Jodoh Emang Nggak Bakal Kemana, Akhirnya Jadi Juga Lihat Autumn Di Mount Wilson, Australia

Sudah beberapa minggu, musim panas secara perlahan tapi pasti meninggalkan Australia bagian New South Wales. Sydney, salah satu kota besar di negara benua ini pun tak luput dari perubahan musim ini. Awalnya, saya kira kalau Sydney akan memasuki musim semi.

Tetapi saya lupa, kalau matahari sedang berada di belahan bumi utara. Disini, tak ada musim semi pada bulan-bulan ini (red: April), yang ada tak lama lagi suhu akan turun hingga satu digit. Iya, sekarang Sydney sedang berada pada musim gugur atau nama kerennya Autumn.

Senin itu, seluruh australia sedang merayakan Anzac Day. Itu artinya, seluruh Australia juga diliburkan. Tak ketinggalan, tempat kerja saya, Mondo Kitchen tempat meracik kue untuk para pelanggannya juga tutup. Biasanya, saya sudah punya rencana untuk kabur entah kemana. Namun kali ini saya tak punya rencana. Kalau tidak tidur atau bermain social media, saya hanya pasrah kemana angin akan membawa.

Sehari sebelumnya, saya trekking sejauh 10 KM ke Manly Beach, sekarang saya nggak punya rencana sama sekali. *bakal ditulis juga catatan perjalanannya, bareng antrian puluhan draft lainnya...*
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Sehari sebelumnya, saya trekking sejauh 10 KM ke Manly Beach, sekarang saya nggak punya rencana sama sekali. *bakal ditulis juga catatan perjalanannya, bareng antrian puluhan draft lainnya…*

Namun, tampaknya angin memaksa saya untuk beranjak dari kasur yang nyaman. Ada sebuah panggilan, masuk ke smartphone saya.

“tuut.. tuut…tuuut…””

Siapa ya telepon pagi-pagi gini? Sambil kemudian saya mengangkatnya.

“Halo…? Halo…?”

Saya mencoba menjawab telepon itu, tapi tak terdengar suara sedikitpun dari seberang. Saya kira, ada masalah dengan smartphone saya. Tetapi ternyata headphone masih terpasang di smartphone. Pantas saja, saya nggak bisa mendengar apa-apa dari speaker smartphone.

“Oiy, iya Vel? Ada apa?” Jawab saya, sembari menanyakan maksud panggilan ini.

“Lu jadi mau ikut ke Mount Wilson gak? Ada yang batal seorang nih.”

“Oh, oke! Tapi jemput gw ya, biar gak perlu ke airport. Nanti gw send location deh.” Jawab saya dengan setengah mengantuk.

Beberapa hari yang lalu, saya memang diajak untuk road trip ke Mount Wilson. Namun, saya masih ragu, karena sebenarnya saya pengen ke Anna Bay. Dan…, ketika saya mengiyakan untuk mau ikutan road trip ke Mount Wilson, ternyata seat saya sudah diambil orang.

Gue paling ganteng di road trip kali ini.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Gue paling ganteng di road trip kali ini. (Searah jarum jam : Saya, Velys, Vivi, Devi, Weni)

Tetapi, kayaknya Mount Wilson ini memang lagi pengen nongol di travel blog catperku. Hingga tiba-tiba saja ada satu orang yang nggak jadi berangkat, jadi akhirnya saya bisa menggantikannya. Seperti road trip yang lainnya, saya nggak pernah punya ekspektasi berlebihan. Saya lebih suka unsur kejutan dalam sebuah perjalanan. Saya cuma tahu, kalau Mount Wilson ini adalah salah satu tempat keren untuk menikmati suasana Autumn di Australia.

Nggak perlu menunggu terlalu lama, teman-teman road trip kali menjemput saya. Untungnya saya mandi nggak pake lama, lagian di Australia juga jarang keringetan kok :P. Mereka langsung menjemput saya, setelah mengambil dulu mobil sewaan di bandara. Setelah menghabiskan satu tegukan terakhir kopi di gelas, saya langsung keluar dari kediaman untuk melakukan perjalanan ke Mount Wilson.

Penampakan Mount Wilson versi wikipedia bikin penasaran sih.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Penampakan Mount Wilson versi wikipedia bikin penasaran sih (sumber).

Sebenarnya bisa dibilang ini bukan beneran road trip, karena hanya sehari saja. Definisi road trip buat saya, minimal jalan ya dua hari. Selain itu, Mount Wilson ini bisa dicapai dari Sydney dengan mobil hanya dalam waktu kurang dari 2 jam. Tentunya nggak pakai macet dan ribet, kecuali, nyari jalan keluar kota Sydney itu yang perlu ekstra hati-hati.

Bukan karena apa, tetapi kalau sampai melanggar peraturan lalu-lintas di Sydney, sudah bisa pastikan dendanya bisa buat liburan ke New Zealand. Jadi, lebih baik tidak melanggar aturan, biar nanti uangnya bisa ditabung buat ke New Zealand kan?

Mount Wilson ini juga nama dari sebuah desa yang juga masih berada di kawasan Blue Mountains, New South Wales, Australia. Sayangnya, nggak ada transportasi publik untuk menuju kesini. Cara paling gampang kesini ya nyetir mobil sendiri, entah memakai mobil sendiri atau sewaan seperti saya. Letak Mount Wilson ini berada sekitar 100 kilometer di arah barat Sydney, dan kata wikipedia, desa ini cuma punya populasi 218 orang! Kebayang nggak sepinya kayak apa?

Autumn is a second spring when every leaf is a flower. - Albert Camus
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Autumn is a second spring when every leaf is a flower. – Albert Camus

Tempat ini juga merupakan formasi pegunungan yang membentang sepanjang sekitar 5 Kilometer di bagian utara Bue Mountains. Tentu saja, Mount Wilson masih dikelilingi oleh Blue Mountains National Park, salah satu world heritage punya Australia. Sebenarnya, ini juga yang bikin saya betah disini. Kalau mau trekking ke National Park, tinggal naik kereta atau naik mobil, semudah itu.

Nggak pake bosan, saya pun kemudian sampai di Mount Wilson. Pemandangan langsung jauh berbeda dari Sydney CBD. Padahal ini hanya berjarak kurang dari dua jam perjalanan loh! Bukan hutan beton lagi memenuhi panca indera saya, tetapi hutan beneran bertebaran di kanan dan kiri jalan. Plus, warna-warni autumn yang bisa bikin meleleh.

“Breenhold Gardens, Open” Tulis di sebuah papan yang berada ditepi jalan. Mobil yang saya tumpangi pun kemudian berhenti, lalu menepi karena penasaran dengan keramaian di dekat tulisan. Memang, di Mount Wilson ini ada banyak kebun menarik yang merupakan daya tariknya. Mungkin, kebun yang ini juga salah satu tujuan wisata di Mount Wilson.

Banyak yang berhenti, kami juga ikutan berhenti karena penasaran.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Banyak yang berhenti, kami juga ikutan berhenti karena penasaran.

“Masuknya bayar berapa ya kira-kira?”

“Kayaknya sih nggak sampe 10 dolar.” celetuk salah seorang dari kami.

“Eh, apa nggak coba jalan dulu? Kali aja ada yang gratis dan lebih bagus”

Emang ya, dasar namanya lagi berjuang di negeri orang, nggak mau keluar duit banyak deh. Tetapi, bener juga, selama masih ada yang gratis, dan bagus kenapa harus bayar? Bener kan!? Sekonyong-konyong, kami kembali ke mobil untuk mencari yang gratis dan lebih bagus, meski sudah berada persis di depan pintu masuk Breenhold Garden.

Dan… ternyata, nggak perlu lama untuk membuat mobil yang saya tumpangi berhenti lagi. Semuanya langsung lupa dengan kata norak, ketika melihat beberapa pohon yang ada di tepi jalan daunnya berwarna merah cerah. “Serasa di luar negeri aja ya?” celetuk saya sebelum turun dari mobil. Well, sebenarnya saya memang sedang di luar negeri sih :P.

Memang benar, apa kata orang dan kata om google. Kalau mau liat Autumn yang cantik di Australia, main-mainlah ke Mount Wilson. Disini, mata akan dimanjakan dengan merahnya dedaunan, yang nggak bisa ditemukan di negara tropis seperti di kampung halaman saya, Indonesia.

Biarpun di tepi jalan, norak nggak boleh dilewatkan~
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Biarpun di tepi jalan, norak nggak boleh dilewatkan~

Nikmati selagi bisa, karena warna merah ini nggak bertahan terlalu lama. Ketika musim dingin menyapa Australia, dipastikan dedaunan yang cantik ini akan rontok serontok-rontoknya. Yep, sama seperti Musim Semi atau Spring di Jepang dengan Bunga Sakura cantik yang akhirnya juga berguguran, dedaunan cantik di Mount Wilson ini akan mengalami nasib yang sama.

Selain foto dengan latar belakang warna Autumn yang menawan di tepi jalan, tempat menarik di Mount Wilson ini ada banyak. Satu yang bikin saya mupeng pengen kesini lagi adalah, sebuah gereja dengan kuburan yang dikepung pepohonan khas Autumn, juga sebuah taman besar yang bisa digunakan untuk camping dan bakar-bakar barbeque. Sayangnya, kami nggak ada persiapan barbeque atau camping. Jadinya, hanya bisa foto-foto ala syahrini dan gigit jari sambil melihat yang lain asik bakar-bakar daging. *ngunyah daon yang berserakan aja*

Selamat datang di Mount Wilson, foto dulu biar nggak dibilang hoax.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Selamat datang di Mount Wilson, foto dulu biar nggak dibilang hoax.

Di taman ini bisa kemping, barbeque-an, seru-seruan~
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Di taman ini bisa kemping, barbeque-an, seru-seruan~

Ini padahal foto di kuburan loh, dibelakang gereja
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Ini padahal foto di kuburan loh, dibelakang gereja

Jadi, kecuali memang mau camping, Mount Wilson ini lebih cocok untuk one day trip, atau malah half day trip. Karena kalau cuma buat lihat suasana Autumn, dan foto-foto, 2-3 jam sudah lebih dari cukup. Sisanya, mungkin bisa dihabiskan untuk mengunjungi tempat wisata yang berada di dekat Mount Wilson.

Kemarin kami juga sempat mampir ke Mount Irvine, yang letaknya nggak jauh. Namun, ternyata nggak ada apa-apa di Mount Irvine. Kami hanya nyetir sampai ujung jalan, dan akhirnya putar balik karena ternyata tidak ada yang menarik dan perut sudah mulai kelaparan.

Nggak terlihat cafe atau tempat makan di jalanan utama Mt Wilson. Entah memang nggak ada, atau kami yang males nyari. Waktu sudah menunjukkan lewat jam makan siang, lebih baik turun dari Mount Wilson untuk cari makan, sambil mengunjungi destinasi lain yang nggak kalah menarik.

Sepanjang perjalanan pulang, ternyata jalan menuju ke Mount Wilson macet pake banget euy! Australia juga bisa macet ya, meski, nggak separah macetnya jalur ke Puncak di Bogor sih. Kami merasa beruntung datang lebih pagi ke sini. Nggak perlu stress kena macet, bisa foto-foto tanpa terganggu dengan keramaian. Nah, ada yang mau lihat warna Autumn Australia di Mount Wilson?

“The first condition of understanding a foreign country is to smell it.” – Rudyard Kipling And I smell nice autumn here, in Australia :)
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

“The first condition of understanding a foreign country is to smell it.” – Rudyard Kipling
And I smell nice autumn here, in Australia :)

Komentar Pembaca Adalah Bahan Bakar Semangat Saya Untuk Terus Menulis!

comments

Fahmi (catperku.com)

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di [email protected] Cepetan Ga pake lama ya!

You may also like...

24 Responses

  1. Goiq says:

    Ahh senangnya kumpul rame-rame di negeri orang

  2. ihh orennya bikin seger mata nih ^o^.. memang cocoklah utk foto2 ;).. Btw di sydney kalo winter, bisa sampe salju ga sih mas? ato cuma dingin aja?

  3. Wenisilviani says:

    Cewek2 nya chuantik ya.. Hahaha

  4. Yudi says:

    masya Allah.. Kereeeeeeeeenn ini awesome bang.. tapi tidak include rambutmu ya? :D

  5. Hastira says:

    aduh itu daun yg warna oranye kecoklatan , bagus banget

  6. cK says:

    Cantik banget pemandangannyaaaa! Aku suka banget musim gugur karena warna-warninya kereeeeen! Coba di Indonesia ada ya :))))

  7. ali shodiqin says:

    foto2nya bagus banget tuh… fotografernya handal ya itu?pakai dslr tuh jelasnya

  8. Kamu sudah mulai pikun yaaa kak, headphone masih di pasang tapi hallo2
    Itu tanda nya kamu kebanyakan piknik hua hua

  9. Dieng says:

    Wow, kereen. warna warni pohonnya bikin ngiler MAS…..

  10. sherly says:

    Mau coba ikutan staun disana. kaya nya seru. nanti aku kontak2 email boleh? eheheh

  11. Janto says:

    Wah pengen ikutannn, saya jg lg di sydney mas.

  12. mufti says:

    impian saya pengen banget nikmatin suasana auntum, sambil ngopi bareng anak dan istri, kayaknya enjoy ya

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

Pin It on Pinterest

%d bloggers like this: