Mengulas Mitos Dan Fakta Dari Seorang Travel Blogger

“Jadi Travel Blogger enak ya? Bisa jalan – jalan gratis!”

“Travel Blogger itu punya banyak duit ya? Jalan – jalan mulu?”

Sudah lama saya sering mendenger celotehan seperti diatas, entah di dunia maya atau kadang juga saya dengar secara langsung. Saya sih enggak masalah, jalan – jalan gratis emang enak kok.

Gara – gara hal itu juga saya menulis tentang Mitos Dan Fakta Seorang Travel Blogger ini berdasarkan pengalaman saya mulai dari pertama saya ngeblog hanya untuk catatan pribadi saja, hingga sekarang saya menjadi Travel Blogger yang ngantor untuk sebuah perusahaan online travel agent yang belum launching. *

Iya, belum launching, jadi jangan bahas lebih lanjut tentang ini ya :p

Puncaknya adalah ketika secara tidak sengaja menemukan tulisan “Wahai Blogger Bayaran, Tolong Perhatikan 3 Hal Ini“. Saya langsung teringat tema yang sudah lama saya pendam di pikiran ini. Anggap saja ini refreshing agar blog ini isinya nggak cuma pamer jalan – jalan saja. *eh, blog kan bikin buat pamer ya? Katanya sih ada yang bilang gitu*

Nah, sekarang saya akan mencoba mengulas beberapa mitos dan fakta terhadap seorang travel blogger menurut pandangan dan pengalaman saya pribadi. Mungkin untuk beberapa orang lain bisa berbeda, atau mungkin juga bisa sama. Yah, namanya manusia berbeda wajar kan? Simak dengan baik – baik ya :)

1. Tentang Memulai Menjadi Seorang Travel Blogger

Karya - karya penyemangat untuk terus menulis :)
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Karya – karya penyemangat untuk terus menulis :)

Mitos :

Banyak yang bilang, bikin Travel Blog itu Gampang, Tinggal nulis doang, terus bisa cepet dapat jalan – jalan gratis deh! *padahal nggak gratis juga aslinya*

Fakta :

Kalau membuat blog sendiri sih memang gampang, ada banyak tutorial yang bisa membantu membuat blog dengan mudah dan cepat. Menulis catatan perjalanan juga mudah kok sebenarnya, asalkan ada kemauan siapapun pasti bisa deh nulis.

Yang susah itu konsistensi menulis travel blog, membangun travel blog dengan perlahan tetapi pasti hingga travel blog yang dibuat bisa dilirik brand atau pihak pengiklan yang kemudian berpotensi untuk mengajak kerjasama. Tentu semua itu perlu waktu dan usaha yang tidak sebentar, nggak ada yang namanya travel blogger instan! (Baca Juga : Terus Menulis Di Travel Blog, Bahkan Ketika Sedang Tidak Traveling!)

Travel Blog catperku sendiri mulai dilirik untuk diajak kerjasama setelah umurnya lebih dari setahun, saya lupa jumlah tulisannya sudah ada berapa ketika itu, yang jelas hasil kerjasama pertama kali travel blog ini adalah buku The Traveler Notes : Bali The Island Of Beauty.

Setelah kerjasama itu, saya semakin semangat untuk belajar menulis lebih bagus lagi di travel blog ini. Saya mulai menemukan passion yang bisa membuat saya terhibur ketika sedang galau (dulu). Namun pada akhirnya saya terlalu menikmati hobi yang ini, hingga tak jarang saya menghabiskan waktu lebih dari 8 jam sehari, melek hingga jam 12 malam hanya untuk mengutak atik dan menulis konten di travel blog catperku.com.

Namanya juga passion, hobi, nggak ada yang bayar juga tetap dielus tiap hari~ Iya enggak?

2. Tentang Jalan Jalan Gratis

Bukan jalan - jalan gratis, tapi jalan - jalan yang dibayar pake menulis! Haha!
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Bukan jalan – jalan gratis, tapi jalan – jalan yang dibayar pake menulis! Haha!

Mitos :

Jadi Travel Blogger itu enak banget ya? Jalan – jalan gratis mulu!!

Fakta :

Yang saya percaya, kalaupun ada yang namanya gratis itu pasti asalnya dari Tuhan Yang Maha Esa, seperti udara yang kita hirup ini misalnya. Selain itu, pasti ada imbal baliknya deh! Apalagi kalau yang ngasih dari manusia, apalagi pihak pengiklan yang tujuannya ingin agar produknya banyak terlihat orang.

Belakangan ini memang saya kadang diajak oleh beberapa brand untuk mengeksplore suatu tempat dan beruntungnya beberapa disponsori mereka secara penuh. Tapi itu nggak gratis, karena saya harus menulis meski beberapa brand nggak secara tertulis mengharuskan saya untuk menulisnya.

Namun, sebagai seorang travel blogger yang baik, juga manusia yang mengerti tentang balas budi, tentu saya nggak bisa kalau nggak menulis kan? Apalagi jika saya benar – benar menikmati pengalaman yang menyenangkan selama perjalanan.

Sebenarnya saya bisa juga sih tidak menulisnya, tapi yaaa~ biasanya bakal cepet wassalam, saya akan secara perlahan ditinggalkan pengiklan karena menjadi travel blogger yang tidak tahu balas budi :P. Nggak usah travel blogger deh, manusia yang nggak tau balas budi biasanya diperlakukan kayak gimana?

Saya juga enggak terlalu setuju kalau dibilang gratis, tetapi saya lebih suka menyebutnya dengan jalan – jalan dibarter dengan menulis, atau jalan – jalan dibayar dengan menulis. Kan yang namanya pekerjaan nggak selalu harus dibayar dengan uang? Dibayar dengan pengalaman baru yang menarik saya juga sudah seneng :)

Selain itu, untuk mulai dilirik dan dapet sponsored trip itu juga nggak semudah membalik telapak tangan. Perlu sebuah konsistensi, dan usaha yang tidak sebentar. Mungkin ada beberapa orang yang melihat saya terlalu ngoyo atau terlalu ambisius. Eheee, ya biar saja, saya sih menikmati prosesnya~ saya ketagihan ngeblog malah!

3. Tentang Tulisan Berbayar

Contoh tawaran kerjasama yang biasanya saya tolak, atau saya balas dengan rate card.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Contoh tawaran kerjasama yang biasanya saya tolak, atau saya balas dengan rate card.

Mitos :

Enak ya, jadi travel blogger? Tinggal nulis beberapa ratus karakter aja bisa dibayar ratusan ribu, jutaan, atau bahkan puluhan juta.

Fakta :

Mengenai bayaran tulisan, sebenarnya nggak melulu ditawarin jutaan kok. Bahkan ada yang nawarin cuma puluhan ribu saja untuk sebuah tulisan. Tetapi biasanya pasti langsung saya bales dengan rate card, atau malah nggak saya bales sama sekali.

Bukannya jual mahal, tetapi daripada saya nulis dengan dongkol karena ngerasa nggak dihargai, mending saya nulis yang bermanfaat dengan gratis untuk pembaca setia, namun saya menulisnya dengan senang hati. Menulis memang gampang, tetapi menulis yang baik itu perlu proses pembelajaran yang panjang. Saya pun juga merasa kalau masih perlu belajar banyak tentang tulis menulis.

O iya, saya juga nggak asal menerima tulisan berbayar kalau tema atau caranya enggak sesuai dengan gaya tulisan saya. Dari pada nantinya malah merusak blog dengan konten yang tidak sesuai tema travel blog catperku? Jadinya agar kualitasnya tetap terjaga, saya harus agak memilih. Yang namanya rejeki mah sudah ada yang ngatur kan? Asal kerja keras.

Saya juga tetap rutin nulis meskipun nggak ada yang bayar. Kalau nulis di blog cuma karena ada yang bayar, nggak bakal ada konten baru dong di travel blog saya? Selain itu, kalau lama nggak nulis di tavel blog catperku, rasanya gimana gitu. Kayak ada yang kurang deh! Lagian, meskipun nulis di travel blog sekarang menjadi pekerjaan utama, tetap saja saya menganggap ini adalah hobi, yang kebetulan sekarang bisa menghidupi.

4. Travel Blog Hanya Perlu Menulis Bagus Saja Sudah Cukup

Buat travel blogger, menulis saja enggak cukup :)
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Buat travel blogger, menulis saja enggak cukup :)

Mitos :

Cuma nulis bagus saja, seorang travel blogger bisa sukses!

Fakta :

Bisa iya, bisa enggak sih. Karena beberapa travel blogger pioner sekelas Trinity, dan travel blogger yang bisa nulis keren seperti Agustinus Wibowo bisa dibilang menjadi sukses cuma karena nulis, nulis dan… nulis. Kalau saya, masih kurang pede cuma dengan cara itu saja.

Karena saya nggak pede dengan cuma nulis saja, jadi saya harus mencari suatu keunikan dan perbedaan travel blog saya dengan yang lain agar bisa terlihat dari tumpukan travel blog yang sudah banyak bertebaran di dunia maya. Kuncinya sih, bagaimana membuat sebuah travel blog unik dan berbeda, dari pengalaman saya, blog yang dilirik itu nggak melulu blog yang trafficnya rame! (Baca Juga : Cara Jadi Travel Blogger Itu Gimana Sih?)

Dulu saya membuat travel blog catperku menjadi travel blog dengan SEO yang sebaik mungkin, lalu saya juga belajar bagaimana membuat artikel bisa menjadi viral, juga mempelajari lebih dalam tentang digital marketing. Namun sekarang, saya malah sedang berusaha bisa menulis senatural mungkin, hingga tulisan yang saya tulis benar – benar representasi dari seorang saya, “fahmi catperku”.

Selain itu, networking dan offline marketing juga penting. Karena dengan kenal banyak orang, kesempatan travel blog saya dikenal akan semakin besar. Beberapa blogger yang saya kenal juga menjadi sukses karena mereka pandai dalam networking dan offline marketing. Memang biasanya, pihak sponsor akan lebih suka bertaruh dengan orang yang sudah dikenal, dari pada orang yang belum dikenal. Karena itu, untuk seorang travel blogger offline marketing dan networking nggak boleh dianggap remeh.

5. Tentang Alexa Rank

Mitos :

Makin bagus alexa rank, makin banyak job review atau sering diajak jalan gratis.

Fakta :

Memang ada beberapa agency luar melihat alexa rank untuk pertimbangan, bahkan ada beberapa agency luar yang meminta angka dari Alexa Rank untuk diperlihatkan ke klien. Iya si Alexa Rank ini adalah salah satu faktor pengukur dari eksistensi sebuah website selain beberapa yang lain seperti Klout, MOZ, Klear, segment market, engagement dan masih banyak lainnya.

Saya nyebutnya website ya, jadi nggak cuma travel blog saja! Pun tetap ada banyak pertimbangan lain dari pihak agency atau klien, seperti yang paling absurd adalah kecocokan sebuah travel blog terhadap kebutuhan klien. Nggak cocok, ya nggak bakal dipilih! Sesederhana itu!

Lantas Agency lokal bagaimana? Dari pengalaman saya, sepertinya mereka jarang melihat, atau bahkan mungkin malah nggak dilihat sama sekali? Entah lah, lebih jelasnya bisa baca tulisan ini kali ya “Wahai Blogger Bayaran, Tolong Perhatikan 3 Hal Ini“. Kecuali mereka mengincar optimisasi SEO, baru deh biasanya mereka menanyakan tentang alexa rank, Page Rank dan sebagainya.

Itu juga biasanya artikel dari mereka, dengan gaya yang agak aneh kalau saya paksakan publish disini. Seringnya sih malah ngerusak konsistensi kualitas konten konten yang ada. Namun secara umum, ada banyak faktor kenapa sebuah brand atau pengiklan memilih suatu travel blog.

Bisa demografis, loyal reader, keunikan blog, niche, dan bahkan offline networking (kenal). Beberapa brand bahkan nggak mau berspekulasi mempercayakan beberapa project untuk yang belum dikenal. Kasarnya sih… “Siapa loe, kenal aja belum, emang bisa dipercaya?”, Apalagi yang isi socmed atau blognya negatif mulu! Hehee!

6. Masa Depan Travel Blogger

Masa depan peker jaan sebagai travel blogger gimana?
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Masa depan peker jaan sebagai travel blogger gimana?

Mitos :

Travel Blogger bisa bertahan hidup dari nge-blog saja!

Fakta :

Bisa iya, bisa enggak. Di Indonesia saya nggak tahu ada berapa travel blogger yang full time, dan bisa hidup dari itu saya. Kalau saya sendiri sekarang adalah full time travel blogger dan copy writer, tetapi bukan freelance, namun ngantor untuk sebuah perusahaan.

Itu juga kerjaannya nggak nulis doang, tetapi banyak nyerempet ke pekerjaan beberapa orang sekaligus, dengan target sekian puluh ribu page views per bulan. Hasilnya, saya merangkap sebagai Travel Blogger, Digital Marketer, Social Media Manager, SEO, Copy Writer… etc etc… Hahaa!

Jangan tanya itu ngantor apa kerja rodi, karena yang mengejutkan, saya menikmatinya. Disini saya nggak cuma dapat duit saja, tetapi saya juga terpaksa untuk belajar beberapa ilmu baru yang belum pernah saya pelajari sebelumnya. Namun, dari pengalaman, saya percaya kalau pada suatu saat Travel Blogger akan bisa dianggap menjadi sebuah pekerjaan.

Kalau nggak salah, di luar negeri juga banyak travel blogger yang bisa bertahan hidup dari travel blog. Namun, sepengetahuan saya, mereka nggak cuma blogging dan nulis saja. Rata – rata mereka adalah freelancer pekerja keras yang bisa mengerjalan banyak hal. Mulai dari jualan e-book sendiri, menjadi seorang digital marketer, penulis buku, social media managet atau bahkan… jadi makelar blogger dan pitching banyak project.

7. Tentang Social Media

Saya menggunakan instagram untuk berbagi foto perjalanan secara live atau foto - foto lama yang tidak bisa dipublish di travel blog catperku.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Saya menggunakan Instagram untuk berbagi foto perjalanan secara live atau foto – foto lama yang tidak bisa dipublish di travel blog catperku.

Mitos :

Blogger Ngeblog Aja Dah Cukup, Nggak Perlu Mainan Social Media Segala!

Fakta :

Perlu dicatat, kekuatan atau daya tarik utama travel blogger memang pada tulisan di blog, namun menurut saya mempunyai social media yang bagus juga nggak ada salahnya. Menjadi sebuah nilai plus malahan. Bagaimanapun, saya percaya kalau social media ini akan sangat mendukung eksistensi sebuah travel blog di dunia maya.

Selain itu beberapa social media memang mempunyai fungsi uniknya masih masing untuk mendukung sebuah travel balog seperti yang pernah saya jabarkan dalam tulisan “7 Social Media Ini Sangat Berguna Untuk Para Travel Blogger“. Social media yang banyak saya gunakan sih Facebook untuk berbagi tulisan blog, Instagram untuk berbagi foto traveling saya, dan twitter untuk berbagi informasi secara instan ketika traveling atau pada suatu acara.

***

Nah, itulah Mitos Dan Fakta Dari Seorang Travel Blogger menurut saya. Daripada terus menghabiskan tenaga dengan bergumam “enak yaa..”, “asik yaa”, “iri yaa” dan lain – lainnya, kenapa kalian nggak mencoba mencari passion kalian di bidang apa dan mulai berkarya disitu.

Nggak harus jadi travel blogger, tetapi bisa dibidang lainnya, apapun itu. Asal kalian serius disitu, dan bahkan tetap mau mengerjakannya meski munggkin nggak dibayar, bisa jadi kalian nanti akan bisa sukses dengan passion kalian tadi!

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

Komentar Pembaca Adalah Bahan Bakar Semangat Saya Untuk Terus Menulis!

comments

Fahmi (catperku.com)

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di [email protected] Cepetan Ga pake lama ya!

You may also like...

45 Responses

  1. inspiring! tapi kalo mau jadi travel blogger beneran sekarang ga terlambat kan? terus… cara nulis dengan SEO yang baik gimana ya? apa perlu banci hestek?

  2. Jadi 1 artikel hanya di bayar 80 ribu ??? Aku lelah, ngak jadi blogger ngak masalah hahaha #PISSSSS

  3. Katerina says:

    Jadi travel blogger yuk. Travel blogger profesional ^_^

  4. Beban berat ya jadi travel blogger profesional? :D
    Saya rasa balik lagi ke blogger-nya kenapa mereka mulai nge-blog. Saya pribadi mulai nge-blog bukan untuk monetize atau menjadi alih profesi sebagai blogger, lebih untuk rajin menulis dan majang foto-foto. Jadi gak nyangka kalau bisa berkembang dalam 1.5 tahun ini.
    Ya pas dapat e-mail untuk bantu iklanin jasa perjalanan tertentu, saya malah pusing hahaha..emang dasar bukan jiwa pengusaha kayaknya. Tanggungjawab untuk memasarkan produk tertentu itu sangat berat menurut saya, gak bisa dianggap enteng.

  5. jadinya rate card kamu berapaan Mi ? ha ha ha

    * * *

  6. ya ampun, aku baru tahu alexa malah dari mas farchan hari ini, trus w.a mbak dita cara daftarnya.. hahahaha bener2 newbie ya :( dan gag tahu apa itu SEO

    tapi kalo mungkin punya waktu gitu pasti enak ya mas, bisa terima tawaran sana sini untuk kerjasamanya.. belajar SEO dll..

    yah kebetulan aja suka nulis tentang cerita perjalanan, tetapi dengan postingan ini saya belajar banyak mas..

    menginspirasi

  7. Evi says:

    Ah bookmark posting ini buat diulang-ulang bacanya. Saya sdh ngeblog 5 tahun, mulai lancar dapat jobnya ya 2015. Lama kali ya Kak..

    Dan benar, di dunia ini gak ada yg gratis. Kita dibayarin jalan-jalan, pulang ya harus balas budi lah…Lagian enak apa cuma ambil tanpa memberi? Saya sih ogah jadi travel blogger kayak gitu…

    Ayo ada agency yang mau biayain jalan-jalan saya? Hehehe…

  8. Gara says:

    Bagi saya, yang penting di sini saya bisa menulis, Mas. Itu saja sudah kebahagiaan yang besar sekali bagi saya, bisa bercerita di sini, bisa membaca cerita teman-teman semua (termasuk Mas) yang hebat-hebat sekali. Soal hal baik dan rezeki, saya yakin sudah diatur Yang Di Atas, saya cukup hanya berusaha sebaik yang saya bisa :hehe. Tapi saya setuju, di dunia ini tidak ada sesuatu yang bisa didapat dengan mudah. Butuh usaha yang tidak sedikit, saya pikir, untuk bisa berada dalam posisi seperti Mas sekarang (tentu saja :hehe). Namun tidak ada yang tidak mungkin jadi ketimbang ber-nyinyir kalau travel blogger begini dan begitu, lebih baik saya menulis sajalah :haha.

  9. Tetap semangat menebarkan semangat literasi! :)

  10. itu sebabnya saya nulis blog, demi berbagi cerita saja saat ini..
    soalnya sayang aja perjalanan udah belasan langkah tp gak ada bekasnya selain di memori..
    jadi mending berbagi dengan menulis dehh.. :)

  11. Rico Sinaga says:

    Ahhhh, baca ini tepat jam 12 malam, tadinya ngantuk malah buat penyemangat ini. Thank u kak :))

  12. Maya Siswadi says:

    jadi dua kali komen nih. kayaknya kudu ninggalin jejak

  13. Dita says:

    bener banget, gak ada yang gratis dan gak ada yang gampang. Semangat ya kak :D

  14. Lindaleenk says:

    Aku ga merhatiin alexa rank dll sih :))
    Nulis ya nulis aja, ikutan lomba ya ikutan aja #eh :))

  15. Sigit says:

    Lagi latihan jadi travel blogger, semoga besok ada yg ngelirik.

    Salam kenal dari Bali.

  16. alannobita says:

    catet kak :D
    mngkin ada bsk2 ada tulisan tips buat jawab pertanyaan2 di awal artikel itu

  17. Adie Riyanto says:

    Point 4 itu paling penting dipahami oleh banyak blogger. Di luar kemampuan menulis dan lain-lain, kemampuan menjual dan softskill itu penting banget. Apalagi attitude di dunia maya. Kadang-kadang orang sering lupa point ini karena sudah lebih dulu ketutup dengan rasa iri dan dengki. Jadi, ngebloglah sesuai dengan isi hati. Catatan yang menarik bro :)

  18. Dee An says:

    Suka ama tulisan ini.. Terutama yang bagian ini : Daripada terus menghabiskan tenaga dengan bergumam “enak yaa..”, “asik yaa”, “iri yaa” dan lain – lainnya, kenapa kalian nggak mencoba mencari passion kalian di bidang apa dan mulai berkarya disitu.

  19. Ardianzah says:

    Detail sekali penjelasannya, kadang menulis itu hal yang mudah, tapi kalo sudah nyangkut2 uang dan berbayar, malah jadi puyeng dan gak ngalir. hehe. mitos & faktanya sangat mengena sekali, nice post!

  20. Winny Tang says:

    Waww..mantap tipsnya. Konsistensi memang yang paling sulit yah mas. Biasa dalam seminggu idealnya pos berapa kali mas?

  21. Wahaha, aku pernah tuh terima klien yang tulisannya bikin kacau gaya dan standar blog. Akhirnya aku harus bikin satu tulisan baru dariku sendiri, dengan materiku. Klien juga nambah fee sedikit. Yowis, syukuri aja.

  22. BaRTZap says:

    Awalnya sih aku ngeblog karena untuk melawan lupa, nulis hal-hal yang pernah aku alami syukur-syukur bermanfaat buat orang lain, dan memang suka nulis aja dari dulu. Tapi makin kesini, memang merasa senang kalau tulisan bisa lebih luas eksposur nya, bisa lebih luas dapat masukan dan apresiasi, karena itu jadi semangat juga. Meskipun paham kalau ternyata silent reader itu banyak. Nah akhirnya mulai deh pengen memadamkan roaming tentang SEO, asli bahasa nya itu asing banget hahahaha …

    Terlepas dari menjadi travel blogger itu bisa mendapatkan beberapa keuntungan seperti jalan-jalan gratis dan lain-lainnya, buatku blog pribadi tetap merupakan wadah kreatifitas yang sebisa mungkin sih ya diisi sesuai jiwa kita. Dan aku secara pribadi lebih suka baca blog yang natural daripada terkesan banyak pesanan hehehe ..

    Thanks sudah berbagi melalui tulisan ini, bermanfaat banget Mi :-)

  23. kartika says:

    Jadi kepengen jg nih.. seru kayak nya

  24. Bryant says:

    Membaca tulisan ini seperti flashback ketika baru akan memutuskan menjadi Travel Blogger.
    Blog yang dulunya ‘gado-gado’ namun perlahan mulai dipenuhi dengan artikel bertopik Travel.

    Sekarang sih blog travel udah lumayan, minimal buat jajan gorengan cukuplah, hehe

    Thanks for share,

    Salam dari Manado

  25. Andik Top says:

    Susah emang kalau bahas, apabisa blogger traveler bisa dibawa hingga tua u,u huhu

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

Pin It on Pinterest

%d bloggers like this: