Cerita Papandayan : Hike The Summit!

Saya sampai di Pondok Salada pada pagi hari, setelah memulai pendakian dari pos awal pada jam 05.30 pagi. Pondok salada bisa dibilang sebuah basecamp untuk mendirikan tenda sebelum naik ke puncak yang lebih tinggi dan menikmati suasana Hutan Mati Gunung Papandayan

Pondok Salada terlihat dari ketinggian.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Pondok Salada terlihat dari ketinggian.

Konsekuensi berangkat sore hari di akhir minggu dari Jakarta adalah kurang tidur di sepanjang perjalanan yang selama kurang lebih 6 jam menuju Garut. Saya sendiri cuma bisa tidur sebentar di sepanjang jalan Tol Cipularang. Selebihnya saya selalu terjaga, bahkan tidak tidur sama sekali hingga Pondok Salada, Gunung Papandayan.

Karena saya tidak mau naik ke Tegal Alun ketika matahari sedang menyengat, langkah pertama yang saya dan teman -teman lakukan ketika sampai di Pondok Salada adalah cepat – cepat mendirikan tenda, sarapan pagi dan kemudian tidur~~ *zzzz… jauh – jauh kegunung malah tidur hahaaa*

Pondok Salada yang menjadi ramai menjelang siang
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Pondok Salada yang menjadi ramai menjelang siang

Sesuai rencana, saya beristirahat hingga matahari sudah sedikit turun, dan tidak terlalu panas lagi, sehingga lebih mudah mencapai tegal alun yang hanya 1-2 jam trekking dari tempat saya mendirikan tenda. Agak terkejut juga ketika terbangun ternyata Pondok Salada menjadi ramai.

Rasanya jadi lebih mirip persami (red: perkemahan sabtu – minggu) kalau Pondok Salada ramai seperti ini ^^. Saya enggak terlalu memusingkan hal itu, yang ada di pikiran saya adalah, saya ingin secepatnya naik ke Tegal Alun. Saya enggak ingin membuang waktu karena sudah Jam 2 siang.

Naik terlalu sore, kemungkinan besar saya bisa turun terlalu malam, dan itu bukan hal yang bagus untuk pendaki pemula seperti saya. Ber-navigasi di malam hari lebih sulit dari pada siang hari, apalagi kalau perlengkapannya kurang.

Saya tidak ingin naik membawa beban yang berat ketika naik, karena itu bekal utama saya hanya tripod, kamera dan dua air mineral 1,5 liter saja, yang lain saya tinggal didalam tenda. Setelah semua siap, saya dan kedua orang teman saya memulai pendakian dengan target sampai Tegal Alun atau puncak Gunung Papandayan jika sempat. Yah, ternyata semudah – mudahnya naik gunung, ternyata masih enggak terlalu mudah.

Selain itu, karena ini kunjungan kami yang pertama ke Gunung Papandayan, jadinya lumayan ribet terlebih dahulu sebelum menemukan jalur yang benar untuk naik sampai ke Tegal Alun. Bertanya kepada sesama pendaki yang lain pun kurang begitu berguna sih sebenarnya, karena rata – rata yang naik ke Papandayan adalah pendaki pemula juga.

Istilahnya, orang bingung tanya ke sesama orang bingung hahaaa. Memang kata teteh Ajeng seorang ranger yang kemudian saya temui di Tegal Alun, Gunung Papandayan adalah gunung yang bagus untuk latihan mendaki para pemula. Karena itu banyak pendaki pemula yang datang kesini, entah latiha orientasi atau sekedar kemping.

Nah, karena itu sebagai seorang pendaki pemula juga, saya mau mencoba berbagi gambaran peta lokasi Pondok Salada dan sekitarnya untuk mempermudah pengenalan lokasi. Daripada kebanyakan bingung seperti saya. Yah, meskipun peta ini mungkin sangat sederhana sekali, semoga bisa memberikan sedikit gambaran, dan enggak menghabiskan waktu terlalu banyak untuk menebak jalur naik ke Tegal Alun juga Hutan Mati Gunung Papandayan. *Semoga tidak bingung  :p*

Peta lokasi Pondok Salada dan letak jalur naik ke Tegal Alun.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest

Peta lokasi Pondok Salada dan letak jalur naik ke Tegal Alun.

Sedikit penjelasan tentang peta ini, ternyata ada dua jalur pendakian menuju Tegal Alun, pertama lewat Tanjakan Mamang (Mamang dalam bahasa sunda artinya setan) yang harus ke Hutan Mati terlebih dahulu, baru kemudian naik sampai Tegal Alun. Kedua, lewat tanjakan batu yang akhirnya saya sebut tanjakan ekstrim karena melewati jalur penuh bebatuan. Kedua jalur sama bikin capeknya, sama parah nanjaknya, bedanya kalau lewat tanjakan batu, sebelum sampai ke Tegal Alun akan melewati tengah tengah padang edelweis yang asik buat bernarsis ria :D. Karena itu saya lebih suka lewat tanjakan batu, sekalian buat melatih ketahanan stamina.

Hampir Tersesat Ketika Menuju Tegal Alun…

Puncak sebenarnya adalah target kami, sebelum Tegal Alun, karena itu saya dan kedua orang teman saya kurang yakin ketika menemui jalur menurun setelah tanjakan batu. Karena itu kami sempat memutar – mutar untuk mencari jalur yang benar menuju puncak Gunung Papandayan, yang seharusnya adalah jalur naik .

Setelah beberapa lama ternyata tetap saja enggak ketemu jalur naik, bahkan setelah bertemu dengan dua orang pendaki lain yang ternyata juga mencari puncak. Berputar – putar berapa kali pun percuma, altimeter saya hanya menunjukkan lokasi tertinggi 2602 mdpl, setelah itu hanya ada jalur menurun. Karena waktu semakin sore, jadilah kami mengambil jalur menurun yang ternyata adalah jalur menuju Tegal Alun yang terdapat banyak sekali tumbuhan edelweis.

Akhirnya Tegal Alun, Bertemu Ranger Papandayan, Dan Puncak Yang Masih Jauh

Enggak mau berputar terlalu lama di tengah hutan, pendakian terpaksa dilanjutkan melewati jalur yang cenderung menurun tadi, dan diujung jalur ternyata adalah dataran luas yang terdapat lebih banyak edelweis, namanya dikenal dengan Tegal Alun.

Di sana saya bertemu dengan ranger Gunung Papandayan yang sedang berkeliling untuk memberitau para pendaki agar segera turun ke Pondok Salada, karena hari sudah semakin sore. Gara – gara bertemu mereka juga saya jadi tahu kalau puncak Papandayan yang sebenarnya masih lumayan jauh, kira – kira masih perlu memutari satu bukit lagi. *langsung lemes*

Meskipun Tegal Alun lebih luas daripada Pondok Salada, tempatnya cenderung lebih sepi atau bahkan enggak ada satu tenda-pun berdiri disini. Kata teteh Ajeng salah seorang ranger yang saya temui, memang mendirikan tenda/kemping di Tegal Alun tidak diperbolehkan karena merupakan daerah konservasi dan agar tidak menjadi kotor seperti Pondok Salada.

Memang sih, saya juga melihat sendiri bagaimana kondisi Pondok Salada tempat saya mendirikan tenda. Bisa dibilang sampah banyak bertebaran dimana – mana, karena banyak yang membuangnya sembarangan. Padahal seharusnya sampah harus dibawa turun sendiri lho. *wajib*

Pun begitu, tidak bisa mendirikan tenda di Tegal Alun bukan berarti enggak bisa menikmatinya secara maksimal, mau lari – lari, foto – foto narsis atau sekedar menatap alam yang hijau juga boleh. Apalagi seperti saya yang sekarang tinggal di Jakarta, datang ke Tegal Alun itu bagaikan melihat oasis di Padang Pasir, sesuatu yang langka! Ada juga banyak bunga edelweis yang bisa dinikmati di tegal alun, tapi jangan di petik yah?  Saya pun kemarin juga cuma membawa pulang foto – fotonya aja. Selalu ingat yang satu ini “Take nothing but picture”.

Karena sudah lumayan sore, saya juga enggak berlama – lama di Tegal Alun, saya turun bersama dengan ranger yang saya temui tadi lewat Tanjakan Mamang. Saya penasaran dengan jalur Tanjakan Mamang yang diceritakan oleh mereka, dan ternyata jalur ini memang… wheew~~ turun aja sampai ngesot, apalagi kalau naiknya ya? Tanjakan Mamang juga bisa digunakan untuk naik ke Tegal Alun, ujung bawah tanjakan ini sendiri adalah Hutan mati Papandayan.

Serem juga yak kalau digabungin, Tanjakan Mamang (red:tanjakan setan) yang berujung di Hutan Mati (Hutan kematian). Tapi tenang saja, aslinya enggak serem – serem amat, yang ada malah bikin saya terkesima, saking cakepnya pemandangan sepanjang jalur yang saya lewati menuju basecamp Pondok Salada.

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

Komentar Pembaca Adalah Bahan Bakar Semangat Saya Untuk Terus Menulis!

comments

Fahmi (catperku.com)

Travel Blogger Indonesia, Travel Enthusiast, Backpacker, Geek Travel Blogger penulis catperku.com, Banyak ya? Satu lagi! Sekarang sedang belajar menulis. Punya mimpi keliling dunia dan pensiun menjadi seorang penulis. So sekarang lagi cari dana buat keliling dunia nih! Berminat membantu mewujudkan mimpi saya? Cepetan hubungi di [email protected] Cepetan Ga pake lama ya!

You may also like...

8 Responses

  1. Daku blm kesampaian nich sampai pondok selada, kapan lalu sampai hutan mati nya saja di kawah baru :(

  2. Lulul Tutut says:

    jadi rindu naik gunung :( edelweis memang istimewa, gak bisa dijumpai di dataran rendah. udah naik gunung mana aja mas?

  3. Fitra says:

    Izin berbagi cerita tentang papandayan Gan… Ternyata kita sama2 nyasar di punggungan yang sama :-)

  1. October 2, 2013

    […] Pondok Salada saya naik melalui Tanjakan Batu sampai ke Tegal Alun, yang kemudian saya bertemu dengan ranger Gunung Papandayan. Dari pertemuan itu saya mendapat […]

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar bermanfaat :)

Pin It on Pinterest

%d bloggers like this: