Rame – Rame Ke Gunung Tangkuban Perahu

Baru kali ini saya melihat puncak gunung ramainya hampir mengalahkan suasana pertandingan sepak bola. Entah saking terkenalnya si Gunung Tangkuban perahu, atau memang tiap peak season di gunung ini selalu dipadati oleh pelancong, traveler, backpacker dan turis seperti saya *sekarang lagi jadi turis nih ceritanya*.

Kunjungan saya ke Gunung Tangkuban Perahu ini dalam rangka mengisi edisi bukan mudik Jakarta – Bandung yang tanpa persiapan rencana, dan melengkapi kunjungan dua destinasi wisata berupa gunung di sekitar Bandung setelah Kawah Putih Ciwidey yang berada di selatan Kota Bandung.

Mumpung Libur, Ayo Rame – Rame Ke Gunung Tangkuban Perahu

Wow! Ramenya si Gunung Tangkuban Perahu!!

Wow! Ramenya si Gunung Tangkuban Perahu!!

(Baca Juga : Bukit Moko, Bandung Punya!)

Sudah pada tahu kan lokasi dari Gunung Tangkuban Perahu ini? Buat yang belum tahu, gunung yang satu ini gampang sekali di temukan kok. Apalagi kalau lagi cerah, gunung yang kata orang puncaknya mirip dengan perahu terbalik ini bisa terlihat dari kota Bandung.

Banyak yang tahu kalau lokasi dari gunung ini berada di Bandung, namun sebenarnya gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang. Yah, dimanapun lokasi pastinya, gunung ini hanya berjarak sekitar 20 Km dari kota Bandung.

Dalam kondisi lancar tanpa macet, seharusnya Gunung Tangkuban Perahu bisa dicapai dari Bandung dalam waktu kurang dari satu jam. Namun jangan harap bisa mencapai gunung ini dalam waktu kurang dari satu jam ketika peak season seperti kemarin.

Ketika musim liburan atau peak season, jalur Bandung – Lembang sebagai jalur utama menuju Gunung Tangkuban Perahu pasti akan dipenuhi oleh lautan mobil. Bahkan saya yang menggunakan sepeda motor memerlukan waktu hampir dua jam untuk menuju pintu masuknya.

(Baca Juga : Tebing Keraton Atau.. Tebing Karaton Sih!?)

Seperti ini, antrean di pintu masuknya!

Seperti ini, antrean di pintu masuknya!

Serunya lagi, ternyata enggak cuma di jalur menuju Gunung Tangkuban Perahu saja yang rame. Di jalur menuju puncak gunung dan di puncak gunung pun enggak mau kalah dengan ramainya pasar. Seumur – umur baru kali ini melihat puncak gunung yang tidak hanya dipenuhi oleh lautan manusia, tetapi juga dipenuhi dengan motor dan mobil yang di parkir. Mungkin karena di Gunung Tangkuban Perahu tidak diberlakukan peraturan mobil dan motor dilarang naik ke puncak seperti di Kawah Putih Ciwidey, jadinya semua beramai – ramai menuju puncak dengan kendaraan pribadi.

Sebenarnya yang rugi para traveler sendiri sih, karena nekat naik ke puncak dengan mobil, karena tempat parkir di puncak Gunung Tangkuban Perahu pasti terbatas. Jarak dari parkir bawah ke puncak yang seharusnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar setengah jam, jadi harus ditempuh ber-jam-jam karena nekat naik dengan mobil. Bahkan ketika saya turun dari puncak pada jam 17:00, dimana puncak sudah akan ditutup, antrian mobil yang naik pun masih mengular hingga ke parkiran bawah.

Oke, lupakan sejenak dengan para turis yang nekat naik ke puncak dengan menggunakan mobil tadi. Saya lebih tertarik dengan mitos terbentuknya si Gunung Tangkuban Perahu yang konon katanya hasil dari tendangan anak Dayang Sumbi yang bernama Sangkuriang. Berdasarkan mitosnya, gunung ini terbentuk karena si Sangkuriang murka setelah merasa di tipu oleh Dayang Sumbi, hingga dia menendang perahu yang telah dibuatnya sampai terbalik dan menjadi sebuah gunung. Eh, setelah diliat – liat lagi, kok gunungnya enggak keliatan kayak perahu ya? ada yang tahu kenapa? :D

(Baca Juga : Seru – Seruan Di Trans Studio Bandung Bareng Travel Blogger Internasional!)

Untuk destinasi berupa gunung, yang satu ini fasilitasnya cukup lengkap dan terawat. Malah menurut saya cenderung sangat bersih jika dibandingkan dengan destinasi di sekitar Bandung yang lain. Buat yang suka belanja pun juga ada tempat untuk beli oleh – oleh di sini. Uniknya tempat untuk beli oleh – oleh itu berada dekat sekali dengan kawah Gunung Tangkuban Perahu.

Hemm… sepertinya mereka tidak takut jika sewaktu waktu gunung meletus ketika sedang jualan ya! Yang suka sama kuliner juga enggak ketinggalan!! Terutama jangan sampai enggak nyobain minuman yang namanya bandrek ketika datang ke sini, karena rasanya bener – bener khas! Khas Gunung Tangkuban Perahu!

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

Yang Banyak Dicari

8 Responses

  1. Eh busyet … rame bener tuch tangkuban perahu

  2. wira says:

    Gunung yang nanjaknya aspal sampe puncak :))

  3. Salut sama tema n website punya kamu Bro.. Isinya juga mantap. Belajar aahh.. :D

    Tangkuban Perahu, I’m comiiingg…

  4. edwardseven says:

    recommended banget nih ke tangkuban, soalnya kampus ane pas di kaki gunung tangkuban parahu, dan temen2 kampus ane udah sering banget hiking kesini…

  1. September 6, 2013

    […] enggak kesasar lagi*. Bedanya, kali ini saya tidak datang dari arah Bandung, tetapi langsung dari Gunung Tangkuban Perahu dengan sepeda motor kesayangan saya. Terus bagaimana saya tahu arahnya? Gampang! Saya pakai […]

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

%d bloggers like this: