Selamat datang di Bandung, Kota Angkot, Eh!!?

Bandung seharusnya lebih dikenal karena cerita heroik “Bandung lautan api“, “Parijs van Java” , atau “Kota Kembang-nya” Indonesia. Tetapi, menurut saya, beberapa tahun lagi mungkin bandung akan lebih dikenal sebagai kota angkot yah :D

Bandung Kota Angkot, 2012

Selamat Datang Di Bandung, Kota Kembang“, tertulis di spanduk yang saya baca ketika baru saja sampai di stasiun kereta api kota Bandung. Saya baru saja melakukan perjalanan selama kurang lebih 3 jam dengan kereta api Argo Prahyangan, melalui salah satu jalur kereta api dengan pemandangan terindah di Indonesia.

Stasiun kereta api kota Bandung memang selalu menjadi pintu masuk favorit saya, ketika datang ke kota ini. Meskipun sekarang ini Bandung sudah bisa dijangkau dengan beberapa penerbangan domestik. Sejauh ingatan saya sepertinya stasiun ini tidak berubah sejak kunjungan terakhir saya ke kota Bandung sekitar dua tahun lalu. Selalu ramai, dan penuh sesak, dan asiknya tempat makan favorit saya masih tetap ada di sudut stasiun ini.

(Baca Juga : Bukit Moko, Bandung Punya!)

Bulan desember adalah awal musim hujan, tidak heran lagi kalau hujan lebat langsung menyambut begitu keluar dari stasiun. Apalagi untuk kota yang berada di dataran tinggi seperti Bandung, pastilah hujan turun hampir tiap hari.

Yah, tidak masalah, kali ini saya tidak sendiri, berdua menikmati hujan itu menyenangkan kok! Hehee! Sebuah hiburan tersendiri sambil menunggu sepeda motor sewaan yang tidak kunjung diantarkan ke stasiun. (Ps: kalau mau menginap bisa juga loh~ Hotel dekat stasiun bandung yang paling dekat dan enak buat menginap ya Hotel Mutiara Bandung )

Sepeda motor menjadi transportasi yang paling efisien untuk berkeliling kota Bandung.

Sepeda motor menjadi transportasi yang paling efisien untuk berkeliling kota Bandung.

Sepeda motor masih menjadi moda transportasi favorit saya untuk mengeksplore tiap sudut kota ini, lebih pas, ekonomis, dan menghemat waktu. Apalagi Bandung sekarang ini sudah lebih macet jika dibandingkan dua tahun lalu.

Sepeda motor juga lebih mudah untuk menyelinap ditengah kemacetan kota ini. Sebagai kota yang menjadi destinasi liburan utama orang jakarta, persewaan sepeda motor di kota ini sekarang lebih gampang ditemukan. Hampir mirip seperti Jogja dan Bali, meskipun prosedur menyewa sepeda motor lebih rumit jika dibandingkan menyewa sepeda motor di Bali. Saya harus menyediakan tiga macam identitas sebagai jaminan.

Beberapa tahun berlalu, kota ini tidak banyak berubah., kecuali angkot yang menurut saya jumlahnya semakin banyak. Sepertinya angkot semakin mendominasi jalanan kota Bandung saja. Mungkin moda transportasi yang satu ini begitu diandalkan sebagai transportasi publik kota ini.

(Baca Juga : Tebing Keraton Atau.. Tebing Karaton Sih!?)

Bisa juga karena di kota Bandung ini terdapat banyak pelajar dan mahasiswa, jadinya angkot adalah transportasi yang paling ekonomis. Sangat berbeda jauh dengan Bali, tempat saya tinggal, dimana angkot adalah suatu hal yang cukup langka.

Dulu, waktu masih SMA, saya sering naik angkot ketika pulang dan pergi ke sekolah. Ternyata yang namanya angkot, baik di kota Bandung ataupun di tempat lain itu sama saja, tidak ada yang berubah sedikitpun. Suka berhenti ngasal atau istilah kerennya “ngetem“, otomatis macetlah jalan karena si angkot tadi pada “ngetem“.

Nah, si angkot ini juga perlu diwaspadai ketika bersepeda motor ria di kota bandung. Mereka suka berhenti mendadak, entah mau “ngetem” ataupun menurunkan penumpang. Menyebalkan bukan? Percaya deh ada yang lebih menyebalkan lagi kok. Ya! Balapan sama angkot di jalanan bandung yang macetnya dari ujung ke ujung! Mau coba? resiko tanggung sendiri ya!

Makan nasi merah yang unik...

Makan nasi merah yang unik…

Dengan pemandangan malam kota Bandung seperti ini, ada yang gak mau?

Dengan pemandangan malam kota Bandung seperti ini, ada yang gak mau?

Untuk destinasi wisata, Kota ini lebih dikenal dengan wisata belanja karena banyak terdapat distro dan wisata kuliner karena memang banyak sekali makanan unik dan aneh disini. Yah, saya sendiri kurang begitu fokus ke wisata dalam kotanya, karena lebih tertarik dengan wisata alam yang lokasinya berada di kabupaten bandung (red : ciwidey, situ patenggag).

(Baca Juga : Edisi Jalan Kaki Hore Keliling Kota Bandung)

Satu – satunya destinasi wisata dalam kota yang saya datangi adalah kawasan punclut, Ciumbuluit. Seneng banget dong nemu tempat yang banyak warung lesehannya. Bisa dinner sambil menikmati ribuan lampu kota Bandung lagi. Di Bali enggak ada tempat seperti punclut ini *hiks*. Psssst! Oiya, tempat satu ini tempat yang enak buat nge-date.

Entah belanja, berburu kuliner, sekedar nge-date ataupun menikmati wisata alamnya, kota ini memang menarik sekali buat para penyuka suasana adem. Sekali ataupun dua kali rasanya masih kurang untuk menikmati semuanya. Semoga saja beberapa tahun kedepan kota ini tidak benar – benar berubah sebutan menjadi kota angkot, dan macetnya tidak lagi dari ujung ke ujung. Come on Bandung! Kamu pernah menjadi kota yang cantik sebelumnya! cc : Pemda Kota Bandung.

Featured Imange source  (link)

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

Yang Banyak Dicari

24 Responses

  1. Halim says:

    Bandung udah jadi kota yang mahal kaya Jakarta menurutku, sedikit kecewa karena susanh banget mau backpacker cari makan murah di sana…ditambah ratusan angkot yang semakin bikin Bandung jd Kota Angkot Macet Gila hehe…

  2. asik donk klo bnyk angkot gak susah lagi ke.mana2..hee

  3. supermon says:

    Qaaqaaa pahmi, berdasar pengalaman pribadi buat yg susyah ngapalin arah kayak sayam ga ada motor, dan ga ngandalin siapa2 disana alias dewek’an, ada loh aplikasi cakep yang ngebantu banget pas lagi jalan-jalan di Bandung. Mulai dari nyari angkot, sampai penginepan saya dibantuin sama aplikasi H!Bandung. *trimakasih developer #sembah*
    Aplikasi ganteng ini bisa disedot gratis di play store.
    *ini asli bukan ngiklan*

    • byteeater says:

      wkkk, bilang kek dari dulu, saya cuma ngandelin google map. alhasil pake muter – muter dulu, pake motor si hahaha

  4. kwon says:

    ha, saya udh pernah tinggal di bandung. tata kota dan pmndangan kotanya ga bagus. jelek amat. berantakan dan biasa” aja. ga ada menarik”nya pmandangan kotanya secara kseluruhan. soalnya pmbangunan bangunan” bsar, mnarik, tidak terpusat di satu kawasan kota, tpi tersebar di pnjuru kota, di tmbah wilayahnya rata, gtu” aja, jadinya dari sisi keindahan kota ga bagus bngt. jelek. ga indah sprti kota palu, ambon, palembang, jayapura, dan bukit tinggi. pantas ga msuk 10 besar kota terindah indonesia. kelebihan bandung thu cuman di hal wisata blanja pakaian dan aksesoris, serta brg”nya lngkap dan murah, toko” smw lengkap, ada. klw mkanan di kota bandung thu yaitu mknan sunda ga enak bngt. ga seenak mkanan manado, madura, padang, dan makassar. fakta.

    • byteeater says:

      tapi saya suka ademnya bandung si :D coba lebih bersih dikit lagi, pasti bagus :)

      • ranjausauskacang says:

        Wah susah bro, kalau lagi jalan di belakang siswi(serius cewek) SMP/SMA yang bergerombol gitu harus hati-hati ranjau jajanan (habis jajan langsung buang ranjau tanpa merasa berdosa). Mental orang-orang Bandung tidak dibina sejak muda sih, jadinya buang sampah seenak dewek.

        • Rijal Fahmi Mohamadi says:

          Bukan orang bandung saja, tapi di sebagian besar kota di indonesia gitu :| mentalnya pada seneng buang sampah sembarangan….

    • reswara says:

      waduh duh, mas ini pernah tinggal di bandung sebelah mana nya ya??

  5. edwardseven says:

    kalo datang ke bandung, biasanya yang dicari itu kulinernya, kalo mau cari alamnya harus ke daerah2 lembang, disana banyak ko tempat wisata yang bagus :)

  6. debudigorenganpinggirjalan says:

    Maklum, trotoar sudah bukan manusia yang bisa lewat. Kalau cowok masih usia 20-an sih bisa aja lewat nyelip naik turun medan ekstrim sambil bersitegang dengan kendaraan bermotor dan kaki lima. Makanya cuma buat jalan 100 meter-an aja orang-orang sudah perlu kendaraan bermotor (bukan cuma angkot lho, orang yang ngekos pas di depan kampus aja masih milih mengendarai motor daripada jalan kaki).

    • Rijal Fahmi Mohamadi says:

      wogh! ini trotoar yang di tengah kota gak begitu naik turun sih. terus padahal bandung adem, enak buat jalan kaki :D sayang sekali ya~

  7. brojok says:

    emang banyak banget angkotnya bru. tapi kayanya bogor lebih parah deh, hahaha. good luck!

  1. February 26, 2013

    […] yang sedikit jauh dari kota Bandung, tidak membuat Situ Patenggang sepi pengunjung. Malah saya dibuat kaget karena banyak sekali […]

  2. March 6, 2013

    […] si Kawah Putih Ciwidey ini? hanya berjarak 50 Km dan dengan waktu tempuh satu sampai dua jam dari Bandung […]

  3. August 13, 2013

    […] kondisi lancar tanpa macet, seharusnya Gunung Tangkuban Perahu bisa dicapai dari Bandung dalam waktu kurang dari satu jam. Namun jangan harap bisa mencapai gunung ini dalam waktu kurang […]

  4. September 5, 2013

    […] saya ke Kota Bandung tahun 2012 lalu gagal menemukan lokasi bukit ini. Dengan jarak saya ke Kota Bandung menjadi lebih dekat jika dibandingkan dengan beberapa bulan lalu ketika saya masih tinggal di Pulau […]

  5. October 4, 2013

    […] Selamat datang di Bandung, Kota Angkot, Eh!!? […]

  6. October 4, 2013

    […] Selamat datang di Bandung, Kota Angkot, Eh!!? […]

  7. October 11, 2013

    […] tinggal di Jakarta, saya ingin memaksimalkan eksplorasi setiap sudut Jawa Barat, di mulai dengan Bandung :). Ada banyak rute yang bisa dilewati untuk menuju ke Bandung dari Jakarta, tetapi karena saya […]

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: