the author

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di [email protected] Cepetan Ga pake lama ya!

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: