Rekam Jejak Sang Maestro Di Museum Affandi

Karya seni adalah salah satu daya tarik yang dimiliki oleh Yogyakarta. Karena itu ketika kemarin saya berlibur kesana, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satu rumah seorang maestro yang kini digunakan sebagai museum. Sekarang rumah sang maestro tadi lebih dikenal dengan Museum Affandi. Nama museumnya sendiri diambil dari nama asli sang maestro yaitu “Affandi”.

Selain Museum Ullen Sentalu, memang Museum Affandi adalah salah satu museum yang unik di Yogyakarta. Dengan sebagian koleksinya berupa lukisan, untuk yang tidak berbakat melukis sama sekali seperti saya, asalkan penikmat lukisan pasti akan senang sekali ketika mengunjungi tempat ini. Biasanya kalau di rumah saya yang ada di Blitar, saya adalah penikmat lukisan adik saya yang banyak dipajang di ruang tamu dan ruang keluarga. Iya, saya adalah penikmat lukisan juga, karena itu saya memasukkan Museum Affandi ke dalam itinerary liburan saya di Yogyakarta.

Menemukan lokasi museum cukp mudah dan harga tiket masuk Museum Affandi tidak terlalu mahal.

Menemukan lokasi museum cukp mudah dan harga tiket masuk Museum Affandi tidak terlalu mahal.

Menemukan lokasi Museum Affandi tidak terlalu susah, bahkan lokasi museum ini tepat berada di jalanan utama Yogyakarta yang selalu sibuk. Museum ini terletak di tepat di tepi Jalan Laksda Adisucipto nomor 167. Jalanan besar utama yang menghubungkan kota Yogyakarta dan Solo. Museum Affandi juga berada di tepi barat Sungai Gajahwong. Karena itu ketika sedang berada di salah satu ruang galeri lukisannya, saya bisa terdengar suara gemericik air yang sedang mengalir.

Dari pintu masuk utamanya museum ini terlihat kecil. Meskipun sebenarnya area Museum Affandi ini cukup luas lho. Disebutkan kalau museum ini  luasnya sekitar 3500 persegi dengan beberapa buah bangunan utama yang dimanfaatkan sebagai galeri lukisan. Selain itu di bagian tengah terdapat sebuah kafe yang dinamakan dengan cafe loteng yang berbentuk rumah panggung. Di cafe ini pula saya menukarkan tiket yang sudah saya beli dengan softdrink gratis.

Cafe Loteng yang berada di Tengah Museum Affandi.

Cafe Loteng yang berada di Tengah Museum Affandi.

Suasana Cafe Loteng di Museum Affandi.

Suasana Cafe Loteng di Museum Affandi.

Tidak ada aturan harus memasuki ruangan yang mana dulu di museum ini. Semua ruang mempunyai koleksi menarik karya – karya Affandi. Namun yang paling menyenangkan adalah memulai secara berurutan dari galeri pertama. Ruang galeri I lebih banyak menampilkan lukisan retrospectives Affandi pada tahun 1930-1980, Galeri II lebih banyak menampilkan sketsa lukisan sang maestro, sementara galeri III lebih banyak menampilkan karya lukisan keluarga Affandi.

Dari ketiga galeri di Museum Affandi, saya paling suka galeri pertama dimana saya bisa menikmati karya – karya lukisan sang maestro dari awal dia melukis hingga akhir masa hidupnya. Sebagian besar lukisan di galeri I ini dilukis dengan menggunakan cat air, pastel ataupun cat minyak yang dilukis di atas kanvas. Di ruangan galeri I ini juga terdapat patung yang merupakan potret diri Affandi yang terbuat dari semen dan tanah liat.

Galeri pertama dengan beberapa koleksi Affandi.

Galeri pertama dengan beberapa koleksi Affandi.

Mobil dan sepeda kesayangan Affandi.

Mobil dan sepeda kesayangan Affandi.

Di beberapa sudut ruang galeri pertama juga terdapat benda kesukaan sang maestro Affandi. Salah satunya adalah sebuah mobil Colt Gallant tahun 1976. Mobil yang di pamerkan lebih mirip dengan mobil balap dari pada mobil yang dipakai sehari – hari. Mungkin kalau sang maestro masih hidup sekarang ini, dia pasti menggemari film Fast And Furious. Disebutkan juga kalau mobil yang dipamerkan di ruangan ini telah mengalami beberapa modifikasi. Sementara itu di dekat mobil tadi juga terdapat sepeda kesayangan sang maestro yang ikut dipamerkan.

Seharusnya saya berkunjung ke Museum Affandi dengan ditemani pemandu yang bisa menjelaskan esensi dari setiap karya Affandi. Namun saya tidak tahu apakah museum affandi ini terdapat guide yang bisa menemani pengunjung personal seperti saya. Karena guide biasanya hanya tersedia untuk pengunjung grup. Pun begitu menikmati karya affandi masih bisa dilakukan, karena hampir pada setiap karyanya tertulis keterangan yang menjelaskan di bawahnya.

Salah satu lukisan Affandi di galeri I yang saya suka, Mother Inside The Room.

Salah satu lukisan Affandi di galeri I yang saya suka, Mother Inside The Room.

Beranjak ke Galeri II, adalah tempat untuk ruang pameran lukisan yang dibuka pada tahun 1988. Bangunannya berupa dua lantai dimana ruangan pertama adalah untuk pameran, sementara lantai kedua adalah untuk menyimpan lukisan. Pengunjung hanya boleh menikmati lukisan yang ada di lantai pertama saja. Karena lantai kedua dipergunakan untuk menyimpan lukisan.

Galeri kedua ini juga digunakan sebagai pameran untuk koleksi lukisan sang maestro yang akan dijual. Namun tidak hanya itu saja, disebutkan kalau di ruangan ini juga terdapat karya pelukis terkenal yang lain. Misalnya karya Sudjojono, Hendra Gunawan, Barli, Mochtar Apin yang juga merupakan teman baik Affandi. Dibandingkan dengan galeri pertama, diruangan ini saya banyak melihat lukisan yang masih berupa sketsa di kertas.

Prambanan Relief Sketch di ruangan galeri II.

Prambanan Relief Sketch di ruangan galeri II.

Galeri III yang didirikan pada tahun 1997 dan diresmikan oleh Sri Sultan HB X ini adalah yang paling unik dari yang lainnya. Meskipun dibangun dengan ide dasar yang sama seperti bangunan yang lainnya, yaitu menggunakan bentuk garis melengkung dengan atap yang membentuk pelepah daun pisang.

Didekatnya pun terdapat sebuah menara pandang dimana saya bisa melihat secara langsung sungai Gajah Wong dengan gemericik airnya yang menenangkan. Memang suasana begitu nyaman di museum ini. Pantas saja Affandi meminta dimakamkan dikompleks museum setelah meninggal. Dia tidak ingin berada jauh dari karya dan rumahnya yang menyenangkan. Lokasi makam affandi sendiri berada diantara bangunan galeri pertama dan kedua.

Bangunan Galeri III ini mempunyai tiga lantai, dimana lantai pertama dipergunakan sebagai ruang pameran. Sementara lantai kedua dimanfaatkan untuk ruang perawatan atau perbaikan lukisan, dan ruang bawah tanah sebagai ruang penyimpanan lukisan. Di ruangan ini pula dipajang beberapa karya keluarga Affandi seperti Sulaman Maryati, lukisan Kartika dan juga lukisan Rukmini. Kalau sedang menikmati galeri ketiga ini, jangan lupa melihat video yang diputar disana. Karena bisa melihat rekaman ketika sang maestro yang sedang melukis di Bali.

Isi dari ruang galeri III museum.

Isi dari ruang galeri III museum.

Seorang seniman mungkin bisa mati, tetapi karyanya tetap selalu dikagumi. Di foto terlihat affandi sedang melukis di Pulau Bali.

Seorang seniman mungkin bisa mati, tetapi karyanya tetap selalu dikagumi. Di foto terlihat affandi sedang melukis di Pulau Bali.

Memang semua desain bangunan di Museum Affandi didesain dengan sangat unik. Bahkan rumah tinggal Affandi dan keluarganya pun berbentuk rumah panggung dengan konstruksi tiang penyangga utama dari beton. Sementara tiang-tiang kayu, dan atapnya dibuat dari bahan sirap yang membentuk seperti pelepah daun pisang. Bagian atas rumah panggung tadi merupakan kamar pribadi Affandi, sementara bagian bawah digunakan sebagai ruang duduk para tamu juga garasi mobil.

Dari semua bangunan yang ada di Museum Affandi, yang paling unik adalah sebuah gerobak besar yang ada di dekat Galeri ketiga. Karena ternyata gerobak tadi ternyata bukan gerobak biasa. Tetapi gerobak yang telah dimodifikasi menjadi sebuah kamar, lengkap dengan dapur dan kamar kecilnya. Tentu saja itu dibuat atas permintaan istri Affandi, Maryati.

Suasana museum dilihat dari ketinggian.

Suasana museum dilihat dari ketinggian.

Bangunan terakhir yang bisa saya nikmati di Museum Affandi adalah Studio Gajahwong. Sebuah studio yang dibangun pada bulan januari 2004. Nama studio diambil dari nama sungai yang mengalir di dekat Affandi Museum. Di dalam studio Gajahwong ini juga terdapat banyak lukisan menarik. Memang biasanya studio ini digunakan sebagai ruang pameran dan tempat lokakarya untuk beberapa seniman dan siswa Gajah Wong Studio. Beberapa lukisan yang dipamerkan di studio Gajahwong adalah karya Didit, cucu Affandi yang juga seorang pelukis. Kebetulan dia memiliki gaya melukis yang sama seperti kakeknya, yaitu gaya expresionism.

Dengan banyak koleksi lukisan yang menarik dan unik, Museum Affandi adalah salah satu destinasi yang menarik untuk para pecinta karya seni berupa lukisan. Bahkan untuk yang tidak bisa melukis seperti saya sekalipun, Museum Affandi bisa menginspirasi. Mungkin untuk yang lagi perlu sebuah inspirasi baru, bisa deh kalian main ke Yogyakarta dan berkunjung ke Museum Affandi.

Beberapa lukisan dan bagian dalam Studio Gajahwong.

Beberapa lukisan dan bagian dalam Studio Gajahwong.

 

Informasi Tentang Museum Affandi

Jam Buka :
Museum Affandi buka setiap hari mulai dari jam 09.00 – 16.00. Tutup pada hari libur nasional.

Harga Tiket Masuk :
Pengunjung (International) IDR. 50.000 [ Gratis soft drink & Souvenir]
Pengunjung (Local) IDR. 20.000 [Gratis soft drink]
Tiket Kamera IDR. 20.000
Smartphone (Hp) IDR. 10.000
Untuk anak umur 0-6 tahun gratis

Grup Tur :
Untuk kunjungan grup harus memesan terlebih dahulu diawal, untuk grup hingga 100 orang akan ada diskon khusus. Guide dan guru gratis masuk.
Lokasi Museum Affandi :
Jl. Laksda Adisucipto 167, Yogyakarta 55281, Indonesia (lihat peta museum affandi disini)
Phone: (0274) 562 593

Peta area Museum Affandi.

Peta area Museum Affandi.

Ps: Berlibur di Yogyakarta akan lebih effisien jika menginap di hotel yang berlokasi strategis, nyaman, dan pelayanannya ramah seperti di Hotel Gallery Prawirotaman. Berlokasi di derah Prawirotaman, banyak tempat menarik, kuliner enak dan pusat perbelanjaan berada dekat dengan Hotel Gallery Prawirotaman. Untuk mendapatkan diskon tambahan, pemesanan kamar bisa dilakukan disini.

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

Yang Banyak Dicari

42 Responses

  1. Ein says:

    Kalau ke Jogja tahunya cuma ke pantai, keraton, dan malioboro. Asik juga ternyata menikmati lukisan di museum :D

  2. Suka aku ama lukisan2 affandi, meskipun ngak ngerti ttg lukisan tapi kalo di liat itu cucok dan damai di hati #Halah

  3. Gara says:

    Hmm, Affandi akan tetap hidup, dalam lukisannya, dalam rumah dan lingkungannya, dalam museumnya, dan dalam ilmunya yang tetap berkembang di hati semua pelukis dan penikmat seni lukis Indonesia :)).
    Museum yang sangat inspiratif ya Mas, dengan napas seni dalam setiap langkahnya.

  4. Eh aku bukan bagian dari isi gallery juga loh ya –/

  5. Badai says:

    Wah, bisa dimasukin ke bucket list nih buat nanti trip ke Jogja. TFS! :)

    Itu mobil Colt Gallant-nya bisa dicoba test drive gak? #yakeuleus
    Atau setidaknya masuk dan duduk di dalamnya? ;)

  6. Penasaran sama musium ini. Muesti ben dolan Jogja kelupaan terus :|

  7. keren banget nih, ada pilihan eduwisata selain di benteng vredeburg ya

  8. kebangeten ni saya… orang jogja belum masuk museum affandi… makasih infonya mas.. berguna niii.. *_*

  9. nurri says:

    Wahhh, museumnya keren, nih. Karya-karya disana juga bnyak, yaa…

    Ehh, itu ada tiket kamera sama tiket HP? Jadi harus bayar? :o

  10. arip says:

    Haha, bener kata om Cumi tuh sebagai orang awam cuma bisa ngangguk-ngangguk, pura-pura bisa mengapresiasi. Padahal mah dalam hati, “apa-apaan ini?”

  11. Firman says:

    Rumah bisa dijadiin museum keren gitu. Jogjaaa!

  12. Baselo says:

    Oh kamera dan smartphone juga mesti bayar tiket toh.. Baru tahu, jarang wisata soalnya :D

  13. Wah, anak museum banget nih ceritanya haha.

  14. winny says:

    si putri lucu banget di dalam galery ahhaha

  15. Legend ! Pasti akan lebih menyenangkan kalau ada guide sih.
    Suasana nya humble dan low profile banget ya, seperti kepribadian Pak Affandi pastinya !

    Must visit !

    New Blog : Traveling Mudah dan Aman di Negara Baltic dengan Menggunakan Bus

  16. Lusi says:

    Heran, mengapa aku kok nggak kesini juga sik? Padahal anakku & keluarga dr pihak suamiku bakat melukis ekspresionis semua. Mungkin krn aku gak mudeng sendiri wkwkwkkk. Tapi bener tuh, tutup saja kalau libur nasional. Turis domestik yg terburu-buru tak akan bisa menghargai karya seni ini dg baik.

  17. Jefry Dewangga says:

    Affandi emang terkenal dengan lukisannya yang abstrak, :3 Tokoh ini saya pelajari di materi seni SMP dulu.

  18. bacathok says:

    haha keren gan!

  19. nindya says:

    yaampun pengen banget bisa kesana!!! terakhir kali pas nyoba kesana, taunya udah tutup akh… sakit hati ini~

  20. aqied says:

    iya sih kalo ada guide nya bakal lebih mantap. tp menurutku informasi di brosur nya ud cukup lengkap koq

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: